Ketika Islam Dipahami Hanya Sebagai Identitas
Jakarta|PPMIdonesia.com- Banyak orang memahami Islam hanya sebagai agama yang lahir pada abad ke-7 melalui Nabi Muhammad SAW. Islam dipersepsikan sebagai identitas komunitas, peradaban Arab, atau sistem keagamaan tertentu yang muncul dalam sejarah manusia.
Namun Al-Qur’an menghadirkan perspektif yang jauh lebih dalam.
Islam bukan dimulai dari Muhammad.
Islam bahkan bukan milik satu umat.
Menurut Al-Qur’an, Islam adalah agama seluruh nabi sejak awal penciptaan manusia.
Islam bukan pertama kali diajarkan di Makkah.
Islam telah hidup sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa
Islam Adalah Kepasrahan kepada Allah
Al-Qur’an menjelaskan makna Islam secara langsung melalui dialog Allah dengan Nabi Ibrahim:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Berserah dirilah! Ibrahim menjawab: Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-Baqarah: 131)
Kata aslim berarti berserah diri.
Di sinilah Al-Qur’an mendefinisikan Islam:
bukan label agama,
tetapi sikap eksistensial manusia di hadapan Tuhan.
Ibrahim tidak masuk Islam sebagai agama baru.
Ia menjadi Muslim karena berserah diri kepada Allah.
Nabi Nuh Juga Seorang Muslim
Jika Islam hanya agama Nabi Muhammad, mengapa Al-Qur’an menyebut nabi-nabi sebelumnya sebagai Muslim?
Tentang Nabi Nuh, Al-Qur’an menyatakan:
وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Aku diperintahkan agar termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim).”
(QS. Yunus: 72)
Nuh hidup ribuan tahun sebelum Nabi Muhammad.
Namun Al-Qur’an tetap menyebutnya Muslim.
Artinya, Islam bukan periode sejarah.
Islam adalah jalan spiritual para nabi.
Musa dan Bani Israil dalam Jalan Islam
Kepada kaumnya, Nabi Musa berkata:
يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ
“Wahai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah maka bertawakallah kepada-Nya jika kalian benar-benar orang-orang Muslim.”
(QS. Yunus: 84)
Ayat ini mengubah cara pandang kita.
Islam tidak lahir setelah Taurat.
Islam telah menjadi fondasi keimanan Musa dan pengikutnya.
Isa dan Para Hawariyyun Mengaku Muslim
Al-Qur’an bahkan mengabadikan pengakuan para pengikut Nabi Isa:
قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Para hawariyyun berkata: Kami adalah penolong agama Allah, kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 52)
Isa tidak mengajarkan agama baru yang terpisah dari para nabi sebelumnya.
Ia melanjutkan risalah tauhid yang sama.
Satu Risalah, Banyak Nabi
Metode Qur’an bil Qur’an memperlihatkan pola yang sangat konsisten:
- Ibrahim berserah diri.
- Nuh berserah diri.
- Musa berserah diri.
- Isa berserah diri.
- Muhammad berserah diri.
Semua nabi membawa satu pesan:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Ayat ini tidak sedang membicarakan identitas kelompok.
Ia berbicara tentang agama universal para nabi: kepasrahan total kepada Allah.
Mengapa Manusia Memecah Agama?
Jika agama para nabi satu, mengapa manusia terpecah menjadi banyak kelompok?
Al-Qur’an menjawab:
وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
“Mereka tidak berpecah belah kecuali setelah datang ilmu kepada mereka karena kedengkian di antara mereka.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Perpecahan bukan kehendak wahyu.
Perpecahan lahir dari ego manusia.
Dari identitas.
Dari fanatisme.
Dari klaim kebenaran eksklusif.
Nabi Muhammad: Penutup, Bukan Pemula
Al-Qur’an tidak menggambarkan Muhammad sebagai pendiri agama baru, tetapi sebagai penyambung mata rantai kenabian.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku telah memberi petunjuk kepadaku kepada jalan yang lurus, agama yang tegak, yaitu agama Ibrahim yang lurus.”
(QS. Al-An‘am: 161)
Muhammad tidak membawa agama baru.
Ia menghidupkan kembali agama Ibrahim.
Islam sebagai Jalan Kemanusiaan Universal
Ketika Islam dipahami sebagai jalan seluruh nabi, maka perspektif keberagamaan berubah:
Islam tidak menjadi tembok pemisah manusia.
Islam menjadi jembatan kemanusiaan.
Semua nabi berdiri di satu barisan tauhid.
Semua risalah menuju Tuhan yang sama.
Kembali kepada Islam Para Nabi
Kajian Syahida mengajak kita membaca Al-Qur’an tanpa sekat sejarah dan identitas.
Islam bukan milik suatu bangsa.
Islam bukan milik satu zaman.
Islam bukan monopoli kelompok.
Islam adalah perjalanan manusia menuju Rabbul ‘Alamin.
Seperti doa seluruh nabi:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Al-An‘am: 162-163)
Inilah Islam sebelum Islam.
Agama semua nabi.
Agama kepasrahan kepada Allah (syahida)



























