Pertanyaan yang Tidak Nyaman, Tetapi Perlu Diajukan
Jakarta|PPMIndonesia.com- Memasuki usia lebih dari empat dekade, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) menghadapi satu pertanyaan mendasar yang mungkin terasa tidak nyaman:
Apakah PPM masih dibutuhkan hari ini?
Pertanyaan ini bukan bentuk pesimisme. Justru sebaliknya—ia adalah tanda kedewasaan sebuah gerakan. Organisasi yang sehat selalu berani menguji relevansi dirinya terhadap perubahan zaman.
PPM lahir bukan sebagai organisasi formal semata, tetapi sebagai jawaban sejarah atas keterbatasan ruang partisipasi masyarakat pada awal 1980-an. Ketika ruang politik mahasiswa dibatasi, para aktivis memilih jalan lain: turun ke masyarakat, membangun pemberdayaan, dan menghadirkan perubahan melalui kerja nyata.
Dulu: Ketika PPM Menjadi Harapan
Pada masa awal, PPM hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan pendampingan:
- Petani kecil yang tidak memiliki akses pasar,
- Pedagang kecil yang kesulitan modal,
- Komunitas miskin kota yang terpinggirkan,
- Pesantren dan pemuda desa yang membutuhkan keterampilan hidup.
Gerakan dakwah bil hal menjadi identitas utama PPM. Tidak banyak wacana, tetapi banyak kerja nyata. Dari rahim PPM lahir aktivis sosial, politisi nasional, akademisi, pengusaha UMKM, hingga penggerak koperasi rakyat di berbagai daerah Indonesia.
PPM menjadi kawah candradimuka pemberdayaan masyarakat.
Hari Ini: Dunia Telah Berubah
Masyarakat kini hidup dalam realitas yang berbeda:
- Teknologi digital mengubah pola interaksi sosial,
- Ekonomi platform menggantikan model usaha tradisional,
- Generasi muda bergerak lebih cepat daripada organisasi,
- Solidaritas sosial sering kalah oleh individualisme dan budaya konsumtif.
Di tengah perubahan ini, sebagian orang mulai bertanya:
Apakah PPM masih relevan?
Jawabannya justru paradoksal.
PPM mungkin melemah sebagai organisasi, tetapi nilai yang diperjuangkannya justru semakin dibutuhkan.
Masalahnya Bukan pada PPM, Tetapi pada Kita
Realitas yang harus diakui bersama:
- Kaderisasi sempat terhenti dalam waktu panjang,
- Banyak program tidak berkelanjutan,
- Organisasi mengalami keterbatasan pembiayaan,
- Sebagian kader yang sukses tidak lagi kembali menguatkan rumah gerakan.
Padahal PPM tidak mengenal istilah alumni.
Dalam gerakan pemberdayaan masyarakat, seseorang tidak pernah “lulus”. Pengabdian sosial adalah proses sepanjang hayat.
Ironinya, banyak kader berhasil di dunia profesional, politik, dan usaha—namun organisasi yang dahulu membentuk mereka justru berjuang bertahan dengan sumber daya terbatas.
Ini bukan soal menyalahkan siapa pun. Ini adalah cermin kolektif.
Mengapa PPM Justru Semakin Dibutuhkan
Di era digital dan global, masyarakat menghadapi tantangan baru:
- Kesenjangan ekonomi yang semakin lebar,
- Krisis solidaritas sosial,
- Hilangnya ruang belajar kepemimpinan sosial,
- Melemahnya gerakan masyarakat sipil.
Negara tidak mungkin bekerja sendiri. Pasar juga tidak selalu adil.
Di sinilah organisasi masyarakat seperti PPM memiliki peran strategis:
✔ membangun kepemimpinan sosial
✔ memperkuat ekonomi rakyat
✔ menghidupkan kembali gotong royong
✔ menjadi ruang belajar lintas generasi
✔ menjaga nilai kemanusiaan di tengah modernitas
Dengan kata lain, yang perlu diperbarui bukan alasan keberadaan PPM, melainkan cara kerjanya.
PPM sebagai Rumah Bersama
Sejak awal, PPM berdiri di atas prinsip kesetaraan. Di dalam organisasi:
- Tidak dikenal hierarki sosial,
- Gelar akademik tidak ditonjolkan,
- Status ekonomi tidak menjadi ukuran,
- Semua dipanggil dengan sapaan persaudaraan: Mas, Mbak, Kang, Neng.
Budaya ini bukan sekadar tradisi, tetapi filosofi:
pemberdayaan masyarakat hanya mungkin lahir dari persaudaraan, bukan dari superioritas.
Nilai inilah yang justru langka di zaman sekarang.
Pertanyaan Sesungguhnya
Maka pertanyaannya berubah:
Bukan lagi apakah PPM masih dibutuhkan,
melainkan:apakah para kader masih membutuhkan PPM?
Jika kader kembali, PPM hidup.
Jika kader bergerak, PPM relevan.
Jika kader berkolaborasi, PPM akan menemukan masa depannya.
Penutup: Jawaban Ada pada Generasi PPM
Sejarah menunjukkan bahwa PPM tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari kegelisahan, keberanian, dan keikhlasan.
Hari ini, sejarah kembali mengetuk pintu.
PPM masih dibutuhkan—bukan karena masa lalunya, tetapi karena masa depan masyarakat Indonesia masih membutuhkan gerakan pemberdayaan yang jujur, inklusif, dan membumi.
Kini saatnya seluruh kader bertanya pada diri masing-masing:
Apakah kita masih bagian dari PPM, atau justru sedang membiarkan rumah perjuangan ini berjalan sendiri?
Karena masa depan PPM tidak ditentukan oleh struktur organisasi, melainkan oleh kesediaan kader untuk kembali berperanserta. (acank)



























