Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Tulus atau Terlihat Religius? Mengoreksi Cara Kita Beragama

5
×

Tulus atau Terlihat Religius? Mengoreksi Cara Kita Beragama

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Ada ironi yang diam-diam mengakar dalam kehidupan beragama kita: semakin banyak yang ingin tampak religius, tetapi tidak semakin banyak yang benar-benar taat. Kita membicarakan “yang lebih baik”, tetapi menunda melakukannya. Kita menambah standar kesalehan, tetapi gagal menjalaninya. Lalu, kita merasa sudah cukup. Di titik inilah ketulusan diuji: antara wahyu yang jelas dan persepsi yang kita bangun sendiri.

Ketika Agama Disempurnakan, Mengapa Kita Menambah?

Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa agama ini telah selesai, lengkap, dan tidak membutuhkan tambahan manusia:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu…” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Dan prinsip dasarnya jelas:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 185)

Namun dalam praktik, kita justru menciptakan standar-standar tambahan, lalu menganggapnya bagian dari kesalehan. Lebih jauh lagi, kita tidak benar-benar menjalankannya. Maka lahirlah satu bentuk keberagamaan yang unik: berat dalam wacana, kosong dalam amal.

“Lebih Baik”, Tapi Tidak Pernah Dilakukan

Ungkapan ini akrab: “itu sebenarnya lebih baik, tapi tidak wajib.” Masalahnya bukan pada kalimatnya, melainkan pada mentalitas di baliknya.

Jika benar sesuatu diyakini “lebih baik untuk akhirat”, mengapa tidak dilakukan?

Al-Qur’an memperingatkan:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَآءُ شَرَعُوا۟ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyariatkan bagi mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syura: 21)

Banyak “yang dianggap lebih baik” sebenarnya tidak pernah diperintahkan. Ia lahir dari persepsi, bukan wahyu—maka tidak memiliki daya dorong iman.

Kaffah yang Disalahpahami

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan…” (QS. Al-Baqarah: 208)

Kaffah bukan memperbanyak aturan, melainkan tidak memilih-milih dalam menaati yang diperintahkan. Ironisnya, sebagian orang lalai pada yang wajib, tetapi sibuk mendiskusikan yang tidak diwajibkan. Ini bukan kaffah—ini distraksi.

Simbol Mengalahkan Substansi

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa…” (QS. Al-Hujurat: 13)

Takwa tidak direduksi menjadi tampilan atau identitas kultural. Ketika simbol lebih dominan daripada substansi, agama berisiko berubah menjadi identitas sosial—bukan ketaatan spiritual.

Agama yang Dipersulit oleh Pemeluknya Sendiri

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dia tidak menjadikan kesempitan untukmu dalam agama…” (QS. Al-Hajj: 78)

Jika agama terasa berat, sering kali yang berat bukan ajarannya, melainkan konstruksi kita tentang ajaran. Kita memikul beban yang tidak pernah Allah perintahkan, lalu gagal menjalaninya.

Lingkaran Semu yang Melemahkan Iman

Menambah standar → terasa berat → ditinggalkan → merasa tidak cukup → kehilangan semangat.

Al-Qur’an memutusnya:

ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (QS. Al-A’raf: 3)

Bukan menambah. Bukan mengurangi. Mengikuti.

Tulus Itu Tegas: Dengar dan Taat

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Kami dengar dan kami taat.” (QS. An-Nur: 51)

Tidak ada tawar-menawar. Ketulusan tampak dalam kesederhanaan sikap ini.

Penegasan Metodologi: Kajian Syahida, Qur’an Menjelaskan Qur’an

Tulisan ini merupakan kajian syahida dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an: menjelaskan ayat dengan ayat lain yang saling menegaskan. Kesimpulan tidak dibangun dari opini lepas, melainkan dari keterkaitan ayat—tentang kesempurnaan agama (QS. Al-Ma’idah: 3), kemudahan (QS. Al-Baqarah: 185; QS. Al-Hajj: 78), larangan membuat syariat tanpa izin Allah (QS. Asy-Syura: 21), serta perintah berislam secara menyeluruh (QS. Al-Baqarah: 208). Dengan demikian, pesan yang hadir adalah hasil kesaksian antar-ayat, menjaga kemurnian makna dan menghindarkan pembacaan parsial.

 Berani Kembali ke yang Murni

Barangkali yang paling sulit hari ini bukan menjadi religius, tetapi menjadi tulus. Ketulusan menuntut keberanian: melepaskan standar buatan, mengakui kekeliruan, dan kembali pada Al-Qur’an tanpa tambahan.

Tulus beragama berarti berhenti “terlihat lebih baik” dan mulai benar-benar taat. (syahida)

Example 120x600