Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Islam Bukan Sekadar Praktik: Menggugat Keberagamaan Simbolik

4
×

Islam Bukan Sekadar Praktik: Menggugat Keberagamaan Simbolik

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Di era ketika simbol-simbol keislaman semakin mudah dikenali di ruang publik, muncul pertanyaan mendasar: apakah meningkatnya ekspresi religius ini sejalan dengan kedalaman pemahaman?

Atau justru Islam perlahan direduksi menjadi sekadar praktik lahiriah—tanpa kesadaran tauhid yang menjadi intinya? Tulisan ini mengajak membaca ulang keberagamaan kita melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, untuk menimbang antara simbol dan substansi.

Islam: Lebih dari Sekadar Praktik

Islam bukan sekadar serangkaian ritual, bukan pula identitas budaya yang diwariskan begitu saja. Ia adalah kesadaran mendalam tentang Allah yang melahirkan pengabdian total. Namun realitas menunjukkan, tidak sedikit umat yang memaknai agama sebatas apa yang tampak: gerakan ibadah, cara berpakaian, atau penggunaan istilah religius.

Al-Qur’an justru mengarahkan manusia untuk melampaui permukaan itu—menuju perenungan dan pemahaman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)

Ayat ini menegaskan bahwa inti keberagamaan adalah keterbukaan hati terhadap kebenaran, bukan sekadar aktivitas keagamaan yang berulang

Simbol yang Kehilangan Makna

Fenomena keberagamaan simbolik terjadi ketika bentuk lahiriah dianggap cukup mewakili iman. Padahal Al-Qur’an menolak reduksi semacam itu. Dalam konteks ibadah kurban, Allah menegaskan:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah (kurban) itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Pesan ini melampaui kurban. Ia menjadi prinsip universal bahwa Allah menilai substansi—yakni ketakwaan—bukan sekadar bentuk.

Dalam ayat lain, Al-Qur’an bahkan mengkritik keras mereka yang menjalankan ibadah tanpa kesadaran:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5)

Ini bukan kritik terhadap shalat, tetapi terhadap kehilangan makna di baliknya.

Tradisi Tanpa Pemahaman

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, Al-Qur’an berulang kali memperingatkan bahaya mengikuti tradisi tanpa pemahaman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Ayat ini menegaskan bahwa keberagamaan yang hanya bersandar pada warisan berisiko menjauh dari pesan asli wahyu. Islam menuntut kesadaran personal, bukan sekadar loyalitas kultural.

Misi Al-Qur’an: Membangun Kesadaran dan Menyucikan Jiwa

Al-Qur’an tidak hanya memberi aturan, tetapi juga membangun kesadaran tauhid dan menyucikan jiwa manusia:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ… يُزَكِّيهِمْ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka… yang menyucikan mereka.”
(QS. Al-Jumu’ah: 2)

Dalam kerangka ini, seluruh praktik keislaman seharusnya bermuara pada tazkiyah (penyucian jiwa). Tanpa itu, praktik hanya menjadi rutinitas kosong.

Al-Qur’an: Untuk Dipahami, Bukan Sekadar Dibaca

Banyak umat merasa cukup dengan membaca Al-Qur’an tanpa memahami maknanya. Padahal Al-Qur’an menegaskan dirinya sebagai petunjuk yang harus dipahami:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”
(QS. Shad: 29)

Membaca tanpa memahami berarti kehilangan tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an itu sendiri.

Dari Simbol Menuju Substansi

Menggugat keberagamaan simbolik bukan berarti menolak praktik, melainkan mengembalikannya pada makna. Ritual tetap penting, tetapi ia harus lahir dari kesadaran tauhid yang hidup.

Islam bukan sekadar apa yang tampak di permukaan. Ia adalah hubungan batin antara manusia dan Allah—yang tercermin dalam kesadaran, keikhlasan, dan ketakwaan.

Maka, pertanyaan yang layak kita renungkan hari ini:
apakah kita sedang menjalankan Islam, atau sekadar menjalani kebiasaan yang kita warisi? (syahida)

Catatan Redaksi
Tulisan ini merupakan bagian dari kajian tematik Qur’an bil Qur’an perspektif Syahida, yang menekankan metode memahami Al-Qur’an dengan menjelaskan ayat melalui ayat lainnya, guna membangun kesadaran tauhid yang utuh serta mengarahkan praktik keislaman dari sekadar simbol menuju substansi.

Example 120x600