Kembali kepada Tauhid sebagai Jalan Persatuan Umat
Ketika Identitas Menggantikan Iman
Jakarta|PPMIndonesia.com- Salah satu paradoks terbesar dunia Islam modern adalah kenyataan bahwa umat yang memiliki satu kitab suci justru terpecah dalam banyak identitas.
Perbedaan mazhab, organisasi, aliran pemikiran, hingga orientasi politik sering kali berubah menjadi garis pemisah spiritual. Islam tidak lagi dipahami sebagai jalan menuju Allah, tetapi sebagai identitas sosial yang harus dipertahankan.
Kajian Qur’an bil Qur’an mengajukan pertanyaan mendasar:
Apakah Al-Qur’an pernah memerintahkan umat membangun identitas keagamaan yang saling bermusuhan?
Tauhid: Identitas Tunggal Umat
Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa identitas utama Muslim bukan kelompok, melainkan tauhid.
إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
“Sesungguhnya umat ini adalah umatmu yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya [21]: 92)
Ayat ini menegaskan satu fakta penting:
Islam tidak mengenal identitas sektarian sebagai fondasi iman.
Yang ada hanyalah umat yang satu di bawah penghambaan kepada Allah.
Ketika identitas kelompok lebih kuat daripada tauhid, maka konflik menjadi tak terhindarkan.
Al-Qur’an Melarang Fanatisme Kelompok
Perang identitas sebenarnya telah diperingatkan Al-Qur’an jauh sebelum Islam mengalami perpecahan sejarah.
وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“Janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan; setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum [30]: 31–32)
Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, kemusyrikan tidak selalu berarti menyembah berhala fisik.
Ia bisa hadir dalam bentuk pengultusan kelompok, ketika loyalitas kepada golongan mengalahkan loyalitas kepada kebenaran.
Dari Perbedaan Menjadi Permusuhan
Perbedaan dalam Islam sebenarnya adalah sunnatullah.
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
“Sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat saja, tetapi mereka senantiasa berbeda-beda.”
(QS. Hud [11]: 118)
Perbedaan bukan masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan berubah menjadi:
- penghakiman iman,
- monopoli kebenaran,
- bahkan kekerasan atas nama agama.
- Di sinilah perang identitas lahir.
Standar Kemuliaan Menurut Al-Qur’an
Islam modern sering mengukur kebenaran berdasarkan afiliasi:
Sunni atau Syiah, tradisional atau reformis, konservatif atau progresif.
Al-Qur’an justru memutus seluruh ukuran tersebut:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Bukan identitas, bukan sejarah, bukan mazhab.
Taqwa adalah satu-satunya ukuran ilahi.
Mengembalikan Otoritas kepada Wahyu
Ketika umat berselisih, Al-Qur’an memberikan mekanisme penyelesaian yang sangat jelas:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa [4]: 59)
Mengembalikan kepada Allah berarti kembali kepada Al-Qur’an sebagai rujukan bersama.
Bukan kepada narasi sejarah yang diwarisi tanpa kritik.
Bukan kepada identitas yang diwariskan secara emosional.
Islam Modern dan Krisis Spiritualitas
Perang identitas di era digital justru semakin tajam:
- agama menjadi konten,
- dakwah menjadi kompetisi,
- perbedaan menjadi algoritma konflik.
Padahal misi Rasulullah ﷺ adalah membangun peradaban rahmat:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya [21]: 107)
Islam tidak diturunkan untuk memenangkan kelompok, tetapi untuk menyelamatkan manusia.
Perspektif Syahida: Jalan Keluar dari Perang Identitas
Kajian Syahida melihat bahwa konflik umat bukanlah konflik teologi, melainkan konflik kesadaran.
Umat terlalu lama mendefinisikan diri melalui:
- sejarah luka,
- loyalitas mazhab,
- dan memori konflik politik.
Padahal Al-Qur’an memanggil umat kepada identitas yang lebih tinggi:
هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ
“Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang Muslim.”
(QS. Al-Hajj [22]: 78)
Nama yang diberikan Allah hanyalah satu:
Muslim.
Bukan Sunni.
Bukan Syiah.
Bukan label ideologis apa pun.
Masa Depan Islam Setelah Identitas
Mengakhiri perang identitas bukan berarti menghapus perbedaan.
Ia berarti mengembalikan pusat agama kepada Allah.
Ketika umat kembali kepada Al-Qur’an:
- perbedaan menjadi kekayaan,
- dialog menggantikan permusuhan,
- dan Islam kembali menjadi rahmat dunia.
Perjalanan umat Islam modern bukan menuju kemenangan satu kelompok, melainkan menuju kedewasaan spiritual kolektif.
Karena pada akhirnya, yang akan ditanya Allah bukanlah identitas kita, tetapi amal dan ketakwaan kita.(syhida)



























