Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Menjebol Mentalitas Pasrah dalam Ekonomi Umat

5
×

Menjebol Mentalitas Pasrah dalam Ekonomi Umat

Share this article

Penulis: emha| Editor: asyary

Membangun Kesalehan Sosial Menuju Kemandirian dan Keadilan Ekonomi

Jakarta|PPMIndonesia.com- Di berbagai ruang sosial umat Islam hari ini, kita menemukan sebuah paradoks yang terus berulang: masyarakat religius tumbuh subur, rumah ibadah penuh, kegiatan keagamaan ramai, tetapi kemiskinan masih menjadi wajah keseharian sebagian besar umat.

Pertanyaannya bukan lagi apakah umat religius, melainkan: mengapa religiusitas belum melahirkan kemandirian ekonomi?

Pertanyaan inilah yang mengemuka dalam berbagai forum kaderisasi dan pelatihan pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) di berbagai daerah

Agama yang Aktif di Ritual, Pasif di Ekonomi

Selama beberapa dekade, agama lebih banyak hadir dalam wilayah moral individual—ibadah, akhlak pribadi, dan keselamatan akhirat. Namun, agama belum sepenuhnya dipahami sebagai energi transformasi sosial-ekonomi.

Akibatnya muncul apa yang oleh banyak aktivis pemberdayaan disebut sebagai mentalitas pasrah ekonomi:

  • kemiskinan dianggap takdir,
  • Keterbelakangan diterima sebagai ujian semata,
  • Ketimpangan dilihat sebagai realitas yang tidak perlu dilawan.

Padahal, Al-Qur’an justru menghadirkan manusia sebagai khalifah, yaitu subjek perubahan sejarah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan ekonomi bukan menunggu mukjizat, melainkan hasil kesadaran dan tindakan kolektif.

Kemiskinan Bukan Hanya Soal Uang

Menurut perspektif PPM, kemiskinan umat bukan semata persoalan kurangnya sumber daya, tetapi lebih dalam: kemiskinan paradigma.

Indonesia adalah negeri dengan kekayaan alam melimpah. Namun di banyak wilayah, masyarakat lokal justru menjadi penonton ketika sumber daya dikelola oleh kekuatan modal besar.

Yang terjadi bukan kekurangan peluang, melainkan hilangnya keberanian sosial untuk mengelola potensi sendiri.

Ketika mentalitas pasrah tumbuh, umat kehilangan tiga kekuatan utama:

  1. Daya inisiatif
  2. Daya organisasi
  3. Daya produksi

Agama akhirnya berhenti sebagai kekuatan pembebasan, dan hanya menjadi penghibur penderitaan.

Kritik terhadap Tafsir Keagamaan yang Tidak Membebaskan

Dalam banyak kasus, pesan keagamaan tentang zuhud dan kesederhanaan sering disalahpahami. Kekayaan dianggap berbahaya, bisnis dipandang duniawi, dan keberhasilan ekonomi dicurigai sebagai bentuk materialisme.

Padahal sejarah Islam justru menunjukkan sebaliknya.

Nabi Muhammad SAW adalah pedagang. Para sahabat adalah penggerak ekonomi. Peradaban Islam tumbuh melalui perdagangan, inovasi, dan jaringan produksi.

Masalahnya bukan agama, tetapi cara memahami agama.

Agama kehilangan daya sosial ketika:

  • Teologi berhenti pada teks,
  • Spiritualitas terpisah dari produktivitas,
  • Dakwah tidak menyentuh struktur ekonomi masyarakat.

Pendapat Tokoh

Dr. M. Dawam Rahardjo (Ekonom & Cendekiawan Muslim)

“Kemiskinan umat Islam bukan karena ajaran Islam, tetapi karena kegagalan umat menjadikan Islam sebagai etika pembangunan sosial dan ekonomi.”

Menurut Dawam Rahardjo, Islam memiliki perangkat moral ekonomi yang kuat—keadilan distribusi, larangan monopoli, dan solidaritas sosial—namun belum diinstitusionalisasikan secara nyata.

Prof. Komaruddin Hidayat (Cendekiawan Muslim)

“Kesalehan individual harus naik kelas menjadi kesalehan sosial. Agama tidak boleh berhenti pada ibadah personal, tetapi harus hadir dalam sistem kehidupan.”

Ia menegaskan bahwa religiusitas tanpa transformasi sosial hanya akan melahirkan masyarakat yang saleh secara simbolik, tetapi lemah secara struktural.

Dr. Amien Rais (Tokoh Reformasi)

“Kemiskinan adalah musuh kemanusiaan. Umat beriman tidak boleh pasrah terhadap ketidakadilan ekonomi.”

Bagi Amien Rais, spirit tauhid seharusnya melahirkan keberanian melawan sistem ekonomi yang menindas.

PPM dan Jalan Dakwah Pemberdayaan

PPM memandang dakwah tidak cukup hanya berupa ceramah, tetapi harus menjadi dakwah bil hal—dakwah melalui tindakan nyata.

Gerakan pemberdayaan masyarakat menjadi jalan untuk mengembalikan fungsi kekhalifahan manusia:

  • Membangun ekonomi komunitas,
  • Menguatkan koperasi rakyat,
  • Mengembangkan pertanian terpadu,
  • Menciptakan kemandirian desa,
  • Serta menghidupkan konsep Qaryah Thayyibah—desa yang baik, adil, dan berdaya.

Di sinilah agama kembali menemukan relevansinya sebagai kekuatan perubahan.

Menjebol Mentalitas Pasrah

Mentalitas pasrah tidak bisa dilawan hanya dengan teori. Ia harus dihancurkan melalui pengalaman keberdayaan.

Ketika masyarakat mulai: memproduksi, mengelola usaha bersama, mengakses pasar, dan membangun solidaritas ekonomi, maka rasa percaya diri sosial tumbuh kembali.

Maghfirah—dalam perspektif pemberdayaan—bukan hanya pengampunan dosa, tetapi keberanian meninggalkan paradigma lama yang melemahkan.

Menuju Umat Berdaya

Umat Islam tidak kekurangan iman. Yang sering kurang adalah sistem pemberdayaan.

Masa depan umat ditentukan bukan oleh seberapa sering berdebat tentang identitas, tetapi oleh seberapa kuat membangun kemandirian ekonomi.

Saat agama kembali menjadi energi kerja, ilmu, dan produksi—di situlah kesalehan menemukan makna sosialnya.

Dan mungkin, di titik itu pula, lingkaran panjang kemiskinan umat mulai retak.(emha)

Example 120x600