Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Di Balik Gaya Bahasa Al-Qur’an: Etika, Hikmah, dan Keadilan Gender

3
×

Di Balik Gaya Bahasa Al-Qur’an: Etika, Hikmah, dan Keadilan Gender

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Perdebatan tentang perempuan dalam Al-Qur’an hingga hari ini masih menjadi isu yang hangat diperbincangkan. Sebagian pihak memandang bahwa beberapa ayat Al-Qur’an tampak lebih banyak menyapa laki-laki dibanding perempuan. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menyimpulkan bahwa Al-Qur’an berpihak kepada budaya patriarki.

Namun benarkah demikian?

Jika Al-Qur’an dibaca secara parsial, tanpa memperhatikan konteks sejarah dan hubungan antar ayat, maka kesimpulan semacam itu mudah muncul. Padahal, melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an — yakni memahami Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri — tampak jelas bahwa pesan utama wahyu justru mengarah pada pemuliaan martabat manusia, termasuk perempuan, dengan strategi bahasa yang sangat kontekstual.

Al-Qur’an bukan sekadar teks normatif, tetapi wahyu yang hadir untuk mengubah realitas sosial secara bertahap, bijaksana, dan efektif.

Bahasa Wahyu dan Realitas Sosial Arab Abad ke-7

Ketika Al-Qur’an diturunkan, masyarakat Arab berada dalam budaya yang sangat patriarkal. Perempuan sering kehilangan hak dasar, tidak memiliki kedudukan sosial yang kuat, bahkan dalam beberapa tradisi jahiliah diperlakukan layaknya barang warisan.

Dalam konteks seperti ini, Al-Qur’an tidak datang dengan cara yang memutus seluruh struktur sosial secara mendadak, tetapi melakukan perubahan bertahap melalui pendekatan etis dan komunikatif yang efektif.

Karena laki-laki merupakan pemegang otoritas sosial saat itu, maka banyak ayat tentang perempuan justru diarahkan kepada laki-laki sebagai pihak yang harus dikoreksi.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagi kalian mewarisi perempuan dengan jalan paksa.” (QS. An-Nisā’ [4]: 19)

Ayat ini memperlihatkan bahwa Al-Qur’an sedang membongkar struktur ketidakadilan dari sumbernya. Yang ditegur bukan perempuan sebagai korban, tetapi laki-laki sebagai pelaku dominasi sosial.

Di sinilah terlihat bahwa gaya bahasa Al-Qur’an bukan sekadar pilihan linguistik, melainkan bagian dari strategi perubahan sosial.

Al-Qur’an Menggunakan Gaya yang Paling Efektif

Dalam sebagian ayat, Al-Qur’an berbicara kepada komunitas laki-laki. Namun dalam ayat lain, perempuan justru disapa secara langsung ketika pesan tersebut lebih tepat diterima oleh mereka.

Misalnya dalam persoalan menyusui:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

“Para ibu hendaklah menyusui anak-anak mereka selama dua tahun penuh…” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Ayat ini menunjukkan bahwa perempuan diposisikan sebagai subjek aktif yang memiliki peran dan otoritas dalam kehidupan keluarga.

Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak memakai satu model komunikasi yang kaku. Setiap gaya digunakan sesuai kebutuhan sosial dan tujuan moral yang ingin dicapai.

Kesetaraan Spiritual sebagai Prinsip Universal

Jika seluruh ayat tentang manusia dibaca secara utuh, Al-Qur’an sangat tegas dalam menempatkan laki-laki dan perempuan pada posisi spiritual yang setara.

Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

(QS. An-Nahl [16]: 97)

Dalam ayat lain disebutkan:

أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

“Aku tidak akan menyia-nyiakan amal siapa pun di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan; kalian satu sama lain.”

(QS. Āli ‘Imrān [3]: 195)

Ayat-ayat ini menjadi fondasi penting bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah tidak dibangun atas dasar jenis kelamin, melainkan iman, amal, dan ketakwaan.

Etika Al-Qur’an: Mengubah tanpa Menghancurkan

Salah satu keunikan Al-Qur’an adalah caranya mengubah masyarakat tanpa menciptakan kekacauan sosial yang destruktif. Perubahan dilakukan secara bertahap, tetapi dengan arah yang sangat jelas.

Al-Qur’an sendiri menegaskan:

إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ ۝ وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman pemisah, dan ia bukanlah senda gurau.”

(QS. Ath-Thāriq [86]: 13–14)

Artinya, setiap pilihan bahasa dalam Al-Qur’an memiliki tujuan etis dan sosial. Tidak ada satu kata pun yang hadir tanpa hikmah.

Dalam konteks perempuan, Al-Qur’an sedang menggeser masyarakat dari budaya dominasi menuju budaya kemitraan dan tanggung jawab bersama.

Membaca Al-Qur’an Secara Adil

Kesalahan terbesar dalam memahami ayat-ayat perempuan adalah membaca teks tanpa memahami konteks. Sebaliknya, ada pula yang terlalu menekankan konteks hingga menghilangkan universalitas pesan wahyu.

Padahal Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan: memahami realitas sejarah, namun tetap menjaga nilai moral universalnya.

Karena itu, pendekatan Qur’an bil Qur’an menjadi sangat penting. Dengan membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri, pembaca dapat melihat bahwa pesan besar wahyu adalah keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Penutup

Di balik gaya bahasa Al-Qur’an terdapat etika, hikmah, dan strategi perubahan sosial yang sangat mendalam. Ayat-ayat tentang perempuan bukanlah legitimasi ketimpangan gender, melainkan bagian dari proses pembebasan manusia dari budaya jahiliah menuju peradaban yang lebih adil.

Al-Qur’an berbicara sesuai konteks masyarakatnya, tetapi membawa nilai yang melampaui zaman. Karena itu, memahami Al-Qur’an secara utuh menuntut pembacaan yang adil, kontekstual, dan tidak terjebak pada kesimpulan parsial.

Pada akhirnya, pesan utama Al-Qur’an tetap sama: memuliakan manusia, laki-laki maupun perempuan, sebagai hamba Allah yang setara dalam tanggung jawab moral dan spiritual. (syahida)

 

Example 120x600