Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

PPM: Sekolah Kehidupan yang Harus Dihidupkan Kembali

2
×

PPM: Sekolah Kehidupan yang Harus Dihidupkan Kembali

Share this article

Penulis: emha| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Di tengah dunia yang bergerak cepat, organisasi sering terjebak menjadi sekadar lembaga administratif. Program berjalan, rapat rutin terlaksana, laporan tersusun rapi—namun ruh gerakan perlahan memudar.

Padahal sejak kelahirannya, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) tidak pernah dimaksudkan hanya sebagai organisasi.

PPM adalah sekolah kehidupan.

Dan hari ini, sekolah itu harus dihidupkan kembali.

PPM Bukan Sekadar Organisasi

Banyak orang mengenal organisasi melalui struktur: ketua, sekretaris, program kerja, agenda tahunan.

Namun PPM lahir dari kesadaran yang berbeda. Ia tumbuh dari pengalaman panjang gerakan masyarakat sipil yang percaya bahwa perubahan sosial tidak dimulai dari kebijakan, tetapi dari manusia yang sadar.

Di dalam PPM, kader belajar: memahami masyarakat, hidup bersama rakyat, bekerja tanpa sorotan, serta memaknai pengabdian sebagai jalan hidup.

Karena itu PPM sesungguhnya bukan ruang jabatan, melainkan ruang pembentukan manusia.

Sekolah Kehidupan: Makna yang Terlupakan

Dulu, kader PPM ditempa melalui pengalaman nyata: riset aksi partisipatif di desa, pendampingan komunitas, penguatan ekonomi rakyat, dialog lintas kelompok, dan kerja sosial berbasis nilai.

Belajar tidak selalu di ruang kelas.

Belajar terjadi di sawah, pasar rakyat, kampung nelayan, dan ruang musyawarah warga.

Di situlah kader memahami bahwa:

masyarakat bukan objek pembangunan, tetapi subjek perubahan.

Namun perubahan zaman membawa tantangan baru. Modernisasi organisasi kadang tanpa sadar menggeser PPM menjadi lebih administratif daripada edukatif.

Akibatnya, fungsi PPM sebagai sekolah kehidupan mulai melemah.

Mengapa PPM Harus Dihidupkan Kembali sebagai Sekolah Kehidupan?

1. Krisis Kepemimpinan Sosial

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan pemimpin yang memahami rakyat.

Sekolah formal menghasilkan profesional.
Tetapi gerakan sosial melahirkan pemimpin berjiwa pelayanan.

PPM memiliki tradisi itu.

Dan tradisi tersebut harus dihidupkan kembali.

2. Generasi Baru Membutuhkan Ruang Pembelajaran Nyata

Generasi muda hidup di era digital yang cepat tetapi sering dangkal secara pengalaman sosial.

PPM dapat menjadi ruang belajar alternatif: belajar empati, belajar kepemimpinan kolektif, belajar hidup bersama masyarakat, belajar memecahkan persoalan nyata.

PPM bukan tempat mencari posisi, melainkan tempat menemukan panggilan hidup.

3. Gerakan Tanpa Pendidikan Akan Kehilangan Arah

Organisasi yang berhenti mendidik kader akan bergantung pada individu tertentu.

Sebaliknya, organisasi yang menjadi sekolah akan selalu melahirkan generasi baru.

Keberlanjutan PPM tidak ditentukan oleh struktur, tetapi oleh proses kaderisasi kehidupan.

Menghidupkan Kembali Spirit Sekolah Kehidupan

Menghidupkan PPM sebagai sekolah kehidupan bukan berarti kembali ke masa lalu secara romantik.

Justru sebaliknya—menghidupkan nilai lama dengan pendekatan zaman baru.

Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan:

1. Menguatkan Kaderisasi Berbasis Praktik

Kader tidak cukup mengikuti pelatihan teori.
Mereka harus: tinggal di komunitas, melakukan pendampingan sosial, mengembangkan ekonomi rakyat, memimpin proses perubahan nyata.

Belajar dengan melakukan.

2. Menjadikan Pengalaman Lapangan sebagai Kurikulum

PPM perlu memiliki “kurikulum kehidupan”: pengalaman sosial, refleksi nilai, praktik kepemimpinan, kerja kolektif lintas wilayah.

Kader PPM harus dikenal bukan karena sertifikatnya, tetapi karena jejak pengabdiannya.

3. Mengintegrasikan Spirit Lama dengan Teknologi Baru

Sekolah kehidupan PPM masa depan harus mampu: membangun jaringan pembelajaran digital, berbagi praktik baik antar wilayah, menghubungkan komunitas desa dan kota, menciptakan ekosistem pengetahuan gerakan.

Teknologi menjadi alat, bukan tujuan.

PPM sebagai Ruang Pembentukan Manusia Berdaya

Pada akhirnya, keberhasilan PPM tidak diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari pertanyaan sederhana:

➡️ Berapa banyak manusia yang berubah karena PPM?
➡️ Berapa banyak kader yang menemukan makna hidup melalui pengabdian?
➡️ Berapa banyak komunitas yang bangkit karena proses belajar bersama?

Jika PPM mampu menjawab pertanyaan itu, maka ia tetap relevan di masa depan.

Karena gerakan besar selalu bertahan bukan karena struktur kuat, tetapi karena manusia yang terus belajar dan bertumbuh di dalamnya.

 Menghidupkan Api yang Pernah Menyala

PPM pernah menjadi sekolah kehidupan bagi banyak penggerak masyarakat Indonesia.

Kini waktunya menghidupkan kembali api itu.

Bukan sekadar menjaga organisasi tetap ada, tetapi memastikan PPM tetap menjadi: ruang pembelajaran, rumah kaderisasi, laboratorium perubahan sosial, dan jalan pengabdian bagi generasi baru.

Sebab ketika PPM kembali menjadi sekolah kehidupan, maka gerakan ini tidak hanya bertahan.

Ia akan terus melahirkan harapan.

PPM bukan hanya organisasi.
PPM adalah proses menjadi manusia yang berguna bagi sesama (emha)

Example 120x600