Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Kitabullah sebagai Titik Temu yang Terlupakan

66
×

Kitabullah sebagai Titik Temu yang Terlupakan

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Di tengah semangat keberagamaan yang terus tumbuh, umat Islam justru sering terjebak dalam perpecahan yang melelahkan. Perbedaan organisasi, mazhab, kelompok, bahkan cara beribadah kerap menjadi alasan untuk saling menjauh. Ironisnya, semua mengaku kembali kepada Islam, tetapi sering lupa pada titik temu yang paling mendasar: Kitabullah.

Padahal, Al-Qur’an diturunkan bukan untuk memecah manusia, melainkan untuk menjadi petunjuk yang menyatukan.

Tulisan ini mencoba membaca kembali posisi Al-Qur’an melalui pendekatan Al-Qur’an bil Qur’an (kajian syahida), agar tampak bahwa Kitabullah sejatinya adalah pusat persatuan umat yang mulai terlupakan.

Al-Qur’an: Petunjuk bagi Manusia

Allah menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)

Al-Qur’an tidak diperkenalkan sebagai simbol kelompok tertentu, tetapi sebagai petunjuk hidup bagi manusia. Ia hadir untuk mengarahkan manusia menuju jalan yang lurus.

Perintah Berpegang Teguh pada Kitabullah

Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat agar bersatu:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai…”
(QS. Ali ‘Imran: 103)

Para mufasir menjelaskan bahwa hablullah (tali Allah) merujuk pada wahyu Allah, yaitu Al-Qur’an. Artinya, titik temu umat sejatinya bukan identitas kelompok, melainkan Kitabullah.

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Al-Qur’an dibaca, tetapi tidak selalu dijadikan pusat orientasi bersama. Umat lebih mudah bersatu atas nama golongan dibandingkan atas nama nilai-nilai Al-Qur’an.

Peringatan terhadap Perpecahan

Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap perpecahan agama:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۝ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.”
(QS. Ar-Rum: 31–32)

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi umat hari ini. Ketika fanatisme kelompok lebih dominan daripada semangat mencari kebenaran, maka agama berpotensi berubah menjadi identitas, bukan petunjuk.

Kitabullah sebagai Ukuran Kebenaran

Al-Qur’an menempatkan dirinya sebagai standar untuk menilai segala sesuatu:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya.”
(QS. An-Nisa: 82)

Ayat ini mengajarkan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dengan sikap tadabbur—merenungi, memahami, dan menjadikannya rujukan utama.

Karena itu, persatuan umat tidak mungkin dibangun hanya di atas kesamaan simbol atau slogan, tetapi harus bertumpu pada kesediaan bersama untuk menjadikan Kitabullah sebagai pedoman.

Jalan Lurus yang Sama

Al-Qur’an menjelaskan bahwa seluruh nabi membawa jalan yang sama:

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا
“Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus…”
(QS. Al-An’am: 161)

Jalan lurus itu bukan milik kelompok tertentu. Ia adalah jalan tauhid, keadilan, dan kebenaran yang diajarkan sejak Nabi Ibrahim hingga disempurnakan melalui risalah Nabi Muhammad.

Ketika Al-Qur’an Hanya Menjadi Bacaan

Salah satu problem terbesar umat hari ini mungkin bukan karena meninggalkan Al-Qur’an secara fisik, tetapi karena menjadikannya sekadar bacaan seremonial.

Ayat dibaca dengan indah, tetapi belum tentu dijadikan dasar berpikir dan bertindak. Al-Qur’an dihormati, tetapi belum sepenuhnya dihidupkan dalam kehidupan sosial.

Padahal Allah menegaskan:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra: 9)

Mengembalikan Al-Qur’an ke Pusat Kehidupan

Mengembalikan Kitabullah sebagai titik temu berarti menempatkan Al-Qur’an di atas kepentingan golongan, fanatisme, dan ego kelompok.

Ia berarti membangun budaya dialog, tadabbur, dan pencarian kebenaran bersama. Bukan untuk menyeragamkan seluruh perbedaan, tetapi untuk memastikan bahwa perbedaan tidak menghilangkan persaudaraan.

Penutup

Kitabullah sejatinya adalah titik temu yang paling kokoh bagi umat Islam. Ia melampaui batas mazhab, organisasi, dan kelompok.

Maka, di tengah dunia Islam yang sering terpecah oleh identitas, sudah saatnya umat kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi bersama.

Karena ketika Kitabullah benar-benar dihidupkan, yang lahir bukan hanya kesalehan individual, tetapi juga persatuan dan peradaban.(syahida)

Example 120x600