Scroll untuk baca artikel
Editorial

PPM Tidak Kekurangan Kader, Hanya Kekurangan Kepulangan

9
×

PPM Tidak Kekurangan Kader, Hanya Kekurangan Kepulangan

Share this article

Editorial PPMIndonesia.com| Editor: asyary

EDITORIAL


“Organisasi yang besar bukan diukur dari banyaknya nama dalam daftar anggota, tetapi dari kemampuannya menghadirkan kembali orang-orang yang pernah dibentuknya untuk melanjutkan perjuangan.”


Bukan Krisis Kader, tetapi Krisis Perjumpaan

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Ada anggapan yang sering muncul ketika sebuah organisasi mulai tampak lengang: organisasi itu kekurangan kader. Namun, benarkah demikian yang sedang dialami Pusat Peranserta Masyarakat (PPM)?

Jawabannya mungkin justru sebaliknya.

PPM tidak pernah benar-benar kekurangan kader. Selama lebih dari empat dekade perjalanan gerakannya, PPM telah melahirkan banyak aktivis yang kini mengabdi di berbagai bidang kehidupan. Ada yang menjadi akademisi, birokrat, pengusaha, pendamping masyarakat, tokoh agama, aktivis sosial, hingga pemimpin lembaga publik.

Mereka tersebar di berbagai daerah, membawa nilai-nilai yang pernah dipelajari di PPM: partisipasi, pemberdayaan, gotong royong, dan pengabdian kepada masyarakat.

Yang sesungguhnya dirasakan PPM hari ini bukanlah hilangnya kader, melainkan berkurangnya ruang perjumpaan dan semangat untuk kembali berkumpul.

Banyak kader masih menyimpan rasa memiliki terhadap PPM. Namun perjalanan hidup, kesibukan, tuntutan profesi, dan dinamika zaman membuat mereka semakin jarang bertemu dengan rumah gerakannya.

Karena itu, tantangan terbesar PPM bukan hanya merekrut anggota baru, tetapi menghidupkan kembali semangat kepulangan.

PPM Adalah Rumah, Bukan Sekadar Organisasi

PPM sejak awal tidak dibangun hanya sebagai wadah administratif. Ia lahir sebagai gerakan sosial yang bertumpu pada keyakinan bahwa masyarakat harus menjadi pelaku utama pembangunan.

Lebih dari itu, PPM adalah sekolah kehidupan.

Di dalamnya, seseorang belajar mendengar suara masyarakat, memahami persoalan desa, mengorganisasi komunitas, membangun kepemimpinan, dan mengubah gagasan menjadi tindakan nyata.

Nilai-nilai itu tidak pernah benar-benar hilang dari diri seorang kader. Ia mungkin tidak lagi aktif hadir dalam rapat, tetapi pengalaman yang diperolehnya di PPM tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Karena itu, hubungan antara kader dan organisasi bukanlah hubungan administratif semata, melainkan hubungan emosional dan ideologis.

Rumah tidak pernah kehilangan anggota keluarganya. Rumah hanya menunggu mereka pulang.

Mengapa Kepulangan Menjadi Penting?

Gerakan sosial tidak hidup hanya karena memiliki sejarah panjang. Ia hidup karena mampu mempertemukan pengalaman masa lalu dengan tantangan masa depan.

Kader yang pernah aktif di PPM membawa pengalaman yang sangat berharga. Mereka mengenal dinamika masyarakat, memahami semangat pemberdayaan, dan memiliki jejaring yang dapat memperkuat gerakan.

Sebaliknya, generasi muda membawa energi baru, kreativitas, penguasaan teknologi, dan cara pandang yang segar.

Ketika keduanya bertemu, lahirlah regenerasi yang sehat.

Regenerasi bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi proses menyambungkan estafet nilai, pengalaman, dan gagasan. Organisasi yang berhasil adalah organisasi yang mampu menjaga kesinambungan itu.

PENAS 2026: Momentum Kepulangan Gerakan

Rencana penyelenggaraan Pertemuan Nasional (PENAS) X PPM Tahun 2026 di Yogyakarta hendaknya dimaknai lebih dari sekadar agenda organisasi lima tahunan.

PENAS adalah momentum untuk menghidupkan kembali silaturahmi gerakan.

Ia menjadi ruang bagi kader lintas generasi untuk bertemu, berbagi pengalaman, memperbarui komitmen, serta merumuskan arah baru PPM di tengah perubahan zaman.

Lebih dari itu, PENAS dapat menjadi ajakan terbuka kepada seluruh kader yang selama ini berada di luar lingkaran aktivitas organisasi agar kembali berpartisipasi sesuai kapasitas dan bidang pengabdiannya.

Tidak semua orang harus menjadi pengurus.

Tidak semua orang harus berada di struktur organisasi.

Namun setiap kader dapat menjadi bagian dari gerakan.

Ada yang berkontribusi melalui ilmu, jejaring, pengalaman, gagasan, pendanaan, advokasi, pendidikan, seni budaya, maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat.

PPM membutuhkan semuanya.

Rumah Besar yang Terus Membuka Pintu

Rumah yang baik tidak pernah menanyakan alasan mengapa seseorang lama tidak pulang.

Rumah hanya menyediakan ruang untuk kembali.

Begitulah seharusnya PPM.

PPM adalah rumah besar yang dibangun atas dasar persaudaraan, bukan kompetisi; atas dasar pengabdian, bukan kepentingan pribadi.

Di dalam rumah itu tidak ada istilah kader lama atau kader baru.

Yang ada adalah sesama pejuang yang dipersatukan oleh cita-cita menghadirkan masyarakat yang mandiri, adil, dan bermartabat.

Karena itu, setiap kepulangan adalah energi baru bagi gerakan.

Setiap pertemuan adalah investasi sosial.

Dan setiap silaturahmi adalah awal dari lahirnya kolaborasi yang lebih besar.

Membangun Masa Depan Bersama

Indonesia sedang menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ketimpangan ekonomi, perubahan sosial, krisis lingkungan, dan transformasi digital menuntut lahirnya gerakan-gerakan masyarakat yang adaptif sekaligus berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.

PPM memiliki modal sejarah, pengalaman, dan jejaring untuk mengambil peran tersebut.

Namun modal itu hanya akan bermakna apabila terus diperbarui melalui keterlibatan kader dari berbagai generasi.

Organisasi yang besar bukanlah organisasi yang hanya mengenang masa lalu, tetapi organisasi yang mampu mengubah pengalaman menjadi inspirasi untuk masa depan.

Di sinilah pentingnya membangun budaya kolaborasi, keterbukaan, dan kepemimpinan visioner yang mampu menghubungkan seluruh potensi kader dalam satu ekosistem pemberdayaan.

Editorial: Saatnya Pulang, Saatnya Menyalakan Kembali Api Gerakan

PPM tidak sedang mencari kejayaan masa lalu.

PPM sedang mempersiapkan masa depan.

Dan masa depan itu tidak dapat dibangun hanya oleh segelintir orang yang hari ini aktif menggerakkan organisasi.

Ia membutuhkan seluruh keluarga besar PPM.

Mereka yang pernah belajar di PPM.

Mereka yang pernah mendampingi masyarakat bersama PPM.

Mereka yang pernah menjadikan PPM sebagai sekolah kehidupan.

Kini, menjelang Pertemuan Nasional (PENAS) X Tahun 2026, saatnya rumah besar ini kembali dipenuhi oleh langkah-langkah pengabdian.

Karena sesungguhnya, PPM tidak kekurangan kader. PPM hanya menunggu mereka pulang.

Pulang bukan sekadar kembali ke sebuah organisasi.

Pulang adalah kembali kepada nilai-nilai perjuangan, kembali kepada semangat pemberdayaan, dan kembali kepada keyakinan bahwa perubahan sosial hanya dapat diwujudkan melalui kerja bersama.

Di tengah perubahan zaman, PPM harus tetap menjadi rumah yang terbuka, sekolah yang terus melahirkan pemimpin rakyat, dan gerakan yang tak pernah berhenti menyalakan harapan bagi masyarakat Indonesia. (ppmindonesia.com)

Example 120x600