Menjelang PENAS X 2026, Saatnya PPM Mengevaluasi Budaya Organisasi, Bukan Sekadar Mengubah
EDITORIAL
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Setiap kali sebuah organisasi menghadapi dinamika internal, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah sistemnya yang salah?
Tidak sedikit organisasi yang terburu-buru mengubah struktur kepemimpinan dengan harapan semua persoalan akan selesai. Padahal, pengalaman menunjukkan bahwa mengganti sistem tidak selalu berarti memperbaiki organisasi.
Menjelang Pertemuan Nasional (PENAS) X Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) yang direncanakan berlangsung pada **Oktober 2026 di Yogyakarta**, perdebatan mengenai model kepemimpinan kembali mengemuka. Ada yang mengusulkan tetap mempertahankan Presidium kolektif-kolegial, ada pula yang menginginkan **kepemimpinan tunggal melalui Ketua Umum.
Diskusi tersebut penting. Namun ada satu hal yang lebih penting untuk direnungkan:
Jangan sampai kita menyalahkan sistem, padahal yang perlu diperbaiki adalah cara kita bekerja.
Sistem Tidak Pernah Bekerja Sendiri
Sistem organisasi hanyalah sebuah kerangka.
Ia menyediakan aturan, mekanisme, dan pembagian kewenangan.
Tetapi yang menghidupkan sistem adalah manusia.
Presidium tidak akan berhasil apabila para anggotanya tidak membangun komunikasi.
Ketua Umum pun tidak akan berhasil apabila kader-kader di bawahnya tidak memiliki komitmen.
Dengan kata lain, **baik buruknya organisasi tidak hanya ditentukan oleh bentuk kepemimpinan, tetapi oleh budaya kerja yang dibangun di dalamnya.**
Sering kali kita berharap sistem yang baru akan menyelesaikan persoalan lama.
Padahal, jika pola pikir dan cara bekerja tetap sama, maka persoalan yang sama akan muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Presidium Bukan Penyebab Masalah
Dalam beberapa periode perjalanan PPM, memang terdapat Presidium yang tidak bekerja secara optimal.
Ada koordinasi yang kurang berjalan.
Ada komunikasi yang tidak intensif.
Ada pembagian tugas yang belum maksimal.
Semua itu merupakan fakta organisasi yang tidak perlu ditutupi.
Namun apakah fakta tersebut otomatis membuktikan bahwa sistem Presidium gagal?
Belum tentu.
Bayangkan sebuah kendaraan yang dirancang dengan baik, tetapi dikemudikan tanpa disiplin dan tanpa perawatan. Ketika kendaraan itu mengalami masalah, apakah yang harus disalahkan adalah rancangan kendaraannya?
Ataukah cara menggunakannya?
Begitu pula dengan organisasi.
Sering kali bukan sistem yang bermasalah, melainkan implementasinya.
Belajar dari Pengalaman PPM
PPM telah melewati berbagai fase kepemimpinan.
Organisasi ini pernah dipimpin dengan model Ketua Umum.
PPM juga telah menjalankan sistem Presidium selama beberapa periode.
Kedua model tersebut sama-sama memiliki pengalaman keberhasilan maupun tantangan.
Artinya, tidak ada satu pun sistem yang secara otomatis menjamin keberhasilan organisasi.
Yang menentukan adalah kualitas orang-orang yang menjalankannya.
Karena itu, apabila terdapat kelemahan dalam satu periode kepemimpinan Presidium, evaluasi seharusnya diarahkan pada bagaimana memperbaiki pola koordinasi, memperkuat budaya musyawarah, dan meningkatkan disiplin organisasi.
Bukan langsung menyimpulkan bahwa sistemnya harus diganti.
Budaya Organisasi Lebih Penting daripada Struktur
Banyak pakar manajemen organisasi menyatakan bahwa budaya organisasi akan selalu lebih kuat daripada struktur organisasi.
Struktur dapat diubah melalui keputusan rapat.
Tetapi budaya hanya dapat dibangun melalui keteladanan, konsistensi, dan proses yang panjang.
PPM memerlukan budaya yang mendorong:
- Komunikasi yang terbuka,
- Saling menghargai,
- Pembagian tugas yang jelas,
- Disiplin dalam menjalankan amanah,
- Keberanian untuk saling mengingatkan.
Tanpa budaya tersebut, sistem apa pun akan menghadapi persoalan.
Sebaliknya, apabila budaya organisasi sehat, berbagai model kepemimpinan dapat berjalan dengan baik.
Kepemimpinan Kolektif Membutuhkan Kedewasaan
Sistem kolektif-kolegial memang tidak mudah.
Ia menuntut kemampuan mendengar pendapat orang lain.
Ia mengharuskan setiap anggota mengendalikan ego.
Ia mengajarkan bahwa keputusan organisasi tidak selalu sama dengan keinginan pribadi.
Namun justru di situlah letak nilai pendidikannya.
PPM bukan sekadar organisasi administrasi.
PPM adalah sekolah kepemimpinan rakyat.
Di dalamnya, kader belajar memimpin, bekerja sama, dan menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah.
Jika proses ini berjalan baik, maka Presidium bukan hanya menjadi struktur organisasi, tetapi juga menjadi laboratorium kaderisasi.
Jangan Mengganti Sistem Karena Kecewa pada Orang**
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam organisasi adalah mencampurkan penilaian terhadap individu dengan penilaian terhadap sistem.
Ketika ada pengurus yang kurang aktif, sistem dianggap gagal.
Ketika ada komunikasi yang tidak berjalan, struktur organisasi dianggap keliru.
Padahal, persoalannya belum tentu berada pada sistem.
Mengubah sistem hanya karena kecewa kepada orang dapat menjadi keputusan yang emosional.
Sebaliknya, organisasi yang matang mampu membedakan antara evaluasi terhadap pelaksana dan evaluasi terhadap mekanisme.
Sistem harus diuji berdasarkan manfaatnya bagi organisasi dalam jangka panjang, bukan berdasarkan pengalaman sesaat.
PENAS X Harus Menjadi Forum Perbaikan Budaya Organisasi**
PENAS X Tahun 2026 hendaknya tidak hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan.
Forum ini harus menjadi momentum untuk memperkuat budaya organisasi.
Beberapa agenda penting yang layak menjadi perhatian antara lain:
- Memperkuat sistem kaderisasi,
- Menyempurnakan mekanisme koordinasi Presidium,
- Memperjelas pembagian tugas dan tanggung jawab,
- Membangun standar administrasi organisasi,
- Memperkuat komunikasi antara PPM Nasional, wilayah, daerah, dan badan otonom,
- Menumbuhkan budaya evaluasi yang konstruktif.
Dengan demikian, siapa pun yang memimpin nantinya akan bekerja dalam organisasi yang lebih sehat.
Organisasi Besar Dibangun oleh Cara Kerja yang Besar
PPM memiliki sejarah panjang sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat.
Kekuatan PPM bukan hanya terletak pada struktur organisasinya, tetapi pada nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendirinya.
- Nilai musyawarah.
- Nilai gotong royong.
- Nilai partisipasi.
- Nilai pengabdian.
Semua nilai itu tidak akan hidup hanya karena tertulis dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Nilai tersebut hanya akan hidup apabila menjadi budaya kerja setiap kader. (Redaksi ppmindonesia)
Catatan Redaksi
Perdebatan mengenai model kepemimpinan menjelang PENAS X merupakan bagian dari dinamika organisasi yang sehat. Namun, diskusi tersebut sebaiknya tidak berhenti pada pilihan antara Presidium atau Ketua Umum.
Pertanyaan yang lebih penting adalah
Apakah kita sudah membangun budaya organisasi yang mampu membuat sistem apa pun berjalan dengan baik?
Redaksi PPMIndonesia meyakini bahwa kekuatan PPM tidak semata-mata terletak pada bentuk kepemimpinan, tetapi pada kualitas kader yang menghidupkan organisasi melalui kerja sama, disiplin, integritas, dan semangat melayani.
Presidium bukanlah persoalannya apabila dijalankan oleh orang-orang yang memiliki komitmen. Ketua Umum pun bukan solusi apabila budaya organisasi tetap lemah.
Karena itu, menjelang PENAS X Tahun 2026, marilah kita tidak tergesa-gesa menyalahkan sistem.
Lebih bijaksana apabila kita terlebih dahulu memperbaiki cara kita bekerja, cara kita berkomunikasi, cara kita bermusyawarah, dan cara kita menjaga amanah organisasi.
Sebab, organisasi yang besar bukan hanya memiliki sistem yang baik, tetapi juga kader-kader yang mampu menghidupkan sistem tersebut dengan semangat kebersamaan dan pengabdian.





























