Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Islam untuk Seluruh Manusia: Memahami Keragaman dalam Perspektif Al-Qur’an

3
×

Islam untuk Seluruh Manusia: Memahami Keragaman dalam Perspektif Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Kajian Syahida (Qur’an bil Qur’an): Mengapa Allah Menciptakan Manusia Berbeda-Beda?

PPMIndonesia.com. Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia


Keragaman: Masalah atau Kehendak Allah?

Di tengah dunia yang semakin terhubung namun sekaligus semakin terpolarisasi, perbedaan sering dipandang sebagai sumber konflik. Perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, bahkan cara berpikir kerap dijadikan alasan untuk saling mencurigai dan memusuhi.

Namun benarkah keragaman merupakan penyimpangan dari kehendak Allah?

Kajian Al-Qur’an menunjukkan sebaliknya. Keragaman bukanlah kesalahan dalam ciptaan Allah, melainkan bagian dari rancangan-Nya yang sengaja diciptakan untuk menguji manusia sekaligus mendorong mereka saling mengenal dan bekerja sama dalam kebaikan.

Al-Qur’an tidak pernah menggambarkan keberagaman manusia sebagai ancaman. Sebaliknya, keragaman adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang harus dipahami dan dihargai.

Islam Ditujukan untuk Seluruh Manusia

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa Islam hanya ditujukan untuk kelompok atau bangsa tertentu.

Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ diperuntukkan bagi seluruh umat manusia.

QS. Saba’ [34]: 28

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan “untuk bangsa Arab”, “untuk satu kelompok”, atau “untuk satu komunitas”. Al-Qur’an menggunakan istilah an-nās (manusia), yang menunjukkan cakupan universal.

Karena itu, Islam hadir sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang etnis, warna kulit, bahasa, maupun status sosial.

Mengapa Allah Menciptakan Manusia Berbeda-Beda?

Al-Qur’an menjawab pertanyaan ini secara langsung.

QS. Al-Hujurat [49]: 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Ayat ini mengandung beberapa prinsip penting:

Pertama, seluruh manusia berasal dari sumber yang sama.
Kedua, keragaman bangsa dan suku merupakan ciptaan Allah.
Ketiga, tujuan keragaman adalah ta’āruf (saling mengenal), bukan saling merendahkan.
Keempat, ukuran kemuliaan bukan ras, suku, atau kelompok, melainkan ketakwaan.

Perbedaan adalah Sunnatullah

Dalam banyak ayat, Al-Qur’an menjelaskan bahwa perbedaan pandangan dan pilihan manusia merupakan bagian dari sunnatullah.

QS. Hud [11]: 118-119

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ ۝ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ

“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu. Tetapi mereka senantiasa berbeda-beda, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Dia menciptakan mereka.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mampu menjadikan seluruh manusia seragam dalam keyakinan, budaya, dan pemikiran.

Namun Allah tidak menghendaki keseragaman mutlak.

Keragaman justru menjadi bagian dari mekanisme kehidupan yang memungkinkan manusia belajar, berkembang, dan saling menguji dalam kebaikan.

Tidak Ada Paksaan dalam Agama

Karena perbedaan adalah bagian dari kehendak Allah, maka Al-Qur’an menolak pemaksaan keyakinan.

QS. Al-Baqarah [2]: 256

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.”

Ayat ini merupakan fondasi penting dalam memahami hubungan Islam dengan kebebasan beragama.

Keimanan yang bernilai di sisi Allah adalah keimanan yang lahir dari kesadaran dan pilihan, bukan dari tekanan atau paksaan.

Keragaman Bahasa dan Budaya Adalah Tanda Kekuasaan Allah

Al-Qur’an bahkan menyebut perbedaan bahasa dan warna kulit sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya.

QS. Ar-Rum [30]: 22

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu.”

Apa yang sering menjadi alasan diskriminasi dalam sejarah manusia justru disebut Al-Qur’an sebagai ayat-ayat Allah.

Karena itu, merendahkan manusia karena ras, bahasa, atau warna kulit bertentangan dengan semangat Al-Qur’an.

Berlomba dalam Kebaikan, Bukan dalam Permusuhan

Al-Qur’an tidak memerintahkan manusia untuk memaksakan keseragaman. Yang diperintahkan adalah berlomba dalam kebaikan.

QS. Al-Ma’idah [5]: 48

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Untuk setiap umat di antara kamu Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja, tetapi Dia hendak menguji kamu terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

Ayat ini menunjukkan bahwa respons yang benar terhadap keragaman bukanlah permusuhan, melainkan kompetisi dalam amal saleh.

Ukuran Kemuliaan dalam Islam

Dalam masyarakat manusia sering terdapat ukuran-ukuran kemuliaan yang bersifat duniawi: kekayaan, kekuasaan, keturunan, jabatan, atau popularitas.

Namun Al-Qur’an menetapkan ukuran yang berbeda.

QS. Al-Hujurat [49]: 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”

Takwa bukanlah identitas kelompok.

Takwa adalah kualitas spiritual dan moral yang tercermin dalam kejujuran, keadilan, kasih sayang, amanah, serta ketaatan kepada Allah.

Penutup: Islam dan Misi Kemanusiaan Universal

Melalui kajian Qur’an bil Qur’an, kita menemukan bahwa Islam datang bukan untuk menghapus keragaman, melainkan untuk membimbing manusia mengelola keragaman itu dalam bingkai keadilan, kasih sayang, dan ketakwaan.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa:

  • Islam ditujukan untuk seluruh manusia.
  • Keragaman bangsa, suku, bahasa, dan budaya adalah kehendak Allah.
  • Perbedaan merupakan bagian dari sunnatullah.
  • Tidak ada paksaan dalam agama.
  • Manusia diperintahkan berlomba dalam kebaikan, bukan dalam permusuhan.
  • Kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh ketakwaan, bukan identitas sosial.

Karena itu, semakin seseorang memahami Al-Qur’an, semakin ia menyadari bahwa Islam bukanlah agama eksklusif yang membatasi kasih sayang pada kelompok tertentu, melainkan rahmat yang mengajak seluruh manusia menuju kehidupan yang lebih adil, damai, dan bermartabat.

QS. Al-Anbiya’ [21]: 107

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (syahida)

Example 120x600