Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Ekonomi Hijau Indonesia

2
×

Ekonomi Hijau Indonesia

Share this article

Redaksippmindonesi. Editor: Asyary

Membangun Kemakmuran Tanpa Mengorbankan Alam


OPINIPPMIndonesia

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia, ribuan sungai, lautan yang luas, tanah yang subur, serta keanekaragaman hayati yang termasuk terbesar di dunia merupakan modal dasar pembangunan bangsa. Namun, di balik potensi tersebut, Indonesia juga menghadapi tantangan besar berupa kerusakan lingkungan, perubahan iklim, pencemaran air, degradasi hutan, hingga meningkatnya bencana ekologis.

Fenomena ini menunjukkan bahwa model pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan sudah tidak lagi memadai. Pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi apabila dicapai dengan mengorbankan kelestarian alam, maka manfaatnya hanya akan bersifat sementara. Sebaliknya, kerusakan lingkungan akan menjadi beban yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Karena itu, Indonesia memerlukan paradigma pembangunan baru yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Paradigma tersebut dikenal sebagai Ekonomi Hijau (Green Economy).

Apa Itu Ekonomi Hijau?

Ekonomi hijau merupakan model pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan serta memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Dalam ekonomi hijau, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi juga dari kualitas lingkungan, pemerataan kesejahteraan, efisiensi penggunaan sumber daya, serta keberlanjutan kehidupan generasi yang akan datang.

Dengan kata lain, ekonomi hijau bukan berarti menghambat pembangunan, tetapi memastikan bahwa pembangunan hari ini tidak merusak kesempatan hidup generasi masa depan.

Islam dan Amanah Menjaga Bumi

Bagi umat Islam, menjaga lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan bagian dari amanah keagamaan.

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya. Manusia ditempatkan sebagai khalifah fil ardh, yaitu pemimpin sekaligus pengelola bumi yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan alam.

Karena itu, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pencemaran lingkungan, penebangan hutan tanpa kendali, maupun praktik ekonomi yang merusak ekosistem bertentangan dengan prinsip Islam yang menjunjung kemaslahatan dan keseimbangan (mizan).

Ekonomi hijau pada hakikatnya sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang amanah, keadilan, dan tanggung jawab terhadap ciptaan Allah SWT.

Indonesia Memiliki Modal Besar

Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pemimpin ekonomi hijau dunia.

Potensi energi surya, panas bumi, angin, bioenergi, serta energi air sangat melimpah. Demikian pula sektor pertanian organik, kehutanan sosial, perikanan berkelanjutan, ekonomi sirkular, hingga industri kreatif berbasis lingkungan memiliki prospek yang sangat menjanjikan.

Apabila dikelola secara tepat, ekonomi hijau bukan hanya mampu mengurangi emisi karbon, tetapi juga membuka jutaan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Dengan demikian, menjaga lingkungan bukanlah beban pembangunan, melainkan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan bangsa.

Desa sebagai Pusat Ekonomi Hijau

Masa depan ekonomi hijau Indonesia justru banyak ditentukan oleh desa.

Desa merupakan pusat produksi pangan, kawasan hutan, sumber air, wilayah pesisir, dan ruang hidup berbagai komunitas lokal. Karena itu, pembangunan ekonomi hijau tidak dapat dilepaskan dari pemberdayaan masyarakat desa.

Pengembangan pertanian organik, agroforestri, desa wisata berbasis konservasi, energi terbarukan skala desa, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, koperasi hijau, hingga usaha mikro berbasis sumber daya lokal merupakan contoh nyata bagaimana desa dapat menjadi motor penggerak ekonomi hijau.

Ketika desa tumbuh, ketahanan pangan menguat. Ketika lingkungan desa terjaga, kualitas hidup masyarakat ikut meningkat.

Ekonomi Hijau Harus Berbasis Pemberdayaan

Salah satu kesalahan dalam banyak program pembangunan adalah menjadikan masyarakat hanya sebagai penerima kebijakan.

Ekonomi hijau tidak boleh dibangun dengan pendekatan seperti itu.

Keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan.

Petani harus dilibatkan dalam penyusunan kebijakan pertanian berkelanjutan.

Nelayan harus menjadi bagian dari pengelolaan kawasan pesisir.

Masyarakat adat harus dihormati sebagai penjaga hutan.

Pelaku UMKM harus didorong memproduksi barang dan jasa yang ramah lingkungan.

Pendekatan bottom-up inilah yang akan melahirkan rasa memiliki terhadap setiap program pembangunan.

Peran PPM dalam Mendorong Ekonomi Hijau

Sebagai organisasi pemberdayaan masyarakat, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memandang ekonomi hijau bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi bagian dari gerakan membangun peradaban yang berkelanjutan.

Melalui pendekatan Dakwah Bil Hal, PPM mendorong lahirnya berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat seperti pertanian organik, rehabilitasi daerah aliran sungai, pengembangan koperasi hijau, ekonomi berbasis komunitas, konservasi lingkungan, hingga penguatan UMKM yang berorientasi pada keberlanjutan.

Program seperti Citarum Next Generation yang  diusulkan PPM ke Kementian Lingkungan Hidup merupakan contoh bagaimana pemulihan lingkungan dapat dipadukan dengan pemberdayaan masyarakat, teknologi, dan ekonomi sirkular. Lingkungan yang sehat tidak hanya menghasilkan udara dan air yang bersih, tetapi juga menciptakan peluang usaha, lapangan kerja, dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Bagi PPM, menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah, sementara memberdayakan masyarakat adalah bentuk nyata pengabdian.

Menuju Indonesia Emas yang Hijau

Visi Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai apabila pembangunan hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Bangsa yang maju bukan hanya memiliki gedung-gedung tinggi, kawasan industri modern, atau teknologi canggih. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian alam.

Indonesia memiliki kesempatan besar menjadi contoh dunia dalam membangun ekonomi hijau yang berpijak pada nilai-nilai gotong royong, kearifan lokal, dan partisipasi masyarakat.

Pembangunan yang menghormati alam akan menghasilkan kesejahteraan yang lebih kokoh daripada pembangunan yang mengeksploitasi sumber daya tanpa batas.

Penutup

Ekonomi hijau bukan sekadar tren global atau kebijakan lingkungan. Ia merupakan kebutuhan mendesak bagi Indonesia yang ingin tumbuh sebagai bangsa maju tanpa kehilangan kekayaan alamnya.

Pembangunan harus menghasilkan kemakmuran, tetapi kemakmuran itu tidak boleh dibayar dengan rusaknya hutan, tercemarnya sungai, hilangnya lahan pertanian, atau menurunnya kualitas hidup masyarakat.

Sudah saatnya Indonesia menjadikan ekonomi hijau sebagai arus utama pembangunan nasional. Negara perlu menghadirkan kebijakan yang berpihak pada energi bersih, pertanian berkelanjutan, industri ramah lingkungan, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan.

Karena pada akhirnya, ekonomi hijau bukan hanya tentang menyelamatkan alam, tetapi juga tentang menyelamatkan masa depan bangsa. Ketika pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan keadilan sosial dan kelestarian lingkungan, Indonesia tidak hanya menjadi negara yang maju, tetapi juga menjadi negeri yang diwariskan dalam keadaan lebih baik kepada generasi berikutnya. (emha)


PPMIndonesia.com
“Hijau Ekonominya, Berdaya Masyarakatnya, Lestari Alamnya, Maju Peradabannya.”

Example 120x600