Kajian Syahida Al-Qur’an bil Al-Qur’an Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia
Mukadimah
Tidak ada pertanyaan yang lebih tua daripada pertanyaan tentang asal-usul manusia.
Dari mana kita berasal?
Mengapa kita hidup di dunia?
Ke mana kita akan kembali setelah kematian?
Berbagai filsafat, agama, dan ideologi mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Ada yang menyatakan manusia hanyalah hasil proses biologis tanpa tujuan. Ada pula yang menganggap kehidupan berakhir ketika kematian datang.
Namun Al-Qur’an menghadirkan sebuah narasi yang utuh. Kehidupan manusia bukan dimulai saat lahir dan tidak berakhir ketika mati. Kehidupan dunia hanyalah satu mata rantai dari perjalanan panjang yang telah dimulai sebelum manusia berada di bumi dan akan berlanjut menuju kehidupan yang kekal.
Melalui Kajian Syahida Al-Qur’an bil Al-Qur’an, kita akan menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan perjalanan manusia dari awal penciptaan hingga kembali kepada Allah.
Allah Adalah Awal Segala Sesuatu
Perjalanan manusia dimulai dari Allah sebagai Sang Pencipta.
Allah berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar [39]: 62)
Tidak ada sesuatu pun yang ada tanpa kehendak-Nya.
Karena itu, asal-usul manusia bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari kehendak dan ilmu Allah.
Manusia Diciptakan dengan Tujuan
Al-Qur’an menolak anggapan bahwa manusia diciptakan tanpa makna.
Allah berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS. Al-Mu’minun [23]: 115)
Ayat ini menghubungkan dua kenyataan:
- penciptaan manusia memiliki tujuan;
- manusia pasti kembali kepada Allah.
Dengan demikian, tujuan hidup tidak dapat dipisahkan dari tujuan penciptaan.
Sebelum Kehidupan Dunia: Kesaksian kepada Allah
Salah satu ayat yang paling mendalam tentang asal-usul manusia terdapat dalam Surah Al-A’raf.
Allah berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengambil dari anak cucu Adam, dari sulbi mereka, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul, kami bersaksi.’”
(QS. Al-A’raf [7]: 172)
Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan manusia tidak dimulai saat kelahiran.
Sebelum memasuki kehidupan dunia, manusia telah dihadapkan kepada pengakuan tentang ketuhanan Allah.
Dunia Adalah Tempat Ujian
Mengapa manusia diturunkan ke bumi?
Al-Qur’an menjelaskan:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
(QS. Al-Mulk [67]: 2)
Kehidupan dunia bukan tujuan akhir.
Ia adalah ruang pembuktian.
Yang dinilai Allah bukan panjangnya umur, banyaknya harta, atau tingginya kedudukan, tetapi kualitas amal.
Manusia Berasal dari Tanah
Al-Qur’an juga menjelaskan asal penciptaan fisik manusia.
مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ
“Dari bumi itulah Kami menciptakan kamu, ke dalamnya Kami akan mengembalikan kamu, dan darinya pula Kami akan mengeluarkan kamu sekali lagi.”
(QS. Thaha [20]: 55)
Tubuh manusia berasal dari unsur bumi.
Ketika mati, tubuh kembali menjadi bagian dari bumi.
Namun perjalanan manusia tidak berhenti di sana.
Kematian Bukan Akhir
Dalam pandangan Al-Qur’an, kematian hanyalah perpindahan menuju fase berikutnya.
Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 185)
Namun ayat tersebut tidak berhenti sampai di situ.
Allah melanjutkan:
وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Dan sesungguhnya balasanmu akan disempurnakan pada Hari Kiamat.”
Artinya, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu menuju kehidupan berikutnya.
Semua Akan Dikembalikan kepada Allah
Al-Qur’an berulang kali menegaskan arah akhir perjalanan manusia.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 156)
Kalimat ini bukan hanya dibaca ketika tertimpa musibah.
Ia merupakan ringkasan perjalanan seluruh manusia.
Kita berasal dari Allah.
Kita hidup dengan izin Allah.
Dan akhirnya kita kembali kepada Allah.
Pertemuan dengan Allah adalah Kepastian
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
“Wahai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras menuju Tuhanmu, maka pasti engkau akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq [84]: 6)
Ayat ini menggambarkan kehidupan sebagai sebuah perjalanan.
Setiap langkah manusia, disadari ataupun tidak, sedang mengarah kepada pertemuan dengan Allah.
Hari Pembalasan
Setelah kebangkitan, manusia mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.
Allah berfirman:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8)
Tidak ada satu amal pun yang hilang dari pengetahuan Allah.
Setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang adil.
Akhir Perjalanan: Surga atau Neraka
Perjalanan manusia mencapai tujuan akhirnya setelah pengadilan Allah.
Tentang penghuni surga Allah berfirman:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam surga dan kenikmatan.”
(QS. Ath-Thur [52]: 17)
Sedangkan tentang orang-orang yang menolak petunjuk Allah:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan berbuat zalim, Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak akan menunjukkan kepada mereka jalan.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 168)
Al-Qur’an menggambarkan akhir perjalanan manusia sebagai konsekuensi dari pilihan-pilihan yang diambil selama hidup di dunia.
Kehidupan Dunia Hanyalah Persinggahan
Allah mengingatkan:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 185)
Dan:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, dan saling bermegah-megahan…”
(QS. Al-Hadid [57]: 20)
Ayat-ayat ini tidak memerintahkan manusia meninggalkan dunia.
Sebaliknya, Al-Qur’an mengajarkan agar dunia diposisikan sebagai jalan, bukan tujuan.
Kesimpulan Kajian Syahida
Melalui penelusuran ayat-ayat Al-Qur’an, tampak bahwa perjalanan manusia merupakan rangkaian yang utuh dan memiliki arah yang jelas.
Pertama, manusia berasal dari Allah sebagai Sang Pencipta dan diciptakan dengan tujuan yang mulia, bukan secara sia-sia.
Kedua, sebelum menjalani kehidupan dunia, Al-Qur’an mengisyaratkan adanya kesaksian manusia terhadap rububiyah Allah sebagai dasar tanggung jawab moral.
Ketiga, kehidupan dunia adalah fase ujian untuk membuktikan kualitas iman dan amal sebelum kembali kepada Allah.
Keempat, kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan pintu menuju kebangkitan, hisab, dan pembalasan yang adil.
Kelima, tujuan akhir perjalanan manusia adalah kembali kepada Allah. Mereka yang beriman dan bertakwa akan memperoleh rahmat dan surga-Nya, sedangkan mereka yang menolak petunjuk akan mempertanggungjawabkan pilihannya di hadapan-Nya.
Dengan demikian, Al-Qur’an mengajarkan bahwa hidup bukanlah perjalanan tanpa arah. Setiap manusia sedang menempuh perjalanan dari Allah, menjalani amanah di dunia, lalu kembali kepada Allah.
Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 156)
Ayat ini bukan sekadar ungkapan saat musibah, tetapi merupakan ringkasan paling singkat dan paling dalam tentang asal-usul, tujuan hidup, dan akhir perjalanan setiap manusia.Wallāhu A’lam bish-Shawāb. (syahida)





























