Kesejahteraan bukan hanya tentang pendapatan, tetapi tentang kemampuan manusia membangun kehidupan yang utuh, seimbang, mandiri, dan bermartabat.
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Ketika berbicara tentang kesejahteraan masyarakat, perhatian sering kali berhenti pada satu ukuran: ekonomi.
Berapa pendapatannya?
Berapa penghasilannya?
Berapa banyak lapangan pekerjaan tersedia?
Berapa besar bantuan yang diterima?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting. Tetapi kehidupan manusia jauh lebih luas daripada angka-angka ekonomi.
Seseorang mungkin mempunyai penghasilan, tetapi tidak memiliki lingkungan yang sehat.
Sebuah keluarga mungkin memiliki rumah, tetapi anak-anaknya kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan yang baik.
Sebuah komunitas mungkin mempunyai kegiatan ekonomi, tetapi tidak memiliki organisasi yang mampu melindungi kepentingan bersama.
Karena itu, kesejahteraan tidak cukup dipahami sebagai keadaan ketika kebutuhan material terpenuhi.
Kesejahteraan adalah kemampuan manusia dan masyarakat membangun kehidupannya secara utuh dan seimbang.
Dari cara pandang inilah PPM mengembangkan gagasan Stelsel Masyarakat Sejahtera.
Melihat Masyarakat sebagai Satu Kesatuan
Kata stelsel dapat dipahami sebagai sistem atau susunan unsur yang saling berkaitan dan bekerja sebagai satu kesatuan.
Dalam perspektif pengembangan masyarakat PPM, kehidupan masyarakat tidak berdiri dalam kotak-kotak yang terpisah.
Ekonomi berkaitan dengan pendidikan.
Pendidikan berkaitan dengan kesehatan.
Kesehatan berkaitan dengan lingkungan.
Lingkungan berkaitan dengan kebudayaan dan perilaku sosial.
Semua itu berkaitan dengan organisasi, kependudukan, teknologi, serta kemampuan masyarakat memperjuangkan kepentingannya.
Karena itu, membangun kesejahteraan tidak cukup dengan memperbaiki satu bagian sementara bagian lain dibiarkan.
Yang dibangun adalah sistem kehidupannya.
Di sinilah Stelsel Masyarakat Sejahtera memperoleh maknanya.
Dari Manusia sebagai Objek Menjadi Subjek
Gagasan ini juga tidak dapat dipisahkan dari metodologi PPM.
Masyarakat bukan sekadar sasaran pembangunan.
Mereka adalah pelaku.
Karena itu, kesejahteraan tidak boleh hanya diukur dari apa yang diberikan kepada masyarakat, tetapi dari kemampuan masyarakat melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Bantuan dapat menjadi pemantik.
Teknologi dapat menjadi alat.
Modal dapat menjadi instrumen.
Pendampingan dapat membuka jalan.
Tetapi masyarakat tetap menjadi pelaku utama.
Dengan demikian, Stelsel Masyarakat Sejahtera bukan model untuk “membangun masyarakat” dari luar.
Ia adalah proses membantu masyarakat membangun kehidupannya sendiri.
Delapan Bidang Kehidupan
Dalam kerangka PPM, pengembangan masyarakat sejahtera mencakup sedikitnya delapan bidang yang saling berhubungan:
1. Sosial Ekonomi
Ekonomi merupakan fondasi penting kehidupan masyarakat.
Tetapi yang dibangun bukan sekadar peningkatan pendapatan.
Yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat mengembangkan sumber penghidupan, mengelola usaha, mengakses pasar, membangun kelembagaan ekonomi, dan memperkuat posisi tawar.
Petani tidak cukup hanya mampu menghasilkan.
Ia juga perlu mempunyai akses terhadap sarana produksi dan pasar.
Pedagang kecil tidak cukup hanya mempunyai barang dagangan.
Ia membutuhkan jaringan, informasi, pembiayaan, dan organisasi.
UMKM tidak cukup hanya dilatih membuat produk.
Mereka perlu masuk ke dalam rantai nilai yang memberikan manfaat lebih besar bagi pelakunya.
Di sinilah koperasi, kelompok usaha, kewirausahaan sosial, dan ekonomi rakyat dapat menjadi instrumen penting.
2. Pendidikan Alternatif
Pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas.
Masyarakat belajar dari kehidupannya sendiri.
Petani belajar dari sawah.
Pedagang belajar dari pasar.
Pengusaha kecil belajar dari konsumen.
Pemuda belajar dari teknologi.
Komunitas belajar dari pengalaman organisasinya.
Karena itu, PPM melihat pendidikan sebagai proses yang berlangsung sepanjang kehidupan.
Masyarakat adalah learning community.
Pengetahuan tidak hanya diberikan.
Pengetahuan juga ditemukan melalui pengalaman, tindakan, dialog, dan refleksi.
Inilah gagasan universitas kehidupan: kehidupan masyarakat sendiri menjadi ruang belajar.
3. Kesehatan Masyarakat
Kesehatan bukan sekadar persoalan ketika seseorang sakit.
Kesehatan berkaitan dengan air bersih, sanitasi, makanan, lingkungan, perilaku, pendidikan, pendapatan, dan kualitas kehidupan.
Karena itu, pendekatan masyarakat sehat tidak hanya menunggu penyakit datang.
Masyarakat perlu mempunyai pengetahuan dan kemampuan menjaga lingkungan serta membangun perilaku hidup sehat.
Dengan kata lain:
kesehatan bukan hanya urusan pelayanan kesehatan, tetapi bagian dari kemampuan masyarakat mengelola kehidupannya.
4. Teknologi Tepat
Teknologi seharusnya membantu masyarakat, bukan membuat mereka semakin bergantung.
Karena itu, teknologi tepat bukan semata-mata teknologi yang paling modern.
Teknologi tepat adalah teknologi yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, lingkungan, sumber daya, dan kondisi sosial masyarakat.
Masyarakat harus memahami teknologi yang digunakan.
Mampu mengoperasikan.
Mampu merawat.
Dan, sejauh mungkin, mampu mengembangkan atau menyesuaikannya.
Sebab teknologi yang canggih tetapi tidak dapat dikelola masyarakat pada akhirnya hanya menjadi benda yang ditinggalkan.
5. Lingkungan Hidup
Masyarakat tidak hidup di ruang kosong.
Mereka hidup bersama tanah, air, sungai, hutan, udara, dan seluruh ekosistem.
Karena itu, kesejahteraan tidak mungkin dipisahkan dari lingkungan.
Sungai yang tercemar pada akhirnya memengaruhi kesehatan.
Kerusakan tanah memengaruhi pertanian.
Sampah memengaruhi kualitas kehidupan.
Perubahan iklim memengaruhi penghidupan masyarakat.
Karena itu, pembangunan lingkungan harus sekaligus menjadi pembangunan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat.
Persoalan lingkungan bahkan dapat menjadi ruang tumbuhnya ekonomi sirkular dan ekonomi hijau, sepanjang manfaatnya kembali memperkuat masyarakat.
6. Sosial Budaya
Masyarakat bukan hanya kumpulan individu.
Di dalamnya terdapat nilai, tradisi, kebiasaan, bahasa, kesenian, pengetahuan lokal, dan berbagai bentuk pranata sosial.
Kebudayaan menjadi kekuatan yang menjaga identitas sekaligus membangun kohesi sosial.
Karena itu, pembangunan yang mengabaikan kebudayaan berisiko kehilangan akar sosialnya.
Bagi PPM, kebudayaan dapat menjadi arus bawah yang memberikan energi bagi perubahan sosial.
Gotong royong, solidaritas, musyawarah, dan kepedulian merupakan modal sosial yang tidak selalu dapat dihitung secara ekonomi, tetapi sangat menentukan kekuatan masyarakat.
7. Kependudukan
Masyarakat juga selalu berubah.
Jumlah penduduk bertambah.
Generasi berganti.
Orang berpindah.
Kawasan tumbuh.
Kota berkembang.
Desa berubah.
Perubahan tersebut membawa konsekuensi terhadap pekerjaan, pendidikan, perumahan, kesehatan, pangan, lingkungan, dan hubungan sosial.
Karena itu, persoalan kependudukan harus dibaca sebagai bagian dari keseluruhan sistem kehidupan.
Masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memahami perubahan demografis dan menyiapkan diri terhadap konsekuensinya
8. Emansipasi Sosial
Pada akhirnya, kesejahteraan tidak hanya berbicara tentang memiliki.
Ia juga berbicara tentang harga diri dan kemampuan menentukan pilihan.
Emansipasi sosial berarti membuka ruang agar masyarakat memiliki kesempatan untuk bersuara, berpartisipasi, mengambil keputusan, memperoleh akses, dan memperjuangkan kepentingannya secara bermartabat.
Masyarakat yang sejahtera bukan masyarakat yang terus menunggu keputusan dari luar.
Masyarakat sejahtera adalah masyarakat yang mampu ikut menentukan arah kehidupannya sendiri.
Delapan Bidang, Satu Kehidupan
Delapan bidang tersebut jangan dipahami sebagai delapan program yang berjalan sendiri-sendiri.
Justru sebaliknya.
Sosial ekonomi membutuhkan pendidikan.
Pendidikan membutuhkan kesehatan.
Kesehatan membutuhkan lingkungan.
Teknologi membutuhkan pengetahuan.
Ekonomi membutuhkan kebudayaan dan organisasi.
Kependudukan memengaruhi seluruh sistem.
Dan semuanya membutuhkan ruang emansipasi.
Inilah yang membedakan Stelsel Masyarakat Sejahtera dari pendekatan pembangunan yang terfragmentasi.
Tujuannya bukan sekadar membuat masyarakat mempunyai lebih banyak.
Tetapi membuat masyarakat mampu mengelola kehidupan secara lebih utuh.
Dari Program kepada Proses
Stelsel Masyarakat Sejahtera juga menuntut perubahan cara bekerja.
Jika hanya dipandang sebagai program, maka delapan bidang tersebut dapat berubah menjadi daftar proyek:
ada program ekonomi,
ada program pendidikan,
ada program kesehatan,
ada program lingkungan,
dan seterusnya.
Tetapi PPM melihatnya sebagai proses yang saling berhubungan.
Program adalah kendaraan.
Proses adalah perjalanan.
Program dapat selesai.
Proses harus berlanjut.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan:
“Berapa program yang telah dilaksanakan?”
Tetapi:
“Apa kemampuan masyarakat yang tumbuh dari proses tersebut?”
Masyarakat sebagai Universitas Kehidupan
Di sinilah Stelsel Masyarakat Sejahtera bertemu dengan konsep learning community.
Masyarakat bukan hanya penerima pengetahuan.
Masyarakat adalah tempat pengetahuan diproduksi.
Ketika masyarakat mencoba mengembangkan usaha, mereka belajar ekonomi.
Ketika membangun koperasi, mereka belajar organisasi.
Ketika mengelola sampah, mereka belajar lingkungan.
Ketika mengembangkan teknologi, mereka belajar inovasi.
Ketika menyelesaikan konflik, mereka belajar kehidupan sosial.
Setiap pengalaman menjadi bahan pembelajaran.
Karena itu, proses pemberdayaan dapat berlangsung dalam satu siklus:
bertindak → mengalami → merefleksikan → belajar → memperbaiki → bertindak kembali.
Inilah universitas kehidupan.
Stelsel sebagai Jalan Menuju Kemandirian
Tujuan akhirnya bukan menciptakan masyarakat yang semakin banyak menerima program.
Sebaliknya, masyarakat harus semakin mampu mengelola kehidupannya sendiri.
Dari tidak tahu menjadi tahu.
Dari tidak mampu menjadi mampu.
Dari sendiri-sendiri menjadi terorganisasi.
Dari tidak mempunyai akses menjadi mampu membuka akses.
Dari tidak mempunyai posisi tawar menjadi memiliki kekuatan kolektif.
Dan dari ketergantungan menjadi kemandirian.
Dalam konteks ini, PPM berfungsi sebagai pengungkit, bukan pengganti masyarakat.
PPM membantu membuka jalan.
Masyarakatlah yang berjalan.
Ukuran Keberhasilan adalah Perubahan yang Bertahan
Seperti halnya metodologi PPM secara keseluruhan, keberhasilan Stelsel Masyarakat Sejahtera tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan.
Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang bertahan.
Apakah masyarakat lebih mampu?
Apakah organisasi semakin kuat?
Apakah kader baru tumbuh?
Apakah ekonomi masyarakat berkembang?
Apakah lingkungan lebih terkelola?
Apakah pengetahuan bertambah?
Apakah masyarakat lebih mampu mengambil keputusan?
Dan apakah semua itu tetap berjalan ketika pendamping tidak lagi hadir?
Jika jawabannya ya, maka proses pemberdayaan telah menghasilkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar program:
kemampuan masyarakat untuk melanjutkan kehidupannya sendiri.
Membangun Manusia, Bukan Sekadar Program
Stelsel Masyarakat Sejahtera pada akhirnya berbicara tentang manusia.
Manusia yang memiliki penghidupan.
Manusia yang belajar.
Manusia yang sehat.
Manusia yang mampu menggunakan teknologi.
Manusia yang menjaga lingkungannya.
Manusia yang mempunyai kebudayaan.
Manusia yang hidup dalam tatanan sosial yang sehat.
Dan manusia yang mempunyai keberanian serta kemampuan untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Karena itu, kesejahteraan tidak cukup didefinisikan sebagai kemakmuran material.
Kesejahteraan adalah keadaan ketika manusia mempunyai ruang dan kemampuan untuk hidup secara utuh, seimbang, mandiri, dan bermartabat.
Di situlah Stelsel Masyarakat Sejahtera menemukan relevansinya.
Bukan sebagai cetak biru yang dipaksakan dari luar.
Bukan pula sebagai kumpulan program yang berdiri sendiri.
Tetapi sebagai kerangka berpikir untuk membaca kehidupan masyarakat sebagai satu kesatuan dan mengembangkan kekuatan masyarakat dari dalam dirinya sendiri.
Pada akhirnya, pembangunan yang paling berkelanjutan bukanlah pembangunan yang membuat masyarakat terus menunggu.
Melainkan pembangunan yang membuat masyarakat mampu berpikir, mampu bertindak, mampu belajar, mampu mengorganisasi diri, dan mampu menentukan masa depannya.
Membangun masyarakat yang sejahtera bukan sekadar membuat kehidupan menjadi lebih banyak.
Tetapi membuat kehidupan menjadi lebih utuh. (ppmindonesia)





























