Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

KETIKA RAKYAT MENJADI PELAKU SEJARAHNYA SENDIRI

8
×

KETIKA RAKYAT MENJADI PELAKU SEJARAHNYA SENDIRI

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

Pembangunan yang sejati bukan hanya mengubah keadaan masyarakat, tetapi membangkitkan kemampuan rakyat untuk menentukan, membangun, dan meneruskan perubahan kehidupannya sendiri.

Rubrik Akademi PPM | OPINI GERAKAN

Oleh: Redaksi PPM Indonesia

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Sejarah tidak hanya dibentuk oleh mereka yang memegang kekuasaan, memiliki modal, atau menguasai teknologi.

Sejarah juga dibangun oleh masyarakat biasa.

Petani yang mengorganisasi dirinya. Pedagang kecil yang membangun koperasi. Anak muda yang menciptakan ruang belajar di kampungnya. Warga yang menjaga sungai. Kelompok masyarakat yang mengubah persoalan menjadi gerakan bersama.

Mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam buku-buku sejarah.

Tetapi di sanalah sejarah sesungguhnya bergerak: di tengah kehidupan masyarakat.

Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan perubahan bagi masyarakat. Pembangunan yang lebih mendasar adalah pembangunan yang membuat masyarakat mampu menjadi pelaku perubahan.

Inilah salah satu titik penting dalam perjalanan pemikiran Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).

Masyarakat Bukan Halaman Kosong

Salah satu kekeliruan dalam pembangunan adalah memandang masyarakat seolah-olah merupakan halaman kosong yang harus diisi oleh pengetahuan, modal, teknologi, dan program dari luar.

Masyarakat kemudian diposisikan sebagai penerima.

Ada program yang datang.

Ada bantuan yang disalurkan.

Ada pelatihan yang diberikan.

Ada fasilitas yang dibangun.

Setelah itu, keberhasilan diukur berdasarkan berapa banyak kegiatan yang telah dilakukan.

Padahal masyarakat tidak pernah benar-benar kosong.

Di dalam masyarakat selalu terdapat pengalaman, pengetahuan lokal, tradisi, jaringan sosial, solidaritas, kemampuan bertahan, serta berbagai bentuk pengetahuan yang terbentuk melalui perjalanan panjang.

Persoalannya bukan apakah masyarakat memiliki potensi.

Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dibangkitkan menjadi kekuatan yang terorganisasi.

Di sinilah pendekatan pemberdayaan menemukan maknanya.

Bukan mengisi kekosongan.

Tetapi membangkitkan kekuatan yang sudah ada.

Dari Objek Menjadi Subjek

Perubahan paling penting dalam pembangunan rakyat sebenarnya bukan perubahan bentuk bantuan.

Perubahan paling penting adalah perubahan posisi manusia.

Dari objek menjadi subjek.

Objek menerima keputusan.

Subjek ikut menentukan keputusan.

Objek mengikuti program.

Subjek ikut merancang proses.

Objek menunggu bantuan.

Subjek mencari dan membangun jalan keluar.

Objek bergantung kepada pihak luar.

Subjek membangun kemampuan untuk mengelola kehidupannya sendiri.

Karena itu, pertanyaan pemberdayaan tidak berhenti pada:

“Apa yang dapat kita berikan kepada masyarakat?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk dirinya sendiri, dan bagaimana kita membantu membuka jalan agar kemampuan itu tumbuh?”

Perubahan cara bertanya tersebut mengubah seluruh cara bekerja.

Sejarah Dimulai dari Kemampuan Bertindak

Menjadi pelaku sejarah tidak berarti setiap orang harus melakukan sesuatu yang besar.

Sejarah sering kali dimulai dari tindakan yang sederhana.

Sekelompok petani yang sepakat mengelola produksi secara bersama.

Pedagang kecil yang membangun koperasi agar memiliki posisi tawar lebih kuat.

Warga yang memutuskan mengelola sampahnya sendiri.

Pemuda kampung yang membuka ruang belajar.

Masyarakat desa yang menjaga sumber air.

Semuanya mungkin terlihat kecil.

Tetapi ketika tindakan tersebut dilakukan secara sadar, bersama-sama, berkelanjutan, dan mampu mengubah cara masyarakat mengelola kehidupannya, di situlah proses sejarah sedang berlangsung.

Sejarah bukan hanya tentang peristiwa besar.

Sejarah juga tentang perubahan kemampuan manusia dalam mengatur kehidupannya.

Dari Memberi kepada Membangkitkan

Di sinilah PPM membedakan antara pendekatan karitatif dan pemberdayaan.

Memberi bantuan dapat menyelesaikan kebutuhan sesaat.

Tetapi membangkitkan kemampuan dapat membuka jalan bagi perubahan yang lebih panjang.

Jika masyarakat kekurangan air, persoalannya bukan semata-mata bagaimana menghadirkan pompa.

Pertanyaan pertama justru:

Mengapa air tidak tersedia?

Apa yang selama ini telah dilakukan masyarakat?

Di mana sumber airnya?

Bagaimana kondisi lingkungan?

Apakah masalahnya teknologi, pengelolaan, kelembagaan, atau akses?

Siapa yang memiliki sumber daya?

Siapa yang mengambil keputusan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita dari solusi instan menuju pemahaman terhadap persoalan.

Ketika teknologi memang diperlukan, teknologi tersebut kemudian ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kemampuan masyarakat, bukan menggantikan peran masyarakat.

Inilah pergeseran penting:

dari memberi kepada membangkitkan.

Rakyat Tidak Hanya Membutuhkan Modal

Kemiskinan juga tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan persoalan kurangnya modal.

Modal memang penting.

Tetapi modal tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan apabila masyarakat tidak memiliki akses pasar, teknologi, informasi, jaringan, kelembagaan, perlindungan, maupun posisi tawar.

Karena itu, pembangunan rakyat harus melihat persoalan secara lebih utuh.

Seorang pedagang kecil mungkin membutuhkan tambahan modal.

Tetapi ia juga mungkin membutuhkan akses distribusi.

Petani mungkin membutuhkan pembiayaan.

Tetapi ia juga membutuhkan kepastian pasar.

Pelaku UMKM mungkin membutuhkan peralatan.

Tetapi ia juga membutuhkan pengetahuan produksi, pemasaran, kelembagaan, dan jaringan usaha.

Dengan demikian:

modal adalah bagian dari solusi, bukan satu-satunya solusi.

Yang dibangun bukan hanya aset masyarakat, tetapi juga kemampuan masyarakat mengelola aset tersebut.

Ideopraxis: Ketika Gagasan Menjadi Tindakan

Menjadi pelaku sejarah menuntut lebih dari sekadar memiliki gagasan.

Gagasan harus diuji dalam kehidupan.

Dalam kerangka pemikiran PPM, hal tersebut dapat dibaca melalui konsep ideopraxis.

Ideopraxis adalah proses ketika gagasan diterjemahkan menjadi tindakan nyata, diuji melalui pengalaman, direfleksikan, dipelajari, lalu dikembangkan kembali.

Dengan demikian, gagasan tidak berhenti di ruang diskusi.

Ia masuk ke kehidupan.

Prosesnya bergerak:

Gagasan → Metodologi → Praksis → Refleksi → Pembelajaran → Transformasi.

Di sinilah masyarakat menjadi pelaku pembelajaran.

Masyarakat tidak hanya menjadi penerima pengetahuan.

Masyarakat menghasilkan pengetahuan dari pengalaman hidupnya sendiri.

Masyarakat sebagai Universitas Kehidupan

Bagi PPM, masyarakat adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai.

Di dalam masyarakat terdapat persoalan nyata, konflik kepentingan, pengalaman keberhasilan, kegagalan, kreativitas, solidaritas, dan berbagai bentuk pengetahuan yang tidak selalu ditemukan dalam buku.

Karena itu, pemberdayaan seharusnya tidak menjadikan masyarakat sebagai objek eksperimen.

Masyarakat adalah universitas kehidupan.

Di sanalah teori diuji.

Di sanalah metode diperbaiki.

Di sanalah gagasan menemukan relevansinya.

Dan di sanalah kader-kader baru lahir.

Seorang aktivis tidak hanya datang untuk mengajarkan sesuatu kepada masyarakat.

Ia juga datang untuk belajar dari masyarakat.

Hubungan tersebut bukan hubungan antara yang tahu dan yang tidak tahu.

Melainkan hubungan antara manusia yang sama-sama belajar untuk menemukan jalan perubahan.

Program Boleh Berakhir, Sejarah Harus Berlanjut

Salah satu ukuran penting sebuah gerakan adalah apa yang terjadi setelah program berakhir.

Program memiliki tanggal mulai.

Program memiliki tanggal selesai.

Tetapi perubahan masyarakat tidak boleh berhenti pada tanggal tersebut.

Jika setelah sebuah program selesai masyarakat kembali menunggu bantuan, maka proses pemberdayaan perlu dipertanyakan.

Sebaliknya, apabila setelah program selesai masyarakat mampu melanjutkan, memperbaiki, mengembangkan, bahkan menciptakan inisiatif baru, maka proses telah menghasilkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar output.

Ia telah menghasilkan kapasitas.

Karena itu:

Program adalah kendaraan, proses adalah perjalanan.

Program dapat melahirkan kegiatan.

Proses melahirkan kemampuan.

Kemampuan melahirkan kemandirian.

Kemandirian melahirkan gerakan.

Dan gerakanlah yang memungkinkan masyarakat terus menulis sejarahnya sendiri.

Kaderisasi: Agar Sejarah Tidak Berhenti pada Satu Generasi

Sebuah gerakan tidak akan menjadi sejarah apabila hanya bergantung kepada satu atau dua orang.

Sejarah membutuhkan regenerasi.

Karena itu, kaderisasi bukan sekadar proses pergantian kepengurusan.

Kaderisasi adalah proses pewarisan nilai, pengetahuan, pengalaman, metodologi, dan keberanian untuk mengambil tanggung jawab.

Orang yang berhasil melakukan sesuatu belum tentu berhasil membangun gerakan.

Tetapi orang yang mampu membuat orang lain mampu melakukan sesuatu telah mulai membangun keberlanjutan.

Di sinilah kaderisasi menjadi bagian dari pembangunan rakyat.

Membangun manusia berarti menyiapkan manusia lain untuk mampu melanjutkan pekerjaan sejarah.

Jalan Tengah: Mempertemukan Kekuatan

Menjadi pelaku sejarah tidak berarti masyarakat harus berjalan sendirian.

Kemandirian bukan isolasi.

Masyarakat tetap membutuhkan negara, dunia usaha, perguruan tinggi, teknologi, lembaga keuangan, dan berbagai kekuatan sosial lainnya.

Yang penting adalah bagaimana seluruh kekuatan tersebut ditempatkan dalam hubungan yang memperkuat masyarakat.

Inilah relevansi Jalan Tengah PPM.

Jalan Tengah bukan sekadar mengambil posisi di antara berbagai pilihan.

Ia adalah metodologi untuk mempertemukan:

  • negara dan masyarakat,
  • modal dan rakyat,
  • teknologi dan kebutuhan,
  • pengetahuan dan pengalaman,
  • program dan proses,
  • gagasan dan kenyataan.

Semua dapat bekerja bersama, tetapi masyarakat tetap memiliki ruang untuk menentukan arah kehidupannya.

Ketika Rakyat Menulis Sejarahnya Sendiri

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa banyak gedung yang dibangun, berapa banyak bantuan yang diberikan, atau berapa banyak program yang dilaksanakan.

Ukuran yang lebih mendasar adalah:

apakah manusia menjadi lebih mampu?

Apakah masyarakat semakin mampu mengorganisasi dirinya?

Apakah mereka semakin mampu mengambil keputusan?

Apakah mereka mampu mengelola sumber daya?

Apakah mereka mampu membangun kerja sama?

Apakah mereka mampu melahirkan kader baru?

Dan apakah mereka mampu meneruskan perubahan tanpa terus-menerus menunggu pihak luar?

Jika jawabannya ya, maka pembangunan telah bergerak ke tingkat yang lebih dalam.

Rakyat tidak lagi sekadar menjadi penerima sejarah.

Rakyat telah menjadi pelaku sejarahnya sendiri.

Penutup: Dari Masyarakat untuk Peradaban

Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri.

Tetapi satu hal tetap penting: masa depan masyarakat tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada pihak lain.

Pemerintah dapat membuat kebijakan.

Pasar dapat menyediakan peluang.

Teknologi dapat membuka kemungkinan baru.

Lembaga pendidikan dapat menyediakan pengetahuan.

Tetapi perubahan yang bertahan pada akhirnya membutuhkan masyarakat yang mampu mengambil peran.

Karena itu, tugas gerakan pemberdayaan bukan menggantikan masyarakat.

Tugasnya adalah membangkitkan kemampuan masyarakat agar mampu berdiri, berpikir, bekerja, berorganisasi, dan menentukan masa depannya sendiri.

Di situlah pembangunan menemukan maknanya.

Bukan sekadar membangun untuk rakyat, tetapi membangun bersama rakyat.

Bukan sekadar membuat rakyat menerima perubahan, tetapi membuat rakyat menjadi pencipta perubahan.

Dan bukan sekadar menghadirkan program untuk hari ini, tetapi menumbuhkan kemampuan agar masyarakat mampu menulis sejarahnya sendiri untuk hari esok.(ppmindonesia)

PPM — Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat, Untuk Peradaban.

Example 120x600