Pemberdayaan bukan tentang memberi apa yang kita punya, tetapi membangkitkan kemampuan masyarakat untuk menemukan dan membangun jalan hidupnya sendiri.
OPINI ppmIndonesia
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ada sebuah ungkapan yang sangat populer dalam dunia pemberdayaan masyarakat:
“Jangan beri seseorang ikan, karena ia hanya akan makan sehari. Berilah ia pancing, agar ia dapat mencari ikan sendiri.”
Ungkapan ini terdengar sederhana dan masuk akal.
Tetapi, bagi Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), ada satu pertanyaan yang lebih mendasar:
Bagaimana kalau orang tersebut sebenarnya tidak suka memancing?
Atau lebih jauh:
Bagaimana kalau persoalannya bukan tidak memiliki pancing, tetapi memang tidak ada ikan di sungai itu?
Pertanyaan sederhana tersebut membawa kita pada persoalan besar dalam pembangunan masyarakat.
Pemberdayaan bukan sekadar mengganti ikan dengan pancing.
Pemberdayaan adalah proses membantu masyarakat menemukan jalan yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, pengalaman, lingkungan, dan pilihan mereka sendiri.
Karena itu, PPM menawarkan cara pandang yang lebih kritis:
Jangan memberi ikan. Tetapi jangan pula memaksakan pancing.
Dari Memberi kepada Membangkitkan
Memberikan ikan dapat menyelesaikan kebutuhan hari ini.
Tetapi jika dilakukan terus-menerus, bantuan dapat menciptakan ketergantungan.
Karena itu, pemberdayaan kemudian memperkenalkan gagasan memberikan pancing.
Masalahnya, pendekatan tersebut masih dapat menyimpan persoalan yang sama apabila pancing tetap ditentukan oleh orang luar.
Masyarakat diberi pancing.
Diajari cara menggunakannya.
Kemudian diminta memancing.
Padahal belum tentu memancing merupakan pilihan terbaik bagi mereka.
Mungkin masyarakat memiliki lahan yang lebih cocok untuk pertanian.
Mungkin mereka memiliki keterampilan mengolah hasil laut.
Mungkin mereka lebih membutuhkan koperasi untuk memperkuat posisi tawar.
Mungkin persoalannya adalah akses pasar.
Mungkin persoalannya adalah jalan distribusi.
Mungkin bahkan persoalannya bukan ekonomi semata, tetapi kelembagaan sosial.
Karena itu, pemberdayaan harus dimulai dari membaca kehidupan masyarakat, bukan dari membawa solusi yang sudah jadi.
Masyarakat Bukan Halaman Kosong
Kesalahan mendasar dalam banyak pendekatan pembangunan adalah menganggap masyarakat sebagai ruang kosong yang harus diisi.
Datang dengan program.
Datang dengan teknologi.
Datang dengan modal.
Datang dengan pelatihan.
Datang dengan desain kegiatan.
Lalu masyarakat ditempatkan sebagai penerima.
Padahal masyarakat memiliki sejarahnya sendiri.
Mereka memiliki pengetahuan.
Mereka memiliki pengalaman.
Mereka memiliki cara bertahan hidup.
Mereka memiliki jaringan sosial.
Mereka memiliki tradisi dan kebiasaan.
Bahkan sering kali mereka sudah mencoba berbagai cara untuk menyelesaikan persoalannya jauh sebelum sebuah program datang.
Maka pertanyaan pertama seorang pendamping seharusnya bukan:
“Apa yang akan kita berikan?”
Tetapi:
“Apa yang selama ini telah dilakukan masyarakat?”
Dari sana proses pemberdayaan dimulai.
Jangan Memaksakan Solusi
Pemberdayaan memiliki paradoks.
Semakin kuat keinginan membantu, semakin besar pula kemungkinan seseorang memaksakan solusi.
Karena orang luar datang dengan pengetahuan, pengalaman, teknologi, dan sumber daya yang dianggap lebih baik.
Namun apa yang baik menurut pendamping belum tentu baik menurut masyarakat.
Sebuah teknologi dapat dianggap tepat secara teknis, tetapi tidak sesuai dengan kemampuan masyarakat untuk mengoperasikan dan memeliharanya.
Sebuah usaha dapat dianggap menjanjikan, tetapi tidak sesuai dengan budaya kerja masyarakat.
Sebuah pelatihan dapat dianggap bagus, tetapi tidak menjawab kebutuhan nyata.
Sebuah kelompok dapat dibentuk dengan cepat, tetapi tidak memiliki akar sosial.
Karena itu, ukuran “tepat” tidak cukup hanya secara teknis.
Sesuatu baru benar-benar tepat apabila dapat diterima, dimiliki, dikelola, dan dikembangkan oleh masyarakat.
Belajar dari Persoalan Air
Bayangkan sebuah desa mengalami kekurangan air.
Respons yang paling cepat mungkin adalah membangun sumur, memasang pompa, atau menarik pipa.
Semua itu bisa saja diperlukan.
Tetapi sebelum melakukannya, ada pertanyaan yang harus diajukan.
Mengapa air tidak tersedia?
Apakah sumber airnya memang tidak ada?
Apakah sumber air berada terlalu jauh?
Apakah terjadi kerusakan lingkungan?
Apakah terdapat persoalan pengelolaan?
Apakah teknologi yang selama ini digunakan tidak sesuai?
Apakah masyarakat memiliki pengalaman mengelola sumber air secara bersama?
Dan yang tidak kalah penting:
Apa yang menurut masyarakat sendiri menjadi persoalannya?
Dari pertanyaan tersebut mungkin ditemukan bahwa pompa memang diperlukan.
Tetapi mungkin juga ditemukan bahwa masalah utamanya adalah kerusakan daerah tangkapan air, konflik pengelolaan, atau tidak adanya kelembagaan masyarakat.
Dengan demikian, solusi lahir dari pemahaman terhadap persoalan, bukan sekadar dari daftar teknologi yang tersedia.
Pemberdayaan Dimulai dari Mendengarkan
Mendengarkan sering kali dianggap sebagai tahap kecil dalam sebuah program.
Padahal dalam pemberdayaan, mendengarkan adalah metodologi.
Mendengarkan berarti memberikan ruang kepada masyarakat untuk menjelaskan kehidupannya sendiri.
Apa masalahnya?
Apa yang mereka anggap penting?
Apa yang sudah mereka coba?
Apa yang berhasil?
Apa yang gagal?
Apa yang mereka inginkan?
Apa yang mereka sanggupi?
Dan apa yang tidak mereka inginkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penerima program.
Mereka mulai menjadi perumus persoalan dan pencari jalan keluar.
Di sinilah posisi masyarakat berubah:
dari objek menjadi subjek.
PPM: Dari Memberi kepada Membangkitkan
Bagi PPM, tujuan pemberdayaan bukan membuat masyarakat semakin bergantung kepada lembaga pendamping.
Justru sebaliknya.
Pendampingan harus semakin lama semakin membuat masyarakat mampu berjalan dengan kekuatannya sendiri.
Karena itu, PPM menempatkan proses pemberdayaan dalam sejumlah pergeseran:
- Dari memberi kepada membangkitkan.
- Dari bantuan kepada kemampuan.
- Dari objek kepada subjek.
- Dari program kepada proses.
- Dari ketergantungan kepada kemandirian.
- Dari proyek kepada gerakan.
Pergeseran tersebut tidak terjadi melalui satu kegiatan.
Ia membutuhkan proses belajar.
Program Bukan Tujuan
Sebuah program dapat memiliki anggaran besar, peserta banyak, kegiatan padat, dan laporan yang lengkap.
Tetapi semua itu belum otomatis menunjukkan bahwa masyarakat telah berdaya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang tersisa setelah program selesai?
Apakah ada kemampuan baru?
Apakah ada kelembagaan yang lebih kuat?
Apakah masyarakat mampu mengambil keputusan sendiri?
Apakah mereka mampu mengelola sumber daya?
Apakah mereka mampu memecahkan persoalan baru?
Apakah muncul kader-kader baru?
Apakah masyarakat dapat melanjutkan kegiatan tanpa terus-menerus menunggu pendamping?
Jika jawabannya ya, maka program telah berubah menjadi proses.
Karena:
Program adalah kendaraan. Proses adalah perjalanan.
Dan perjalanan pemberdayaan tidak berakhir ketika program selesai.
Tidak Semua Orang Harus Menjadi Pemancing
Metafora ikan dan pancing juga mengajarkan sesuatu yang penting.
Manusia memiliki bakat, pengalaman, lingkungan, dan pilihan yang berbeda.
Tidak semua orang harus menjadi pemancing.
Ada yang menjadi petani.
Ada yang menjadi pedagang.
Ada yang menjadi pengrajin.
Ada yang menjadi guru.
Ada yang mengembangkan koperasi.
Ada yang mengelola lingkungan.
Ada yang menjadi pengusaha.
Ada yang bekerja dalam kebudayaan.
Ada pula yang memilih mengorganisasi masyarakat.
Pemberdayaan bukan proses membuat semua orang melakukan hal yang sama.
Pemberdayaan adalah proses agar setiap orang dan setiap komunitas dapat menemukan kemampuan terbaiknya dan menggunakannya untuk membangun kehidupan bersama.
Dari Solusi yang Diberikan Menuju Solusi yang Ditemukan
Perbedaan mendasar antara bantuan dan pemberdayaan terletak pada siapa yang menemukan solusi.
Dalam pendekatan bantuan, solusi biasanya datang dari luar.
Dalam pemberdayaan, solusi dibangun bersama masyarakat.
Bahkan jika solusi akhirnya berasal dari pengetahuan atau teknologi luar, masyarakat tetap harus menjadi bagian dari proses menemukan, memilih, menguji, dan mengembangkannya.
Di sinilah konsep ideopraxis menemukan tempatnya.
Gagasan tidak langsung dianggap benar.
Ia diuji dalam kenyataan.
Kemudian direfleksikan.
Dipelajari.
Diperbaiki.
Dan dipraktikkan kembali.
Gagasan → Metodologi → Praksis → Refleksi → Pembelajaran → Transformasi.
Masyarakat bukan hanya pengguna solusi.
Mereka menjadi bagian dari proses produksi pengetahuan dan perubahan.
Jalan Tengah Pemberdayaan
Pendekatan tersebut juga menjelaskan mengapa PPM berbicara tentang Jalan Tengah.
Jalan Tengah bukan berarti memilih antara memberi ikan atau memberikan pancing.
Jalan Tengah justru mempertanyakan:
Apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat?
Jika hari ini mereka membutuhkan ikan karena sedang menghadapi keadaan darurat, membantu menyediakan ikan dapat menjadi tindakan yang tepat.
Jika mereka membutuhkan alat untuk meningkatkan kemampuan produksinya, alat dapat diberikan.
Jika mereka membutuhkan modal, akses pembiayaan dapat dibangun.
Jika mereka membutuhkan teknologi, teknologi dapat dikembangkan.
Jika mereka membutuhkan organisasi, kelembagaan dapat diperkuat.
Tetapi semua itu harus ditempatkan dalam satu pertanyaan besar:
Apakah tindakan tersebut memperkuat kemampuan masyarakat atau justru memperpanjang ketergantungan?
Inilah inti Jalan Tengah.
Bukan menolak bantuan.
Bukan pula mengagungkan kemandirian secara romantis.
Tetapi menempatkan bantuan, modal, teknologi, kebijakan, dan pengetahuan sebagai sarana untuk membangun kemampuan rakyat.
Masyarakat sebagai Universitas Kehidupan
Dalam perspektif PPM, masyarakat bukan hanya penerima pembangunan.
Masyarakat adalah tempat belajar.
Setiap persoalan menjadi bahan pembelajaran.
Setiap keberhasilan menjadi pengalaman.
Setiap kegagalan menjadi refleksi.
Setiap perubahan menjadi pengetahuan baru.
Karena itu, proses pemberdayaan pada akhirnya membangun sebuah learning community—komunitas yang terus belajar dari kehidupannya sendiri.
Pendamping juga belajar.
Masyarakat juga belajar.
Pengetahuan bertemu pengalaman.
Teori bertemu praksis.
Dan dari pertemuan tersebut lahir kemungkinan-kemungkinan baru.
Ukuran Keberhasilan: Masyarakat Tidak Lagi Menunggu
Barangkali salah satu ukuran paling sederhana dari pemberdayaan adalah:
Apakah masyarakat masih menunggu kita?
Jika setiap persoalan selalu menunggu lembaga datang, program berikutnya turun, atau bantuan berikutnya tersedia, maka ketergantungan masih berlangsung.
Tetapi jika masyarakat mulai mengatakan:
“Kami akan mencoba.”
“Kami sudah menemukan caranya.”
“Kami akan mengorganisasi warga.”
“Kami akan mencari mitra.”
“Kami akan memperbaiki kesalahan kami.”
Maka sesuatu yang penting telah tumbuh.
Bukan sekadar sebuah kegiatan.
Tetapi rasa memiliki terhadap perubahan.
Dan ketika rasa memiliki tumbuh, masyarakat mulai mengambil alih masa depannya sendiri.
Penutup: Bukan Ikan, Bukan Pancing, tetapi Jalan
Pada akhirnya, persoalan pemberdayaan bukan tentang memilih antara ikan atau pancing.
Persoalannya adalah apakah kita mampu menghargai manusia sebagai subjek yang memiliki kehendak, pengalaman, kemampuan, dan pilihan.
Mungkin kadang mereka membutuhkan ikan.
Mungkin kadang mereka membutuhkan pancing.
Mungkin mereka membutuhkan perahu.
Mungkin mereka membutuhkan pasar.
Mungkin mereka membutuhkan koperasi.
Mungkin mereka membutuhkan teknologi.
Atau mungkin mereka membutuhkan sesuatu yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya.
Tugas pemberdayaan bukan menentukan jawabannya sejak awal.
Tugas pemberdayaan adalah membantu masyarakat menemukan jawabannya sendiri.
Karena itu, prinsipnya sederhana:
Jangan memberi ikan sebagai jawaban permanen.
Jangan memaksakan pancing sebagai satu-satunya jalan.
Bantu masyarakat menemukan jalan yang mereka pilih, mampu mereka jalankan, dan dapat mereka kembangkan sendiri.
Sebab tujuan akhir pemberdayaan bukan membuat masyarakat pandai menggunakan pancing milik kita.
Tujuannya adalah membuat masyarakat mampu menemukan jalannya sendiri menuju kehidupan yang lebih baik.
Dan ketika itu terjadi, masyarakat tidak lagi menjadi objek pembangunan.
Mereka menjadi pelaku sejarahnya sendiri. (ppmindonesia)





























