Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Benarkah Bershalawat Hanya dengan Melafalkan Shalawat? Al-Qur’an Memberi Perspektif Lain

7
×

Benarkah Bershalawat Hanya dengan Melafalkan Shalawat? Al-Qur’an Memberi Perspektif Lain

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

JAKARTA.PPMIndonesia.com — Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW telah menjadi bagian penting dalam kehidupan keagamaan umat Islam. Dalam berbagai kesempatan, umat membaca shalawat sebagai bentuk penghormatan, kecintaan, dan doa kepada Rasulullah SAW.

Namun, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an: Apakah perintah bershalawat dalam Al-Qur’an hanya berarti melafalkan kalimat shalawat, atau terdapat makna yang lebih luas yang dapat ditelusuri melalui ayat-ayat Al-Qur’an lainnya?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pokok kajian Kanal Syahida bersama Husni Nasution. Dalam pembacaan ini, makna shallū ‘alaihi wa sallimū taslīma ditelusuri melalui hubungan antarayat, terutama QS Al-Ahzab ayat 56, QS Al-A’raf ayat 157, QS Asy-Syura ayat 52, QS An-Nisa ayat 174, dan QS Az-Zumar ayat 22.

Perintah Bershalawat dalam Al-Qur’an

Ayat yang secara langsung memerintahkan orang beriman untuk bershalawat terdapat dalam QS Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
(QS Al-Ahzab [33]:56)

Secara umum, ayat tersebut menjadi dasar utama praktik membaca shalawat kepada Nabi.

Namun, pendekatan Qur’an bil Qur’an tidak berhenti pada satu ayat. Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana Al-Qur’an sendiri menjelaskan bentuk keberimanan kepada Rasulullah?

Jawabannya antara lain dapat ditemukan dalam QS Al-A’raf ayat 157.

Beriman kepada Rasul dan Mengikuti Nur

Allah menggambarkan Rasul yang diutus kepada manusia sebagai an-nabiyy al-ummiy, sekaligus menjelaskan respons orang-orang yang beriman kepadanya.

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS Al-A’raf [7]:157)

Ayat ini menarik perhatian karena setelah menyebut iman kepada Rasul, memuliakan dan menolongnya, Al-Qur’an menyebut satu tindakan lain, yaitu:

وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥ

“dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya.”

Dalam kajian Husni Nasution, bagian ayat tersebut menjadi salah satu kunci untuk membaca makna shalawat secara lebih luas.

Dengan pendekatan ini, penghormatan kepada Rasul tidak hanya ditempatkan pada ekspresi verbal, tetapi juga pada mengikuti nur yang diturunkan bersama Rasulullah.

Apa yang Dimaksud dengan Nur?

Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang dimaksud dengan nur tersebut?

Kajian Qur’an bil Qur’an kemudian menghubungkannya dengan QS Asy-Syura ayat 52:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِى مَا ٱلْكِتَٰبُ وَلَا ٱلْإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلْنَٰهُ نُورًا نَّهْدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing kepada jalan yang lurus.”
(QS Asy-Syura [42]:52)

Di dalam ayat ini terdapat rangkaian penting:

رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا — rūḥan min amrinā
“ruh dari perintah Kami”

kemudian:

جَعَلْنَاهُ نُورًا — ja‘alnāhu nūran
“Kami menjadikannya cahaya.”

Dalam perspektif Husni Nasution, rangkaian tersebut dapat menjadi pintu untuk memahami bahwa nur yang berkaitan dengan Rasul adalah wahyu Allah yang menjadi petunjuk.

Dengan demikian, mengikuti Rasul tidak dapat dipisahkan dari mengikuti petunjuk yang Allah wahyukan melalui Rasul tersebut.

Nur sebagai Petunjuk yang Terang

Gagasan mengenai nur juga ditemukan dalam QS An-Nisa ayat 174:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَكُم بُرْهَٰنٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

“Wahai manusia! Sungguh, telah sampai kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.”
(QS An-Nisa [4]:174)

Ayat tersebut memperlihatkan hubungan antara burhan dan nur mubin—bukti yang nyata dan cahaya yang menerangkan.

Bagi pendekatan Syahida, ayat ini memperkuat pemahaman bahwa wahyu tidak sekadar dibaca sebagai teks, tetapi menjadi cahaya yang memberikan arah kehidupan.

Berada di Atas Nur dari Tuhan

Al-Qur’an kemudian menggambarkan keadaan orang yang menerima Islam sebagai orang yang berada di atas cahaya dari Tuhannya.

Allah berfirman:

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِۦ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

“Maka apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang hatinya membatu? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”
(QS Az-Zumar [39]:22)

Ayat ini membawa kajian pada dimensi kesadaran.

Islam dalam ayat tersebut dikaitkan dengan kelapangan dada dan nur dari Tuhan. Karena itu, dalam pembacaan Husni Nasution, mengikuti nur bukan hanya persoalan mengetahui wahyu, tetapi juga membuka diri untuk menerima petunjuk Allah dalam kehidupan.

Dari Aslama Menuju Rasyad

Kajian tersebut kemudian menghubungkan konsep nur dengan kata aslama dalam QS Al-Jinn ayat 14:

وَأَنَّا مِنَّا ٱلْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا ٱلْقَٰسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ تَحَرَّوْا۟ رَشَدًا

“Dan sesungguhnya di antara kami ada yang berserah diri dan ada pula yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa berserah diri, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.
(QS Al-Jinn [72]:14)

Kata أَسْلَمَ (aslama) dalam ayat tersebut menunjuk pada sikap berserah diri kepada Allah, sedangkan تَحَرَّوْا رَشَدًا (taḥarraw rasyadā) berkaitan dengan mencari atau memilih jalan yang benar/lurus.

Dalam perspektif kajian Syahida, rangkaian ayat tersebut memperlihatkan sebuah proses: wahyu menjadi nur, nur memberi petunjuk, Islam membuka kesadaran, dan manusia mencari rasyad—jalan yang benar.

Bagaimana dengan Hadis tentang Shalawat?

Tradisi hadis juga mengenal berbagai riwayat mengenai keutamaan membaca shalawat. Salah satunya diriwayatkan oleh Muslim:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR Muslim)

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan keutamaan membaca shalawat kepada Nabi.

Namun, dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, hadis tersebut dapat ditempatkan berdampingan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan bagaimana keimanan kepada Rasul diwujudkan: beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, serta mengikuti nur yang diturunkan bersamanya.

Dengan demikian, pembacaan ini tidak harus mempertentangkan shalawat sebagai ucapan dengan shalawat sebagai penghayatan dan tindakan. Keduanya dapat ditempatkan pada ranah yang berbeda: lafaz shalawat sebagai bentuk ibadah dan penghormatan, sementara mengikuti petunjuk wahyu merupakan konsekuensi kehidupan dari iman kepada Rasul.

Shalawat: Dari Ucapan Menuju Penghayatan

Dari rangkaian ayat tersebut, kajian Husni Nasution mengajukan satu refleksi penting: jangan sampai shalawat berhenti pada suara yang keluar dari lisan, tetapi tidak berlanjut menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

QS Al-Ahzab ayat 56 memang memerintahkan orang beriman untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi. Namun QS Al-A’raf ayat 157 menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Rasul juga mengikuti nur yang diturunkan bersamanya.

Di sinilah pendekatan Qur’an bil Qur’an bekerja: satu ayat dibaca bersama ayat lain sehingga makna yang dikaji tidak hanya bertumpu pada satu potongan ayat.

Catatan Kajian Syahida

Dalam pembacaan Qur’an bil Qur’an Husni Nasution, hubungan ayat-ayat tersebut dapat diringkas dalam sebuah alur:

Rasulullah → Wahyu → Nur → Petunjuk → Islam → Rasyad.

Karena itu, pertanyaan “Benarkah bershalawat hanya dengan melafalkan shalawat?” mendapatkan perspektif yang lebih luas.

Melafalkan shalawat tetap merupakan bentuk penghormatan kepada Rasulullah sebagaimana dikenal dalam tradisi Islam. Tetapi kajian Syahida mengajak pembaca melihat dimensi lain: penghormatan kepada Rasul juga diwujudkan dengan mengikuti nur yang diturunkan bersamanya dan menjadikan petunjuk Allah sebagai cahaya dalam kehidupan.

Pada akhirnya, shalawat tidak hanya berbicara tentang apa yang diucapkan oleh lisan, tetapi juga tentang ke mana kehidupan diarahkan oleh cahaya wahyu. (syahida)

Example 120x600