Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

MENGAPA HATI MANUSIA SELALU MENCARI CINTA?

1
×

MENGAPA HATI MANUSIA SELALU MENCARI CINTA?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

 

Mengapa manusia membutuhkan cinta, pasangan, keluarga, kasih sayang, dan rasa memiliki? Al-Qur’an tidak memandang kebutuhan itu sebagai kelemahan. Melalui konsep fitrah, sakinah, mawaddah, dan rahmah, Al-Qur’an menunjukkan bahwa kecenderungan manusia untuk mencintai merupakan bagian dari struktur penciptaannya sekaligus jalan menuju kesadaran kepada Allah.


Ketika Hati Tidak Pernah Berhenti Mencari

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Manusia dapat memiliki rumah, harta, jabatan, ilmu, bahkan berbagai bentuk keberhasilan. Namun ada kebutuhan yang tetap dicari sepanjang hidup: cinta.

Manusia ingin dicintai dan mencintai. Ia mencari pasangan, membangun keluarga, menyayangi anak, menjalin persahabatan, merawat orang tua, dan ingin hidupnya berarti bagi orang lain.

Mengapa?

Apakah cinta sekadar reaksi biologis? Apakah ia hanya kebutuhan psikologis? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar di balik kecenderungan manusia untuk mencari dan memberi cinta?

Pendekatan Qur’an bil Qur’an mengajak kita mencari jawaban dari Al-Qur’an sendiri.

Menariknya, Al-Qur’an tidak memulai pembahasannya dengan kata “cinta” semata, tetapi dengan fitrah penciptaan manusia.

Manusia Diciptakan dengan Fitrah

Allah berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

QS Ar-Rum: 30

Ayat ini memberikan kata kunci penting: fitrah.

Fitrah menunjukkan keadaan dasar yang melekat pada penciptaan manusia. Karena itu, pencarian manusia terhadap makna, kebaikan, hubungan, dan cinta tidak dapat begitu saja dianggap sebagai sesuatu yang berada di luar desain penciptaan.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana Al-Qur’an menjelaskan bentuk relasional dari fitrah tersebut?

Jawabannya ditemukan dalam konsep pasangan.

Dari Satu Jiwa Menjadi Relasi

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, serta dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

QS An-Nisa: 1

Perhatikan cara Al-Qur’an menggambarkan manusia.

Manusia tidak pertama-tama digambarkan sebagai individu yang berdiri sendiri. Ia digambarkan berasal dari satu nafs dan memiliki zauj.

Dari relasi itu kemudian berkembang kehidupan manusia.

Dalam perspektif ini, relasi bukan tambahan bagi kehidupan manusia. Relasi merupakan bagian penting dari struktur kehidupan itu sendiri.

Cinta Tidak Berhenti pada Ketertarikan

QS Ali Imran ayat 14 menyebut bahwa manusia memiliki kecenderungan terhadap berbagai hal yang menarik:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang banyak dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.”

QS Ali Imran: 14

Ayat ini menarik karena menyebut perempuan dan anak-anak sebelum harta, ternak, dan lahan.

Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada daya tarik tersebut.

Ayat berikutnya justru mengarahkan perhatian manusia kepada sesuatu yang lebih tinggi:

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Katakanlah, ‘Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik daripada yang demikian itu?’ Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, pasangan-pasangan yang disucikan, dan keridaan dari Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”

QS Ali Imran: 15

Di sinilah arah pembacaan Qur’an bil Qur’an menjadi penting.

Manusia memiliki kecenderungan mencintai sesuatu di dunia, tetapi Al-Qur’an mengajarkan bahwa cinta tidak boleh berhenti pada objeknya.

Cinta dapat menjadi jalan menuju ridha Allah.

Sakinah: Cinta yang Menghasilkan Ketenangan

Ayat yang paling jelas menjelaskan hubungan manusia dengan pasangan terdapat dalam QS Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

QS Ar-Rum: 21

Di sini Al-Qur’an menggunakan tiga konsep penting:

أَزْوَاجًا — azwājan
pasangan;

لِّتَسْكُنُوا — litaskunū
agar memperoleh ketenteraman;

مَوَدَّةً وَرَحْمَةً — mawaddatan wa rahmah
kasih sayang dan rahmat.

Dengan demikian, cinta dalam perspektif Al-Qur’an tidak sekadar ketertarikan.

Cinta yang matang bergerak menuju sakinah, kemudian diwujudkan melalui mawaddah dan rahmah.

Mengapa Disebut “Ayat Allah”?

Ada satu bagian yang sering luput dari perhatian.

Setelah menyebut pasangan, ketenteraman, kasih dan sayang, Allah menutup ayat dengan:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Artinya, hubungan manusia bukan hanya fenomena sosial.

Ia adalah ayat—tanda yang dapat mengantarkan manusia mengenal Allah.

Cinta menjadi jendela untuk membaca kebesaran Sang Pencipta.

Cinta dalam Keluarga: Dari Mawaddah Menuju Rahmah

Al-Qur’an tidak menggambarkan keluarga hanya sebagai hubungan biologis.

Ia membangun keluarga dengan nilai kasih sayang.

Karena itu, cinta memiliki dimensi tanggung jawab.

Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”

QS An-Nisa: 19

Cinta yang Qur’ani tidak berhenti pada perasaan.

Ia menjadi perlakuan yang baik.

Cinta harus terlihat dalam cara manusia memperlakukan pasangannya.

Dengan demikian, cinta bukan hanya sesuatu yang dirasakan di dalam hati, tetapi sesuatu yang diwujudkan dalam tindakan.

Anak: Cinta yang Menghubungkan Generasi

Pencarian cinta manusia juga menemukan bentuknya dalam hubungan orang tua dan anak.

Allah menggambarkan doa manusia:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’”

QS Al-Furqan: 74

Istilah قُرَّةَ أَعْيُنٍ (qurrata a’yun) menggambarkan anak dan keluarga sebagai sumber kesejukan mata.

Tetapi Al-Qur’an tidak berhenti pada kebanggaan memiliki anak.

Keluarga harus menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki nilai.

Cinta keluarga dengan demikian mempunyai dimensi peradaban.

Cinta yang Lebih Besar: Allah dan Rasul-Nya

Jika cinta kepada pasangan dan keluarga merupakan bagian dari fitrah, Al-Qur’an kemudian mengarahkan manusia kepada cinta yang lebih tinggi.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat kuat cintanya kepada Allah.”

QS Al-Baqarah: 165

Di sinilah struktur cinta Qur’ani menjadi jelas.

Manusia boleh mencintai:

  • pasangan,
  • anak,
  • keluarga,
  • harta,
  • kehidupan,
  • keindahan.

Tetapi cinta kepada Allah menempati kedudukan yang lebih tinggi.

Cinta kepada ciptaan tidak harus dihilangkan.

Ia harus ditempatkan dalam orientasi cinta kepada Sang Pencipta.

Ketika Cinta Dunia Mengalahkan Cinta kepada Allah

Al-Qur’an juga memberikan peringatan:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ

“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.”

QS At-Taubah: 24

Ayat ini tidak mengatakan keluarga, harta, dan tempat tinggal harus dibenci.

Justru semuanya disebut sebagai sesuatu yang secara alami dicintai manusia.

Yang menjadi persoalan adalah ketika cinta terhadap ciptaan menggeser orientasi kepada Allah.

Jadi problemnya bukan cinta.

Problemnya adalah hierarki cinta.

Cinta sebagai Jalan Pulang

Jika seluruh ayat tersebut dibaca secara bersambung, kita menemukan sebuah pola:

Fitrah → pasangan → sakinah → mawaddah → rahmah → keluarga → tanggung jawab → cinta kepada Allah.

Inilah salah satu pesan penting Kajian Syahida.

Manusia mencari cinta karena manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan relasional.

Namun pencarian cinta di dunia tidak harus berakhir pada manusia.

Ia dapat menjadi perjalanan menuju Allah.

Ketika seseorang mencintai pasangannya dengan tanggung jawab, ia sedang belajar tentang kasih.

Ketika seseorang mencintai anaknya, ia belajar tentang pengorbanan.

Ketika seseorang mencintai sesama, ia belajar tentang rahmah.

Dan ketika seluruh pengalaman cinta itu mengantarkannya kepada kesadaran bahwa semua kasih berasal dari Allah, maka cinta berubah menjadi jalan kesadaran tauhid.

Refleksi Kajian Syahida

Pertanyaan awal kita adalah:

Mengapa hati manusia selalu mencari cinta?

Al-Qur’an memberikan jawaban yang tidak sederhana.

Karena manusia memiliki fitrah.

Manusia diciptakan dalam relasi.

Manusia membutuhkan pasangan dan ketenteraman.

Manusia diberi kemampuan mencintai dan menyayangi.

Tetapi semua itu bukan tujuan akhir.

Cinta kepada manusia adalah bagian dari pengalaman hidup yang dapat mengantarkan manusia mengenal cinta kepada Allah.

Karena itu, cinta bukan sekadar perasaan.

Cinta adalah amanah.

Cinta adalah tanggung jawab.

Cinta adalah rahmat.

Dan pada tingkat terdalam, cinta adalah salah satu jalan yang membawa manusia menemukan kembali siapa dirinya dan kepada siapa ia harus kembali.

Hati Mencari Cinta karena Hati Mencari Makna

Manusia mungkin mengejar banyak hal dalam hidup: harta, jabatan, pengetahuan, popularitas, dan keberhasilan.

Tetapi pada akhirnya manusia tetap bertanya:

Untuk siapa semua itu?

Di situlah cinta menemukan maknanya.

Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk mematikan cinta dunia, melainkan menata dan memurnikan arahnya.

Cintailah pasangan.
Sayangilah anak.
Hormati orang tua.
Kasihilah sesama.
Rawat kehidupan.

Namun jangan berhenti pada ciptaan.

Biarkan cinta menjadi ayat yang membawa kita kepada Sang Pencipta.

Sebab hati manusia terus mencari cinta bukan karena ia lemah.

Hati mencari cinta karena manusia diciptakan untuk menemukan makna—dan pada akhirnya menemukan jalan pulang kepada Allah.


Kajian Syahida — Qur’an bil Qur’an
Rubrik Hikmah PPM | ppmindonesia.com

Example 120x600