Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

IPAMA: Ketika Pemberdayaan Masyarakat Harus Berani Bicara Bisnis

8
×

IPAMA: Ketika Pemberdayaan Masyarakat Harus Berani Bicara Bisnis

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

Dari Tradisi Peranserta Masyarakat Menuju Kemandirian Ekonomi

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Ada tradisi yang tidak boleh hilang dalam perjalanan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM): masyarakat bukan objek pembangunan. Masyarakat adalah subjek perubahan.

Tradisi itu bukan sekadar slogan. Ia lahir dari keyakinan bahwa perubahan sosial tidak dapat dipaksakan dari luar. Masyarakat mempunyai pengetahuan, pengalaman, kebudayaan, modal sosial, sumber daya alam, dan kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri. Karena itu, pekerjaan pemberdayaan bukanlah “mengajari masyarakat bagaimana hidup”, melainkan belajar bersama masyarakat untuk menemukan jalan keluar atas persoalan kehidupan mereka.

Dari tradisi itulah Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA) memperoleh ruang dan mandatnya.

IPAMA bukan sekadar lembaga pelaksana program. Ia harus menjadi ruang tempat gagasan bertemu dengan kenyataan, pengetahuan bertemu dengan pengalaman masyarakat, dan pemikiran bertemu dengan aksi.

Namun zaman berubah.

Persoalan masyarakat hari ini tidak cukup dijawab dengan seminar, pelatihan, pendampingan, atau pembentukan kelompok. Masyarakat membutuhkan sesuatu yang jauh lebih konkret: pekerjaan, pendapatan, usaha yang sehat, akses pasar, penguatan aset, dan kemampuan mengelola sumber daya yang mereka miliki.

Di sinilah IPAMA perlu berani mengajukan pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar:

Kalau pemberdayaan berbicara tentang kemandirian, mengapa kita harus takut berbicara tentang bisnis?

Pertanyaan ini penting karena terlalu lama dunia pemberdayaan terkadang terjebak dalam dikotomi seolah-olah bisnis adalah wilayah ekonomi, sementara pemberdayaan adalah wilayah sosial.

Padahal masyarakat tidak hidup dalam kotak-kotak tersebut.

Petani membutuhkan pengetahuan sekaligus pasar.

Nelayan membutuhkan pengorganisasian sekaligus akses modal.

Pelaku UMKM membutuhkan pelatihan sekaligus strategi bisnis.

Masyarakat sekitar hutan membutuhkan pendidikan ekologis sekaligus sumber pendapatan.

Desa membutuhkan penguatan kelembagaan sekaligus model ekonomi yang membuat potensi lokal mempunyai nilai tambah.

Karena itu, pemberdayaan yang tidak menyentuh ekonomi akan sulit mencapai kemandirian secara utuh.

Dan di titik inilah IPAMA harus berani mengambil posisi.

IPAMA tidak perlu malu berbicara bisnis.

Justru karena IPAMA berpihak pada kemandirian masyarakat, bisnis harus ditempatkan sebagai salah satu instrumen penting pemberdayaan.

Bukan bisnis untuk memperkaya segelintir orang.

Bukan bisnis yang mengeksploitasi masyarakat.

Tetapi bisnis yang membuat masyarakat memiliki daya tawar, memperoleh nilai tambah, menciptakan pekerjaan, membangun aset, dan pada akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Sebab pemberdayaan yang sejati bukanlah membuat masyarakat terus membutuhkan pendamping.

Pemberdayaan harus membuat pendamping pada akhirnya tidak lagi diperlukan.

Dan untuk sampai ke sana, kita harus berani berbicara tentang ekonomi.

Kita harus berani berbicara tentang produktivitas.

Kita harus berani berbicara tentang pasar.

Kita harus berani berbicara tentang keuntungan.

Dan, ya—kita harus berani berbicara tentang bisnis.

Pemberdayaan Tidak Boleh Melahirkan Ketergantungan

Selama bertahun-tahun, pemberdayaan masyarakat sering dipahami dalam kerangka yang sangat programatik.

Ada proyek, ada pendampingan, ada pelatihan, ada bantuan, kemudian ada laporan.

Ketika proyek selesai, pertanyaan berikutnya sering terlupakan:

Apakah masyarakat mampu berjalan sendiri?

Jika jawabannya belum, maka kita perlu berani mengevaluasi pendekatan pemberdayaan yang selama ini digunakan.

Pemberdayaan yang sejati bukanlah menciptakan masyarakat yang terus membutuhkan pendamping.

Pemberdayaan harus menghasilkan kapasitas untuk berdiri sendiri.

Karena itu, ukuran keberhasilan pemberdayaan tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak orang yang mengikuti pelatihan atau berapa banyak kelompok yang terbentuk.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah pendapatan meningkat? Apakah produktivitas meningkat? Apakah aset masyarakat bertambah? Apakah usaha menjadi lebih sehat? Apakah nilai tambah tinggal di masyarakat? Apakah ketergantungan terhadap bantuan berkurang?

Jika jawabannya ya, di situlah pemberdayaan mulai menemukan maknanya.

IPAMA dan Tradisi Belajar Bersama Masyarakat

IPAMA lahir dari tradisi pengembangan masyarakat yang menempatkan masyarakat bukan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek perubahan.

Tradisi ini penting untuk dipertahankan.

Masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, modal sosial, sumber daya alam, jaringan, dan kemampuan untuk berkembang. Tugas lembaga pemberdayaan bukan datang membawa resep pembangunan dari luar, melainkan belajar bersama masyarakat untuk menemukan potensi, persoalan, dan jalan keluarnya.

Tetapi belajar bersama masyarakat juga berarti berani masuk ke wilayah yang konkret.

Berapa biaya produksinya?

Siapa pembelinya?

Berapa margin usahanya?

Bagaimana rantai pasoknya?

Bagaimana produknya dikembangkan?

Bagaimana masyarakat memperoleh akses pasar?

Bagaimana teknologi digunakan?

Bagaimana usaha tersebut dapat bertahan ketika pendamping pergi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan pertanyaan kapitalistik yang harus dihindari.

Itu adalah pertanyaan tentang kemandirian.

Bisnis Bukan Lawan Pemberdayaan

Ada kecenderungan sebagian kalangan menganggap pembicaraan tentang bisnis sebagai sesuatu yang bertentangan dengan misi sosial.

Padahal masalahnya bukan pada bisnisnya.

Masalahnya adalah untuk siapa bisnis itu bekerja dan bagaimana manfaat ekonominya didistribusikan.

Bisnis dapat menjadi alat eksploitasi.

Tetapi bisnis juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan.

Perbedaannya terletak pada model, kepemilikan, tata kelola, distribusi nilai, dan tujuan yang hendak dicapai.

Karena itu IPAMA dapat mengambil jalan social entrepreneurship.

Bukan sekadar mencari keuntungan.

Bukan pula sekadar menjalankan kegiatan sosial.

Melainkan membangun model usaha yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial.

Masyarakat memperoleh pendapatan.

Kelompok memperoleh kekuatan ekonomi.

Sumber daya lokal memperoleh nilai tambah.

Dan organisasi memperoleh sumber pendapatan yang membuat program pemberdayaan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Inilah titik temu antara pemberdayaan dan bisnis.

Dari Potensi Lokal Menjadi Nilai Ekonomi

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya lokal yang luar biasa.

Ada pertanian.

Ada hutan.

Ada hasil hutan bukan kayu.

Ada perkebunan.

Ada perikanan.

Ada peternakan.

Ada kerajinan.

Ada pangan lokal.

Ada pengetahuan tradisional.

Ada wisata berbasis komunitas.

Persoalannya sering kali bukan ketiadaan potensi.

Persoalannya adalah rendahnya nilai tambah yang diterima masyarakat.

Petani menjual bahan mentah.

Masyarakat desa menjual komoditas tanpa pengolahan.

Hasil hutan dijual tanpa hilirisasi.

Produk lokal tidak memiliki branding.

Kelompok masyarakat tidak memiliki akses pasar.

Di titik inilah IPAMA dapat memainkan peran sebagai community development consultant sekaligus social enterprise developer.

Tugasnya bukan mengambil alih usaha masyarakat.

Sebaliknya, IPAMA membantu masyarakat naik kelas:

  • dari produksi menuju pengolahan,
  • dari komoditas menuju produk,
  • dari produk menuju merek,
  • dari pasar lokal menuju pasar yang lebih luas,

dan akhirnya:

dari ketergantungan menuju kemandirian.

Ekologi dan Bisnis Tidak Harus Dipertentangkan

Persoalan yang sama berlaku pada pengelolaan lingkungan.

Selama ini seolah-olah terdapat pertentangan antara ekonomi dan ekologi.

Jika hutan dilindungi, ekonomi dianggap terganggu.

Jika ekonomi tumbuh, lingkungan dianggap menjadi korban.

IPAMA perlu menawarkan perspektif berbeda.

Ekologi harus mampu menghasilkan nilai ekonomi, dan ekonomi harus mampu menjaga ekologi.

Inilah yang dapat diterjemahkan melalui Trilogi Lestari:

Atmospher, Hydro/Water, dan Fertilizer.

Atmospher berbicara tentang kemampuan ekosistem menyerap karbon dan mengurangi risiko perubahan iklim.

Hydro/Water berbicara tentang tata kelola air, konservasi tanah, infiltrasi, mata air, dan siklus hidrologi.

Fertilizer berbicara tentang kesuburan tanah, biomassa, bahan organik, dan keberlanjutan produksi.

Tetapi IPAMA tidak berhenti pada aspek ekologis.

Semua itu harus bertemu dengan Trilogi Kendali: Ekonomi, Lingkungan Sosial, dan Hutan Aman.

Di sinilah pendekatan IPAMA menjadi menarik.

Hutan tidak cukup hanya dijaga dengan larangan.

Masyarakat di sekitar hutan harus memiliki alasan ekonomi, sosial, dan kelembagaan untuk menjaganya.

Dengan kata lain:

hutan yang memberikan manfaat kepada masyarakat akan memiliki peluang lebih besar untuk dijaga oleh masyarakat.

Pemberdayaan Harus Punya Model Bisnis

Karena itu, setiap program pemberdayaan IPAMA idealnya tidak berhenti pada proposal kegiatan.

Program harus mempunyai business model.

Misalnya:

  • Apa potensi ekonominya?
  • Siapa pelakunya?
  • Siapa pasarnya?
  • Apa produk yang dihasilkan?
  • Bagaimana rantai nilainya?
  • Berapa biaya produksinya?
  • Berapa nilai tambahnya?
  • Bagaimana pembiayaannya?
  • Bagaimana tata kelolanya?
  • Bagaimana risiko dikelola?
  • Bagaimana keuntungan didistribusikan?

Dan yang paling penting:

bagaimana masyarakat menjadi semakin kuat setelah program selesai?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus menjadi bagian dari DNA pemberdayaan.

IPAMA: Think, Educate, Consult, Empower, Enterprise

Dengan posisi tersebut, IPAMA tidak harus menjadi lembaga yang hanya memilih antara idealisme sosial atau profesionalisme bisnis.

IPAMA dapat menjalankan keduanya.

IPAMA dapat menjadi think tank yang menghasilkan gagasan.

Menjadi academy yang mendidik kader dan masyarakat.

Menjadi consulting institution yang memberikan solusi profesional.

Menjadi community development institution yang bekerja bersama masyarakat.

Dan menjadi social enterprise developer yang membantu menciptakan nilai ekonomi.

Sederhananya:

Think. Educate. Consult. Empower. Enterprise.

Semua itu bermuara pada satu kata:

Impact.

Dampak.

Jangan Takut Menghitung

Ada satu kebiasaan yang perlu diubah dalam dunia pemberdayaan: takut menghitung.

Padahal masyarakat berhak tahu apakah sebuah program menghasilkan perubahan.

Berapa pendapatan sebelum dan sesudah program?

Berapa produktivitas meningkat?

Berapa lapangan kerja tercipta?

Berapa aset masyarakat bertambah?

Berapa nilai tambah yang sebelumnya keluar dari desa kini tinggal di desa?

Berapa luas lahan yang menjadi lebih produktif?

Berapa banyak kelompok usaha yang mampu bertahan setelah program berakhir?

Dan berapa besar manfaat ekologis yang berhasil dipertahankan?

Semua itu harus bisa diukur.

Sebab niat baik saja tidak cukup untuk membangun masyarakat yang mandiri.

Niat baik harus bertemu dengan pengetahuan.

Pengetahuan harus bertemu dengan organisasi.

Organisasi harus bertemu dengan bisnis.

Dan bisnis harus menghasilkan dampak sosial.

Dari LSM Proyek Menjadi Lembaga Pengembangan Masyarakat

Di sinilah IPAMA mempunyai tantangan sekaligus peluang.

IPAMA tidak harus terjebak menjadi lembaga yang hidup dari proyek.

IPAMA dapat membangun ekosistem yang lebih mandiri:

  • riset menghasilkan pengetahuan,
  • pendidikan menghasilkan manusia,
  • konsultasi menghasilkan pendapatan,
  • social enterprise menghasilkan nilai ekonomi,
  • dan pemberdayaan menghasilkan perubahan masyarakat.

Dengan model seperti ini, aktivitas bisnis bukan penyimpangan dari misi sosial.

Justru bisnis menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keberlanjutan misi sosial.

Ini bukan berarti semua kegiatan harus dikomersialisasikan.

Tidak.

Ada ruang yang memang harus tetap menjadi kerja sosial, advokasi, pendidikan publik, riset, dan pengorganisasian masyarakat.

Tetapi kegiatan yang memang mempunyai potensi ekonomi harus berani dikembangkan secara profesional.

Tidak semua yang sosial harus gratis.

Dan tidak semua yang menghasilkan keuntungan harus kehilangan nilai sosialnya.

Pada Akhirnya, Ukuran Keberhasilan Adalah Kemandirian

IPAMA perlu mengembalikan pemberdayaan kepada pertanyaan paling sederhana:

Setelah kita datang, masyarakat menjadi apa?

Jika masyarakat semakin tergantung, kita harus bertanya kembali.

Jika kelompok hanya hidup selama ada proyek, kita harus mengevaluasi.

Jika produk masyarakat tidak mampu masuk pasar, kita harus memperbaiki model.

Jika sumber daya alam terus rusak karena kebutuhan ekonomi, kita harus menemukan alternatif.

Namun jika masyarakat semakin mampu berpikir, semakin mampu berorganisasi, semakin mampu menghasilkan pendapatan, semakin mampu mengelola sumber daya, dan semakin mampu menentukan masa depannya sendiri, maka di situlah pemberdayaan benar-benar bekerja.

Karena itu, IPAMA harus berani bicara bisnis.

Bukan karena IPAMA meninggalkan idealisme.

Justru karena IPAMA ingin memastikan bahwa idealisme pemberdayaan memiliki kaki ekonomi untuk berdiri, kaki sosial untuk berjalan, dan kaki ekologis untuk bertahan.

Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan lembaga yang selamanya berjalan di samping mereka.

Masyarakat membutuhkan lembaga yang membantu mereka belajar berjalan, mampu berlari, dan pada waktunya mampu menentukan sendiri ke mana mereka hendak pergi.

Itulah pemberdayaan.

Dan di situlah bisnis menemukan tempatnya dalam gerakan pengembangan masyarakat.(ppmindoenesia)

Example 120x600