Ketika Haji Dibaca Kembali melalui Al-Qur’an
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Setiap tahun jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Di antara rangkaian manasik yang dilakukan jamaah terdapat ritual melempar jumrah dengan batu.
Bagi banyak umat Islam, ritual tersebut dipahami sebagai simbol perlawanan terhadap Setan. Jamaah mengambil sejumlah kerikil kemudian melemparkannya ke tempat-tempat yang telah ditentukan.
Namun, ada sebuah pertanyaan yang layak diajukan dari perspektif Al-Qur’an bil Qur’an:
Apakah Al-Qur’an memerintahkan jamaah haji untuk melempar Setan, atau justru menempatkan mengingat Allah sebagai pusat ibadah haji?
Pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan jamaah yang melaksanakan jumrah. Pertanyaan ini adalah upaya membedakan antara teks Al-Qur’an, tafsir terhadap teks, dan praktik keagamaan yang berkembang dalam sejarah.
Untuk menjawabnya, mari kita kembali kepada Al-Qur’an.
Apa Tujuan Haji Menurut Al-Qur’an?
Salah satu ayat yang berbicara langsung mengenai haji terdapat dalam Surah Al-Hajj:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ٢٧
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ… ٢٨
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan…” QS. Al-Hajj 22:27–28
Ada dua hal yang sangat menonjol:
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ
“agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka”
dan:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ
“agar mereka menyebut nama Allah.”
Ayat ini memberikan gambaran bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik dan rangkaian gerakan tubuh.
Haji mempunyai orientasi:
mengingat dan menyebut nama Allah.
Setelah Arafah, Al-Qur’an Kembali Memerintahkan Mengingat Allah
Al-Baqarah 2:198 memberikan petunjuk yang sangat jelas:
فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ ١٩٨
“Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masyarilharam. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” QS. Al-Baqarah 2:198
Perintahnya sangat eksplisit:
فَاذْكُرُوا اللَّهَ
“Maka berzikirlah kepada Allah.”
Bukan:
“Carilah Setan.”
Bukan:
“Lemparilah Setan.”
Tetapi:
“Ingatlah Allah.”
Setelah Manasik Pun: “Ingatlah Allah”
Al-Qur’an kemudian mengatakan:
فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan manasikmu, berzikirlah kepada Allah sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, bahkan berzikirlah lebih banyak lagi.” QS. Al-Baqarah 2:200
Perhatikan urutannya:
قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ
“kamu telah menyelesaikan manasikmu”
kemudian:
فَاذْكُرُوا اللَّهَ
“maka berzikirlah kepada Allah.”
Bahkan Al-Qur’an menambahkan:
أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا
“bahkan berzikirlah lebih banyak lagi.”
Ini menunjukkan bahwa dzikrullah bukan sekadar tambahan kecil dalam haji.
Ia merupakan salah satu orientasi utama yang ditekankan Al-Qur’an.
Bahkan Hari-Hari Haji Dikaitkan dengan Mengingat Allah
Allah berfirman:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ٢٠٣
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan. Barang siapa mempercepat keberangkatannya dalam dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barang siapa menundanya, tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.”QS. Al-Baqarah 2:203
Sekali lagi muncul:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ
“Dan berzikirlah kepada Allah.”
Maka jika kita membaca rangkaian ayat haji secara keseluruhan, terdapat pola yang sangat kuat:
Haji → Arafah → Masy‘ar → manasik → hari-hari tertentu → mengingat Allah.
Pertanyaannya kemudian:
Di mana posisi “melempar Setan” dalam struktur pesan Al-Qur’an tersebut?
Apakah Al-Qur’an Menyebut Ritual Melempar Setan?
Inilah pertanyaan yang harus dijawab secara tekstual.
Al-Qur’an berbicara tentang haji dalam banyak ayat. Di antaranya mengenai:
- seruan melaksanakan haji;
- Arafah;
- Masy‘arilharam;
- penyebutan nama Allah;
- manasik;
- penyembelihan hewan;
- doa;
- ampunan;
- ketakwaan;
- mengingat Allah pada hari-hari tertentu.
Namun, dalam ayat-ayat tersebut tidak terdapat perintah eksplisit:
“Lemparilah Setan dengan batu.”
Karena itu, perlu dibedakan dengan jernih:
Perintah Al-Qur’an
dan
praktik manasik yang dikenal dalam tradisi Islam.
Keduanya tidak boleh otomatis dianggap identik tanpa penjelasan mengenai sumbernya.
Lalu Mengapa Disebut “Rajam Setan”?
Salah satu persoalan yang menarik adalah penggunaan istilah “rajam Setan”.
Di sini kita kembali kepada kisah Iblis dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman:
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ ٣٤
“Dia berfirman, ‘Maka keluarlah dari sana, karena sesungguhnya kamu adalah rajīm.’”QS. Al-Hijr 15:34
Ayat yang hampir sama terdapat dalam Surah Shad:
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ ٧٧
“Dia berfirman, ‘Maka keluarlah dari sana; sesungguhnya kamu adalah rajīm.’”
QS. Shad 38:77
Yang menarik adalah kata yang digunakan sebelum rajīm:
فَاخْرُجْ مِنْهَا
“Maka keluarlah dari sana.”
Konteksnya adalah pengusiran Iblis.
Bukan manusia yang diperintahkan melempari Iblis.
Al-A‘raf 7:13 Menjelaskan Konteks Pengusiran
Kisah yang sama dapat dibaca dalam Surah Al-A‘raf:
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ ١٣
“Dia berfirman, ‘Maka turunlah kamu dari sana! Karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’”
QS. Al-A‘raf 7:13
Di sini terdapat:
فَاهْبِطْ
“Turunlah.”
فَاخْرُجْ
“Keluarlah.”
مِنَ الصَّاغِرِينَ
“Termasuk orang-orang yang hina.”
Sementara Al-Hijr 15:34 menyebut:
رَجِيمٌ
“rajīm.”
Membaca ayat-ayat tersebut bersama-sama memperlihatkan tema:
Iblis turun, keluar, kehilangan kedudukan, dan menjadi pihak yang tertolak/terkutuk.
Karena itu, rajīm tidak tepat begitu saja dijadikan sinonim otomatis dari “rajam”.
“Rajīm” Bukan Perintah “Rajam”
Penting untuk membedakan bentuk kata.
رَجِيم — rajīm
merupakan kata sifat yang digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan Setan/Iblis.
Sedangkan:
رَجَمَ — rajama
adalah bentuk kata kerja yang dalam konteks tertentu dapat berarti melempar atau merajam.
Kesamaan akar kata tidak otomatis membuat seluruh turunannya memiliki makna yang sama dalam semua konteks.
Dalam QS. Al-Hijr 15:34, konteksnya sangat jelas:
فَاخْرُجْ مِنْهَا
“Maka keluarlah dari sana.”
Jadi, rajīm harus dibaca berdasarkan konteks ayatnya.
Bagaimana Al-Qur’an Memerintahkan Kita Menghadapi Setan?
Jika Setan adalah musuh manusia, bagaimana Al-Qur’an memerintahkan manusia menghadapinya?
Allah berfirman:
وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ ٩٧
وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ ٩٨“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.’”
QS. Al-Mu’minun 23:97–98
Perhatikan kata:
أَعُوذُ بِكَ
“Aku berlindung kepada-Mu.”
Cara menghadapi Setan yang diajarkan ayat ini adalah:
berlindung kepada Allah.
Bukan mencari Setan secara fisik.
Al-Qur’an Menyebut Setan sebagai Musuh
Allah berfirman:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ ٦
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah dia sebagai musuh. Sesungguhnya dia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”QS. Fathir 35:6
Perintahnya:
فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Maka perlakukanlah dia sebagai musuh.”
Bagaimana musuh tersebut bekerja?
Al-Qur’an menjelaskan:
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ٥
“Yang membisikkan ke dalam dada manusia.”
QS. An-Nas 114:5
Dengan demikian, perjuangan melawan Setan berada pada wilayah kesadaran, pilihan, dan ketakwaan manusia.
Haji Bukan Sekadar Gerakan, tetapi Ketakwaan
Al-Qur’an bahkan memberikan prinsip penting ketika berbicara mengenai penyembelihan hewan dalam haji:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
QS. Al-Hajj 22:37
Ayat ini memberikan perspektif yang sangat mendalam.
Allah tidak membutuhkan benda.
Allah tidak membutuhkan darah.
Yang dinilai adalah:
التَّقْوَىٰ — ketakwaan.
Maka pertanyaan tentang setiap ritual seharusnya tidak berhenti pada:
“Apa yang dilakukan secara fisik?”
Tetapi juga:
“Apa kesadaran yang dibentuk oleh tindakan itu?”
Jika Melempar Batu adalah Simbol, Apa yang Harus Dilempar?
Apabila ritual jumrah dipahami sebagai simbol melawan Setan, maka muncul pertanyaan reflektif yang menarik.
Apa yang sebenarnya harus kita lawan?
Kesombongan?
Keserakahan?
Kebencian?
Kecurangan?
Kezaliman?
Kebohongan?
Keinginan untuk dipuji?
Atau merasa diri lebih suci daripada orang lain?
Kisah Iblis justru dimulai dengan kesombongan.
Ketika diperintahkan untuk tunduk, ia berkata:
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ
“Aku lebih baik darinya.”QS. Al-A‘raf 7:12
Di sinilah makna simbolik dapat menjadi refleksi spiritual:
Jangan sampai seseorang melempar batu kepada simbol Setan, tetapi masih memelihara sifat Iblis di dalam dirinya.
Haji Mengajarkan Tauhid
Orientasi haji kepada Allah semakin jelas jika kita membaca ayat berikut:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ٢
“Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
QS. Al-Kautsar 108:2
Dalam Al-Qur’an, ibadah diarahkan kepada Allah.
Begitu pula dalam haji.
Allah berfirman:
وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
“Dan sebutlah nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”QS. Al-Baqarah 2:203
Maka pusat ibadah adalah:
Allah.
- Bukan Setan.
- Bukan batu.
- Bukan pilar.
- Bukan simbol.
Semua simbol seharusnya membawa manusia kembali kepada kesadaran tentang Allah.
Apakah Kritik terhadap Ritual Berarti Menuduh Jamaah?
Tidak.
Penting membedakan antara kritik terhadap dasar tekstual sebuah praktik dan penilaian terhadap orang yang melaksanakannya.
Jutaan jamaah melaksanakan jumrah dengan keyakinan bahwa mereka sedang menjalankan ibadah kepada Allah.
Tidak tepat jika mereka langsung dituduh menyembah Setan hanya karena melakukan ritual tersebut.
Kajian ini mengajukan persoalan yang berbeda:
Apakah perintah melempar Setan secara eksplisit terdapat dalam Al-Qur’an?
Jika tidak ditemukan, maka harus jujur dikatakan bahwa dasar praktik tersebut tidak berasal dari ayat Al-Qur’an secara eksplisit, melainkan perlu ditelusuri melalui sumber dan tradisi keagamaan lainnya.
Itulah perbedaan antara:
“Al-Qur’an mengatakan…”
dan
“Tradisi Islam mengajarkan…”
Keduanya tidak selalu identik.
Al-Qur’an sebagai Alat Uji
Pendekatan Al-Qur’an bil Qur’an mengajak kita mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan sebelum menarik kesimpulan.
Tentang Iblis:
فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
“Maka keluarlah dari sana; sesungguhnya engkau adalah rajīm.”QS. Al-Hijr 15:34
Tentang pengusiran:
فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ
“Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”QS. Al-A‘raf 7:13
Tentang cara menghadapi Setan:
أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ
“Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan.”QS. Al-Mu’minun 23:97
Tentang haji:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ
“Dan agar mereka menyebut nama Allah.”QS. Al-Hajj 22:28
Tentang manasik:
فَاذْكُرُوا اللَّهَ
“Maka berzikirlah kepada Allah.”QS. Al-Baqarah 2:200
Tentang hari-hari haji:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
QS. Al-Baqarah 2:203
Jika ayat-ayat tersebut diletakkan berdampingan, pembaca dapat melihat sendiri pola yang muncul.
Pertanyaan Besar: Haji untuk Siapa?
Haji pada akhirnya bukan perjalanan untuk mendekatkan manusia kepada Setan.
Haji adalah perjalanan menuju Allah.
Bahkan doa yang diajarkan Al-Qur’an:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٢٠١
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”QS. Al-Baqarah 2:201
Orientasinya tetap:
رَبَّنَا — Tuhan kami.
Bukan Setan.
Penutup: Mengembalikan Pusat Haji kepada Allah
Pertanyaan “Haji untuk mengingat Allah atau melempar Setan?” bukan sekadar pertanyaan mengenai sebuah ritual.
Ia adalah pertanyaan tentang pusat kesadaran dalam ibadah.
Al-Qur’an ketika berbicara mengenai haji berulang kali mengarahkan manusia kepada:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ
“menyebut nama Allah.”
فَاذْكُرُوا اللَّهَ
“maka berzikirlah kepada Allah.”
وَاذْكُرُوا اللَّهَ
“dan berzikirlah kepada Allah.”
Sementara ketika berbicara mengenai Setan, Al-Qur’an mengajarkan:
أَعُوذُ بِكَ
“Aku berlindung kepada-Mu.”
Maka dari perspektif Al-Qur’an bil Qur’an, ada sebuah pesan yang patut direnungkan:
Jangan sampai manusia terlalu sibuk memerangi simbol Setan sehingga lupa kepada Allah yang menjadi tujuan seluruh pengabdian.
Jika jumrah dipahami sebagai simbol perlawanan terhadap Setan, maka perlawanan itu seharusnya tidak berhenti pada batu yang dilempar.
Ia harus berlanjut ke dalam diri:
- melempar kesombongan,
- melempar keserakahan,
- melempar kebohongan,
- melempar kezaliman,
- dan menolak setiap bisikan yang menjauhkan manusia dari Allah.
Sebab menurut Al-Qur’an, musuh yang sesungguhnya bukan sekadar sosok yang dibayangkan berada di sebuah tempat untuk dilempari.
Musuh itu adalah godaan yang masuk ke dalam kesadaran manusia.
Dan perlindungan yang diperintahkan Al-Qur’an adalah:
أَعُوذُ بِاللَّهِ
“Aku berlindung kepada Allah.”
Maka pertanyaan terakhirnya bukan:
“Berapa batu yang sudah kita lempar?”
Melainkan:
“Berapa banyak sifat Iblis yang sudah kita lepaskan dari diri kita?”
Kotak Renungan
Haji: Mengingat Allah atau Melempar Setan?
Haji:
وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ
“Agar mereka menyebut nama Allah.”(QS. Al-Hajj 22:28)
Setan:
أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ
“Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan.”
(QS. Al-Mu’minun 23:97)
Manasik:
فَاذْكُرُوا اللَّهَ
“Maka berzikirlah kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah 2:200)
Maka, di manakah pusat perhatian seorang hamba?
Allah atau Setan?
KAJIAN SYAHIDA
Al-Qur’an bil Qur’an
“Membaca ayat dengan ayat, menguji pemahaman dengan wahyu, dan mengembalikan seluruh pengabdian hanya kepada Allah.”
ppmIndonesia.com — Kajian Islam





























