Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

Belajar Dari Aksi: Jalan PPM Membangun Perubahan

4
×

Belajar Dari Aksi: Jalan PPM Membangun Perubahan

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

“Masyarakat tidak selalu belajar setelah mengetahui. Sering kali mereka mengetahui setelah mencoba, mengalami, gagal, memperbaiki, lalu mencoba kembali.”

JAKARTA.PPMIndonesia.com — Matahari belum terlalu tinggi ketika beberapa warga mulai berkumpul di pinggir kampung. Sebagian membawa cangkul, sebagian membawa sapu dan karung. Beberapa anak muda datang dengan sepeda motor, sementara ibu-ibu berdiri di dekat rumah sambil membawa peralatan sederhana.

Tidak ada panggung.

Tidak ada spanduk besar.

Tidak ada ruang seminar.

Pagi itu mereka hanya ingin membersihkan saluran air yang selama beberapa minggu tersumbat.

Seseorang mulai mengangkat sampah dari dalam parit. Yang lain memperbaiki bagian saluran yang rusak. Seorang anak muda mengambil foto dan membagikannya ke grup warga. Dari percakapan kecil itu kemudian muncul gagasan lain: bagaimana kalau sampah dipilah? Bagaimana kalau dibuat jadwal rutin? Bagaimana kalau anak-anak muda ikut mengelola?

Tidak semua gagasan langsung berjalan.

Ada yang lupa pada jadwal.

Ada yang merasa tidak perlu.

Ada yang bersemangat di awal lalu berhenti.

Tetapi beberapa minggu kemudian, warga kembali berkumpul.

Mereka mencoba lagi.

Di situlah sebuah perubahan sebenarnya sedang berlangsung.

Bukan dalam bentuk proyek besar.

Bukan melalui pidato panjang.

Tetapi melalui pengalaman yang dijalani bersama.

Dan dari pengalaman itulah masyarakat belajar.

KETIKA TANGAN MULAI BEKERJA, PIKIRAN MULAI BELAJAR

Ada banyak hal yang sulit dipahami hanya melalui penjelasan.

Seorang petani dapat mengikuti pelatihan tentang pertanian organik. Tetapi pemahaman yang sebenarnya tumbuh ketika ia mulai mengolah tanah, membuat pupuk, menanam, menunggu, mengamati pertumbuhan tanaman, menghadapi hama, dan melihat hasil panennya sendiri.

Seorang pedagang dapat mendengar seribu nasihat tentang koperasi. Tetapi ia baru memahami arti kerja bersama ketika modal kecil yang dimilikinya digabungkan dengan modal anggota lain, kemudian mereka bersama-sama menghadapi persoalan pasar.

Seorang anak muda dapat mengikuti pelatihan kepemimpinan. Tetapi kepemimpinan mulai tumbuh ketika ia benar-benar diberi tanggung jawab mengurus kegiatan, menghadapi perbedaan pendapat, mencari jalan keluar, dan mempertanggungjawabkan keputusan.

Pengalaman membuat pengetahuan menjadi nyata.

Karena itu, masyarakat tidak selalu belajar dengan cara duduk dan mendengarkan.

Sering kali mereka belajar ketika tangan mulai bekerja dan kehidupan mulai memberikan pelajaran.

AKSI ADALAH RUANG KELAS YANG TIDAK MEMILIKI DINDING

Di sebuah desa, sawah dapat menjadi ruang belajar.

Pasar dapat menjadi ruang belajar.

Balai warga dapat menjadi ruang belajar.

Sungai dapat menjadi ruang belajar.

Koperasi dapat menjadi ruang belajar.

Bahkan kegagalan dapat menjadi ruang belajar.

Ketika warga membersihkan sungai, mereka belajar bahwa sampah bukan hanya persoalan kebersihan. Mereka mulai melihat hubungan antara kebiasaan rumah tangga, aliran air, kesehatan, dan lingkungan.

Ketika kelompok tani mengelola hasil panen bersama, mereka belajar bahwa persoalan pertanian bukan hanya bagaimana menghasilkan, tetapi juga bagaimana menyimpan, mengolah, memasarkan, dan mendapatkan harga yang adil.

Ketika pemuda membuat kegiatan sendiri, mereka belajar bahwa memiliki gagasan saja tidak cukup. Gagasan membutuhkan organisasi, kerja sama, pembagian tugas, dan ketekunan.

Begitulah kehidupan mengajar.

Pelajarannya tidak selalu tertulis.

Tetapi sering kali justru lebih melekat karena dialami sendiri.

MASYARAKAT TIDAK HARUS MENUNGGU SEMPURNA

Sering kali sebuah kelompok masyarakat terlalu lama menunggu.

Menunggu ada bantuan.

Menunggu ada anggaran.

Menunggu ada tenaga ahli.

Menunggu ada fasilitas.

Menunggu seseorang datang membawa solusi.

Padahal banyak persoalan dapat mulai disentuh dengan apa yang sudah tersedia.

Sapu yang ada di rumah.

Tenaga warga.

Pengetahuan seorang petani.

Keterampilan seorang pemuda.

Jaringan seorang pedagang.

Pengalaman seorang tokoh masyarakat.

Sebuah ruangan kecil.

Beberapa orang yang bersedia bekerja bersama.

Dari sesuatu yang sederhana itulah swadaya bermula.

Swadaya bukan berarti memiliki semuanya.

Swadaya berarti berani memulai dari apa yang ada.

Ketika masyarakat mulai bergerak, sering kali bantuan dan kerja sama dari luar menjadi lebih mudah datang.

Tetapi yang membuat gerakan tetap hidup bukan bantuan tersebut.

Yang membuatnya bertahan adalah kemampuan masyarakat untuk mengelolanya.

DARI “DIBUATKAN” MENJADI “MENGERJAKAN SENDIRI”

Ada perbedaan besar antara sesuatu yang dibuatkan untuk masyarakat dan sesuatu yang dikerjakan oleh masyarakat.

Sebuah tempat sampah yang diberikan mungkin bermanfaat.

Tetapi masyarakat yang belajar mengelola sampah akan memiliki kemampuan yang lebih panjang umurnya daripada tempat sampah itu sendiri.

Sebuah modal usaha dapat membantu.

Tetapi kemampuan mengelola usaha akan menentukan apakah usaha tersebut bertahan.

Sebuah gedung dapat dibangun.

Tetapi kemampuan menghidupkan kegiatan di dalamnya jauh lebih penting.

Karena itu, ukuran pemberdayaan bukan hanya apa yang diberikan, tetapi apa yang menjadi kemampuan baru setelah pemberian itu berlangsung.

Inilah pergeseran penting dari bantuan menuju pemberdayaan.

Dari membuatkan menjadi mendampingi.

Dari mengarahkan menjadi membuka ruang.

Dari memberi jawaban menjadi membantu menemukan jawaban.

KETIKA KEGAGALAN MENJADI GURU

Sebuah kelompok pemuda pernah mencoba membuat kegiatan ekonomi bersama.

Pada bulan pertama mereka bersemangat.

Banyak ide muncul.

Mereka membuat produk.

Membuka akun media sosial.

Mencoba menjual.

Tetapi hasilnya tidak seperti yang dibayangkan.

Produk tidak banyak terjual.

Beberapa anggota mulai kehilangan semangat.

Mereka kemudian berkumpul lagi.

Bukan untuk mencari siapa yang salah.

Mereka mencoba memahami apa yang terjadi.

Ternyata mereka belum memahami pasar. Produknya bagus, tetapi tidak sesuai kebutuhan konsumen. Mereka terlalu banyak membuat stok. Pembagian tugas juga belum jelas.

Kegagalan itu akhirnya menjadi pelajaran.

Mereka mencoba kembali.

Kali ini dengan jumlah lebih kecil.

Mereka bertanya kepada calon pembeli.

Mereka memperbaiki produk.

Mereka membagi pekerjaan.

Hasilnya belum tentu langsung besar.

Tetapi mereka telah memperoleh sesuatu yang lebih penting: pengalaman.

Inilah trial and error dalam kehidupan masyarakat.

Mencoba.

Gagal.

Membaca kegagalan.

Memperbaiki.

Mencoba lagi.

Masyarakat yang diberi kesempatan seperti itu perlahan membangun kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.

PENGETAHUAN TUMBUH DARI PENGALAMAN

Di banyak tempat, pengetahuan masyarakat sering dianggap sederhana karena tidak selalu tertulis dalam buku.

Padahal seorang petani memiliki pengetahuan yang diperoleh setelah puluhan tahun membaca tanah.

Seorang nelayan mengenali perubahan cuaca dari pengalaman panjang di laut.

Seorang pedagang tahu kapan pembeli datang dan barang apa yang mereka cari.

Seorang ibu mengetahui bagaimana menjaga hubungan antarwarga.

Seorang tetua kampung mengetahui sejarah sumber air, batas tanah, dan perubahan lingkungan yang terjadi selama puluhan tahun.

Semua itu adalah pengetahuan.

Karena itu, ketika orang luar datang membawa pengetahuan baru, proses yang seharusnya terjadi bukan mengganti pengetahuan lama dengan pengetahuan baru.

Yang lebih penting adalah mempertemukan keduanya.

Pengetahuan masyarakat bertemu ilmu pengetahuan.

Pengalaman lokal bertemu teknologi.

Tradisi bertemu inovasi.

Dari pertemuan itulah kemungkinan baru muncul.

BELAJAR BERSAMA, BUKAN MENGGURUI

Seorang penggerak masyarakat tidak selalu harus berdiri di depan.

Kadang ia justru perlu duduk di tengah.

Mendengarkan.

Mengamati.

Bertanya.

Membantu masyarakat merumuskan masalahnya sendiri.

Sebab masyarakat sering kali sudah mengetahui persoalannya.

Yang belum tentu mereka miliki adalah ruang untuk membicarakannya bersama.

Ketika ruang itu tersedia, berbagai pengalaman mulai muncul.

“Dulu sungai ini tidak seperti sekarang.”

“Kalau menanam pada bulan itu biasanya lebih bagus.”

“Dulu warga biasa menyelesaikan persoalan dengan berkumpul.”

“Anak-anak muda sekarang sebenarnya mau bergerak, tetapi tidak tahu mulai dari mana.”

Kalimat-kalimat sederhana seperti itu sering menjadi pintu masuk perubahan.

Karena itu, pendekatan PPM bukan semata-mata mengajari masyarakat, tetapi belajar bersama masyarakat.

PRANATA: TEMPAT MASYARAKAT BELAJAR HIDUP BERSAMA

Perubahan akan sulit bertahan jika hanya mengandalkan orang per orang.

Masyarakat membutuhkan ruang bersama.

Di sinilah pranata menjadi penting.

Koperasi bukan sekadar tempat menyimpan uang.

Ia adalah ruang belajar ekonomi bersama.

Kelompok tani bukan sekadar tempat berkumpul.

Ia adalah ruang belajar mengelola sumber daya.

Sanggar bukan hanya tempat latihan kesenian.

Ia adalah ruang belajar kebudayaan.

Komunitas lingkungan bukan sekadar kelompok kerja bakti.

Ia adalah ruang belajar menjaga kehidupan.

Organisasi pemuda bukan hanya tempat membuat acara.

Ia adalah ruang belajar kepemimpinan.

Di dalam pranata, masyarakat belajar berbagi tugas, mengambil keputusan, mengelola perbedaan, menyelesaikan masalah, dan mempertanggungjawabkan tindakan.

Karena itu, pranata dapat disebut sebagai sekolah kehidupan masyarakat.

AKSI KECIL, KEBIASAAN BARU

Perubahan besar sering kali sulit dilihat ketika baru dimulai.

Seorang warga mulai memilah sampah.

Kemudian tetangganya mengikuti.

Beberapa rumah mulai melakukan hal yang sama.

Anak-anak mulai melihat kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Beberapa bulan kemudian, memilah sampah tidak lagi terasa sebagai kegiatan khusus.

Ia menjadi kebiasaan.

Hal yang sama dapat terjadi pada banyak bidang.

Kebiasaan menabung dapat melahirkan koperasi.

Kebiasaan bekerja bersama dapat memperkuat gotong royong.

Kebiasaan berdiskusi dapat memperkuat organisasi.

Kebiasaan menjaga sungai dapat membangun budaya lingkungan.

Kebiasaan belajar bersama dapat melahirkan kader.

Di sinilah aksi kecil mulai memasuki wilayah kebudayaan.

Sebab kebudayaan pada akhirnya juga dibentuk oleh apa yang dilakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan bersama.

DARI AKSI MENUJU KEBUDAYAAN

Satu kegiatan mungkin hanya berlangsung sehari.

Tetapi jika pengalaman dari kegiatan itu mengubah cara berpikir, ia dapat menghasilkan kebiasaan baru.

Kebiasaan baru dapat melahirkan norma.

Norma dapat diperkuat melalui pranata.

Pranata dapat mengubah pola kehidupan.

Dan pola kehidupan yang berlangsung lama dapat menjadi bagian dari kebudayaan.

Karena itu, aksi bukan sekadar tindakan sesaat.

Aksi dapat menjadi benih perubahan kebudayaan.

Inilah mengapa PPM tidak cukup hanya bertanya apakah suatu kegiatan berhasil.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang berubah dalam diri masyarakat setelah kegiatan itu dilakukan?

Apakah mereka lebih percaya diri?

Apakah mereka lebih mampu bekerja bersama?

Apakah mereka lebih berani mengambil keputusan?

Apakah mereka lebih mampu mengelola sumber daya?

Apakah mereka mampu melanjutkan kegiatan tanpa selalu menunggu pihak luar?

Jika jawabannya ya, maka sebuah proses pemberdayaan sedang berlangsung.

AKSI, REFLEKSI, LALU AKSI KEMBALI

Pengalaman saja belum cukup.

Pengalaman perlu direnungkan.

Warga yang selesai melakukan kegiatan perlu duduk kembali.

Membicarakan apa yang terjadi.

Apa yang berhasil?

Apa yang gagal?

Mengapa?

Apa yang tidak diperkirakan?

Apa yang perlu diperbaiki?

Dari percakapan semacam itu, pengalaman berubah menjadi pengetahuan.

Kemudian pengetahuan tersebut digunakan dalam aksi berikutnya.

Maka terbentuk sebuah lingkaran pembelajaran:

Aksi → Pengalaman → Refleksi → Pengetahuan → Aksi Baru.

Lingkaran itu terus berputar.

Semakin sering masyarakat melaluinya, semakin matang kemampuan mereka membaca persoalan.

Inilah yang membuat masyarakat tidak mudah bergantung pada jawaban dari luar.

Mereka mulai memiliki kemampuan untuk mencari jawaban sendiri.

KADER LAHIR DARI PENGALAMAN

Kaderisasi juga berlangsung melalui proses yang sama.

Kader bukan hanya seseorang yang mengikuti pelatihan.

Kader adalah seseorang yang pernah mengalami proses.

Pernah mengorganisasi.

Pernah memimpin.

Pernah gagal.

Pernah menghadapi konflik.

Pernah menyelesaikan masalah.

Pernah mengambil keputusan.

Kemudian belajar dari semua pengalaman tersebut.

Karena itu, generasi muda perlu diberi ruang untuk melakukan.

Tidak cukup hanya diberi nasihat.

Tidak cukup hanya diberi materi.

Mereka perlu dipercaya mengurus kegiatan.

Diberi kesempatan memimpin.

Diberi ruang mengambil keputusan.

Bahkan diberi kesempatan melakukan kesalahan.

Sebab seseorang tidak akan belajar berjalan jika sepanjang hidupnya hanya diajari cara berjalan.

Ia harus berdiri.

Melangkah.

Terjatuh.

Bangkit.

Dan mencoba lagi.

Begitu pula kaderisasi.

PPM SEBAGAI GERAKAN YANG TERUS BELAJAR

PPM tidak akan dapat menjalankan misi perubahan jika dirinya sendiri berhenti belajar.

Zaman berubah.

Masyarakat berubah.

Teknologi berubah.

Ekonomi berubah.

Cara generasi muda berkomunikasi berubah.

Persoalan lingkungan berubah.

Karena itu, cara bergerak juga harus mampu berkembang.

Namun berubah bukan berarti meninggalkan akar.

Nilai peranserta tetap penting.

Swadaya tetap penting.

Gotong royong tetap penting.

Kaderisasi tetap penting.

Masyarakat sebagai subjek tetap menjadi prinsip utama.

Yang berubah adalah cara menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan zaman baru.

Gotong royong dapat menemukan bentuk digital.

Kaderisasi dapat menggunakan teknologi.

Koperasi dapat masuk ke ekosistem digital.

Pendidikan masyarakat dapat menggunakan berbagai platform baru.

Jaringan gerakan dapat meluas tanpa harus kehilangan akar lokalnya.

Di sinilah PPM perlu menjadi gerakan pembelajar.

DARI MASYARAKAT, BUKAN SEKADAR UNTUK MASYARAKAT

Ada perbedaan yang sangat penting antara bekerja untuk masyarakat dan bekerja bersama masyarakat.

Ketika bekerja untuk masyarakat, orang luar sering merasa harus membawa solusi.

Ketika bekerja bersama masyarakat, solusi dicari melalui proses.

Yang pertama dapat menghasilkan ketergantungan.

Yang kedua membuka kemungkinan kemandirian.

Karena itu, PPM menempatkan masyarakat sebagai subjek.

Masyarakat bukan tanah kosong yang harus diisi.

Masyarakat telah memiliki sejarah, pengalaman, nilai, pengetahuan, dan kekuatan.

Tugas gerakan adalah membantu semua itu menemukan bentuknya.

Kadang bentuknya koperasi.

Kadang kelompok tani.

Kadang komunitas lingkungan.

Kadang sanggar.

Kadang organisasi pemuda.

Kadang ruang digital.

Bentuknya dapat berbeda.

Tetapi proses dasarnya sama:

masyarakat belajar melalui aksi.

PENUTUP: JALAN PERUBAHAN ADALAH JALAN BELAJAR

Pada akhirnya, perubahan tidak selalu dimulai dengan jawaban.

Ia sering dimulai dengan sebuah pertanyaan.

Mengapa kampung kita kotor?

Mengapa hasil panen tidak memberikan kesejahteraan?

Mengapa anak-anak muda semakin jauh dari kegiatan sosial?

Mengapa sungai yang dahulu jernih sekarang berubah?

Mengapa koperasi belum berkembang?

Dari pertanyaan lahir percakapan.

Dari percakapan lahir keberanian mencoba.

Dari mencoba lahir pengalaman.

Dari pengalaman lahir pembelajaran.

Dan dari pembelajaran lahir kemampuan.

Di situlah jalan perubahan dimulai.

PPM tidak perlu selalu datang membawa jawaban.

Yang lebih penting adalah membantu masyarakat memiliki kemampuan untuk menemukan jawaban.

Sebab masyarakat yang terus diberi jawaban mungkin akan terbiasa menunggu.

Tetapi masyarakat yang diberi ruang untuk mencoba akan belajar berdiri.

Mereka mungkin jatuh.

Mereka mungkin salah.

Mereka mungkin harus mengulang.

Tetapi setiap langkah membuat mereka semakin mengenal kekuatannya sendiri.

Dan ketika pengalaman itu diwariskan kepada generasi berikutnya, aksi tidak lagi menjadi kegiatan sesaat.

Ia menjadi pengetahuan.

Pengetahuan menjadi kebiasaan.

Kebiasaan menjadi kebudayaan.

Dan kebudayaan menjadi salah satu fondasi bagi lahirnya peradaban.

Maka jalan PPM bukanlah jalan yang selalu lurus.

Ia adalah jalan yang ditempuh sambil belajar.

Belajar dari masyarakat.
Belajar dari pengalaman.
Belajar dari kegagalan.
Belajar dari keberhasilan.
Dan belajar untuk terus mencoba.

Karena perubahan yang paling kuat bukanlah perubahan yang dipaksakan kepada masyarakat.

Perubahan yang paling kuat adalah perubahan yang ditemukan, dijalankan, dipelajari, dan akhirnya dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.(ppmindonesia)

PPM — Meneguhkan Peranserta, Menguatkan Kaderisasi, Membangun Peradaban.

Example 120x600