Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mencari Ridha Allah Tanpa Perantara: Pesan Tauhid dalam Al-Qur’an

4
×

Mencari Ridha Allah Tanpa Perantara: Pesan Tauhid dalam Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Penulis : A. Mohamed

 


“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)


Pendahuluan

Jakarta|PPMIndonesia,com– Setiap manusia mendambakan ridha Allah. Dalam pencarian spiritual tersebut, manusia sering mencari jalan yang dianggap mampu mendekatkannya kepada Tuhan. Sebagian menempuh jalan amal saleh dan ketakwaan, sementara sebagian lainnya menjadikan figur-figur tertentu sebagai perantara spiritual.

Pertanyaannya, apakah Al-Qur’an mengajarkan bahwa ridha Allah dapat diperoleh melalui perantara manusia?

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kajian ini berusaha menelusuri bagaimana Al-Qur’an menjelaskan hakikat jalan menuju Allah, konsep wasilah, serta prinsip tauhid dalam ibadah dan doa.

Tauhid: Fondasi Hubungan Langsung dengan Allah

Al-Qur’an membangun hubungan antara manusia dan Allah secara langsung tanpa sekat.

Allah berfirman:

﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak jauh dari manusia. Tidak ada penghalang antara hamba dan Rabb-nya selain kualitas iman dan ketakwaannya sendiri.

Menariknya, dalam ayat ini Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan tentang diri-Nya. Allah langsung menjawab sendiri:
“Sesungguhnya Aku dekat.”

Ini merupakan pesan tauhid yang sangat mendalam tentang kedekatan langsung manusia dengan Allah.

Makna Wasilah dalam Al-Qur’an

Ayat yang sering dijadikan dasar pembahasan tentang perantara adalah QS. Al-Maidah ayat 35:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) menuju kepada-Nya, serta berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.”
(QS. Al-Maidah: 35)

Dalam metode Qur’an bil Qur’an, makna wasilah harus dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Qur’an lainnya.

Al-Qur’an tidak menyebut nabi, wali, orang mati, ataupun makhluk tertentu sebagai mediator spiritual dalam ayat tersebut. Sebaliknya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa jalan menuju Allah adalah iman, amal saleh, dan ketakwaan.

Jalan Menuju Ridha Allah Menurut Al-Qur’an

1. Salat dan Kesabaran

﴿ وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ﴾

“Dan orang-orang yang bersabar demi mencari keridhaan Tuhannya serta mendirikan salat…”
(QS. Ar-Ra’d: 22)

Salat dan kesabaran disebut sebagai jalan mencari wajah Allah (ibtighā’a wajhi rabbihim).

2. Amal Sosial dan Sedekah

﴿ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ﴾

“Dan tidaklah kalian menafkahkan sesuatu melainkan demi mencari keridhaan Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 272)

Kedermawanan dan kepedulian sosial menjadi bagian dari wasilah menuju ridha Allah.

3. Taubat dan Penyucian Jiwa

﴿ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴾

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Al-Qur’an menegaskan bahwa kedekatan dengan Allah dibangun melalui penyucian hati dan pertobatan.

4. Berjuang di Jalan Allah

﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ﴾

“Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka…”
(QS. At-Taubah: 20)

Jihad dalam makna luas—membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan memperjuangkan nilai-nilai Ilahi—merupakan bagian dari jalan menuju ridha Allah.

Manusia Hanya Mendapat dari Apa yang Diusahakan

Al-Qur’an menetapkan prinsip fundamental:

﴿ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ﴾

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan dan kedekatan kepada Allah tidak diperoleh melalui jasa spiritual orang lain, melainkan melalui usaha iman dan amal pribadi.

Kritik Al-Qur’an terhadap Perantara Spiritual

Al-Qur’an mengkritik praktik menjadikan makhluk sebagai mediator spiritual.

1. Alasan “Agar Lebih Dekat kepada Allah”

﴿ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى ﴾

“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.”
(QS. Az-Zumar: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa penggunaan perantara spiritual telah menjadi alasan kaum musyrik terdahulu.

Namun Al-Qur’an justru menolak keyakinan tersebut dan menegaskan bahwa agama yang murni hanya milik Allah.

2. Yang Diseru Tidak Memiliki Kuasa

﴿ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ﴾“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu. Dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.”
(QS. Fatir: 14)

Al-Qur’an menegaskan bahwa makhluk tidak memiliki kuasa untuk mengabulkan doa manusia.

Doa Langsung kepada Allah

Allah memerintahkan manusia untuk memohon langsung kepada-Nya:

﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾

“Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.”
(QS. Ghafir: 60)

Tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia meminta kepada makhluk agar doa mereka sampai kepada Allah.

Tauhid sebagai Pembebasan Spiritual

Tauhid dalam Al-Qur’an bukan sekadar pengakuan teologis, tetapi pembebasan manusia dari ketergantungan spiritual kepada selain Allah.

Tauhid membentuk manusia yang:

  • hanya berharap kepada Allah,
  • hanya takut kepada Allah,
  • hanya bersandar kepada Allah,
  • dan hanya menyembah Allah.

Kesimpulan

Kajian Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa ridha Allah diperoleh melalui iman, amal saleh, ketakwaan, kesabaran, taubat, dan seluruh bentuk ketaatan kepada-Nya.

Konsep wasilah dalam Al-Qur’an tidak menunjuk kepada manusia sebagai mediator spiritual, melainkan kepada jalan-jalan kebaikan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

Sebaliknya, menjadikan makhluk sebagai perantara spiritual dalam ibadah dan doa berpotensi mengaburkan kemurnian tauhid yang diajarkan Al-Qur’an.

Penutup

Di tengah dunia yang sering menghadirkan simbol-simbol spiritual dan pengkultusan manusia, Al-Qur’an mengembalikan manusia kepada kesederhanaan tauhid: hubungan langsung antara hamba dan Rabb-nya.

Karena itu, jalan menuju ridha Allah bukanlah melalui perantara makhluk, tetapi melalui hati yang tunduk, amal yang ikhlas, dan doa yang hanya ditujukan kepada-Nya. (a mohammed)

Redaksi Kajian Syahida
PPMIndonesia.com | Media Pencerahan Qur’ani

Example 120x600