Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Islam dan Kebebasan Memilih: Menelaah Dua Jalan Kehidupan dalam Al-Qur’an

3
×

Islam dan Kebebasan Memilih: Menelaah Dua Jalan Kehidupan dalam Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh syahida

Memahami Hakikat Pilihan Manusia dalam Cahaya Wahyu

Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia


Mukadimah

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Salah satu pertanyaan mendasar dalam kehidupan manusia adalah: apakah manusia benar-benar memiliki kebebasan memilih, ataukah seluruh kehidupannya telah ditentukan tanpa pilihan?

Al-Qur’an menjawab pertanyaan ini dengan sangat jelas. Allah menciptakan manusia dengan kemampuan berpikir, menimbang, dan memilih. Karena adanya kebebasan memilih itulah manusia dimintai pertanggungjawaban atas setiap keputusan yang diambilnya.

Kajian Syahida dengan metode Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa sejak awal Al-Qur’an menegaskan adanya dua jalan kehidupan yang terbentang di hadapan manusia: jalan petunjuk dan jalan kesesatan, jalan syukur dan jalan kufur, jalan iman dan jalan penolakan.

Pilihan berada di tangan manusia, sedangkan akibat dari pilihan itu berada dalam ketetapan Allah.

Allah Memberikan Kebebasan Memilih

Salah satu ayat paling tegas mengenai kebebasan memilih terdapat dalam Surah Al-Kahfi.

QS. Al-Kahfi [18]: 29

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah: Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin kafir hendaklah ia kafir.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak memaksa manusia untuk beriman. Kebenaran telah dijelaskan, petunjuk telah diturunkan, dan manusia diberi kebebasan untuk menentukan sikapnya.

Namun kebebasan itu bukan berarti tanpa konsekuensi. Setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Tidak Ada Paksaan dalam Agama

Al-Qur’an menegaskan bahwa keimanan yang bernilai adalah keimanan yang lahir dari kesadaran, bukan dari paksaan.

QS. Al-Baqarah [2]: 256لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.”

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, ayat ini sejalan dengan banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa tugas para rasul hanyalah menyampaikan, bukan memaksa manusia menerima kebenaran.

QS. Al-Ghasyiyah [88]: 21-22

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ ۝ لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ

“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.”

Ini menunjukkan bahwa Islam menghormati kebebasan hati dan akal manusia.

Dua Jalan Telah Dijelaskan

Al-Qur’an menggambarkan kehidupan sebagai persimpangan antara dua jalan yang telah diperlihatkan Allah kepada manusia.

QS. Al-Balad [90]: 10

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”

Para mufasir menjelaskan bahwa dua jalan tersebut adalah jalan kebaikan dan jalan keburukan, jalan keselamatan dan jalan kebinasaan.

Penjelasan yang lebih rinci ditemukan dalam Surah Asy-Syams.

QS. Asy-Syams [91]: 7-10

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۝ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Dengan demikian, manusia memiliki kemampuan untuk mengenali arah yang benar maupun yang salah.

Mengapa Allah Tidak Menjadikan Semua Manusia Beriman?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: jika Allah menghendaki, bukankah Dia mampu menjadikan seluruh manusia beriman?

Al-Qur’an menjawab pertanyaan ini secara langsung.

QS. Yunus [10]: 99

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَن فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu beriman semua orang yang ada di bumi seluruhnya. Maka apakah engkau hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”

Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman pilihan manusia merupakan bagian dari sunnatullah.

Allah menghendaki adanya ujian sehingga manusia dapat menunjukkan kualitas dirinya melalui pilihan-pilihan yang diambil.

Dunia Adalah Arena Ujian Pilihan

Kebebasan memilih diberikan karena kehidupan dunia merupakan tempat ujian.

QS. Al-Mulk [67]: 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”

Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan “siapa yang paling banyak amalnya”, tetapi “siapa yang paling baik amalnya”.

Artinya, kualitas pilihan lebih penting daripada kuantitas tindakan.

Jalan Syukur dan Jalan Kufur

Al-Qur’an juga menggambarkan dua jalan kehidupan sebagai jalan syukur dan jalan kufur.

QS. Al-Insan [76]: 3

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”

Ayat ini memperlihatkan bahwa setelah petunjuk diberikan, manusia akan menentukan sendiri responsnya.

Sebagian memilih menerima dan mensyukuri petunjuk Allah.

Sebagian lainnya memilih menolak dan mengingkarinya.

Tanggung Jawab Atas Setiap Pilihan

Karena manusia diberi kebebasan memilih, maka ia juga memikul tanggung jawab atas pilihannya.

QS. Al-Isra [17]: 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia tidak boleh menyerahkan hidupnya kepada prasangka, fanatisme, atau ikut-ikutan tanpa ilmu.

Allah menghendaki manusia menggunakan akal dan hati yang telah dianugerahkan-Nya.

Jalan yang Dipilih Menentukan Akhir Perjalanan

Setelah menjelaskan kebebasan memilih, Al-Qur’an juga menjelaskan konsekuensi dari setiap pilihan.

QS. Al-Lail [92]: 5-10

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ۝ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ۝ وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ۝ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

“Adapun orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan. Dan adapun orang yang bakhil, merasa dirinya cukup, dan mendustakan yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kesukaran.”

Ayat ini menggambarkan bahwa pilihan-pilihan manusia secara bertahap akan membentuk arah kehidupannya sendiri

Kesimpulan: Kebebasan yang Bertanggung Jawab

Kajian Syahida atas ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengakui dan menghormati kebebasan memilih manusia.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa:

  • Allah telah menjelaskan jalan kebenaran dan jalan kesesatan.
  • Tidak ada paksaan dalam menerima agama.
  • Setiap manusia diberi kebebasan untuk memilih.
  • Kehidupan dunia adalah ujian atas pilihan tersebut.
  • Setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
  • Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh klaim atau identitas, tetapi oleh ketakwaan dan amal yang dipilihnya.

Pada akhirnya, Al-Qur’an mengajak manusia untuk menggunakan akal, hati, dan nuraninya dalam menentukan jalan hidup.

Sebagaimana firman Allah:

QS. Asy-Syams [91]: 9

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”

Semoga Allah membimbing kita untuk memilih jalan yang lurus, meneguhkan hati dalam kebenaran, dan menjadikan setiap pilihan hidup kita sebagai jalan menuju ridha-Nya. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.(syahida)

Example 120x600