Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Bagaimana Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri?

5
×

Bagaimana Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri?

Share this article

Kajian Syahida Al-Qur'an bil Al-Qur'an. Oleh; Syahida

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Di tengah beragam metode penafsiran Al-Qur’an yang berkembang sepanjang sejarah Islam, para ulama sepakat bahwa metode paling kuat dan paling aman adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an (Tafsir Al-Qur’an bil Al-Qur’an).

Mengapa demikian?

Karena Allah adalah Pemilik wahyu sekaligus Yang paling mengetahui maksud dari wahyu-Nya. Maka penjelasan terbaik terhadap suatu ayat adalah ayat lain yang diturunkan oleh Allah sendiri.

Metode inilah yang menjadi fondasi berbagai kajian tematik Al-Qur’an, termasuk yang digunakan dalam Kajian Syahida, yaitu mengumpulkan seluruh ayat yang berbicara tentang satu tema, kemudian membiarkan Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri.

Lalu, benarkah Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri? Apa dasar metode ini? Bagaimana penerapannya dalam memahami petunjuk Allah?

Al-Qur’an Menyatakan Dirinya Sebagai Penjelas

Salah satu ayat paling penting tentang fungsi Al-Qur’an adalah firman Allah:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas bagi segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl [16]: 89)

Kata تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ (tibyānan likulli syai’) menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki kemampuan menjelaskan berbagai persoalan yang menjadi petunjuk bagi manusia.

Karena itu, ketika suatu ayat tampak umum, ringkas, atau memerlukan rincian, seorang peneliti Al-Qur’an terlebih dahulu mencari penjelasannya dalam ayat lain sebelum beralih kepada sumber-sumber penjelasan lainnya.

Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa tidak semua ayat memiliki tingkat kejelasan yang sama.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab kepadamu. Di dalamnya ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok Al-Kitab, dan yang lain mutasyabihat.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 7)

Ayat ini menjadi dasar penting metode Al-Qur’an bil Al-Qur’an.

Ayat-ayat yang jelas (muhkamat) menjadi rujukan utama dalam memahami ayat-ayat yang memerlukan penjelasan lebih lanjut (mutasyabihat).

Dengan demikian, Al-Qur’an telah menyediakan mekanisme internal untuk menjelaskan dirinya sendiri.

Salah Satu Fungsi Wahyu Adalah Menjelaskan Wahyu

Allah berfirman:

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

“Kemudian sesungguhnya Kamilah yang akan menjelaskan (Al-Qur’an) itu.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa penjelasan terhadap wahyu merupakan bagian dari kehendak Allah sendiri.

Salah satu bentuk penjelasan tersebut adalah melalui ayat-ayat lain yang tersebar dalam berbagai surah.

Karena itu sering ditemukan sebuah tema dijelaskan secara bertahap dan saling melengkapi di banyak tempat dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap Agar Dipahami

Allah berfirman:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلًا

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 106)

Karena turun secara bertahap selama lebih dari dua puluh tahun, banyak tema Al-Qur’an tidak dijelaskan hanya dalam satu ayat atau satu surah.

Sebaliknya, penjelasannya tersebar dan saling melengkapi.

Inilah yang melahirkan kebutuhan untuk menghimpun seluruh ayat dalam satu tema sebelum menarik kesimpulan.

Bagaimana Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri?

1. Ayat Global Dijelaskan oleh Ayat yang Lebih Rinci

Sebagai contoh, Al-Qur’an memerintahkan mendirikan salat:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Dan dirikanlah salat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

Perintah ini bersifat umum.

Namun ketika seluruh ayat tentang salat dikumpulkan, kita menemukan:

  • Tujuan salat (QS. Al-‘Ankabut: 45)
  • Waktu salat (QS. Hud: 114; QS. Al-Isra’: 78)
  • Sikap dalam salat (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Dengan demikian ayat-ayat tersebut saling menjelaskan.

2. Ayat yang Ringkas Dijelaskan oleh Ayat yang Lebih Panjang

Misalnya tentang penciptaan manusia.

Allah berfirman:

خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ

“Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 2)

Sementara rincian proses penciptaan dijelaskan lebih lengkap dalam:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ…

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah…” (QS. Al-Mu’minun [23]: 12-14)

Ayat yang satu melengkapi ayat lainnya.

3. Tema yang Sama Dijelaskan di Banyak Tempat

Contoh paling jelas adalah konsep takwa.

Al-Qur’an tidak memberikan definisi takwa dalam satu ayat tunggal.

Sebaliknya:

  • QS. Al-Baqarah: 177 menjelaskan karakter orang bertakwa.
  • QS. Ali ‘Imran: 133-135 menjelaskan perilaku mereka.
  • QS. Ath-Thalaq: 2-4 menjelaskan buah takwa.
  • QS. Al-Hujurat: 13 menjelaskan kedudukan orang bertakwa.

Keseluruhan ayat tersebut membentuk gambaran utuh tentang makna takwa.

Mengapa Metode Ini Sangat Penting?

Allah memperingatkan manusia agar tidak memahami Al-Qur’an secara parsial.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. An-Nisa’ [4]: 82)

Tadabbur menuntut pengkajian menyeluruh.

Mengambil satu ayat tanpa menghubungkannya dengan ayat lain berpotensi menghasilkan pemahaman yang tidak utuh.

Banyak kesalahpahaman lahir karena seseorang hanya mengambil sebagian ayat dan mengabaikan ayat-ayat lain yang menjelaskannya.

Metode Para Nabi dan Orang Berilmu

Al-Qur’an memuji orang-orang yang mendalami ilmu dan mencari pemahaman secara menyeluruh.

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepadanya; semuanya berasal dari Tuhan kami.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 7)

Mereka tidak mempertentangkan ayat dengan ayat.

Mereka mengumpulkan seluruh ayat terkait lalu memahami semuanya sebagai satu kesatuan.

Kajian Syahida dan Pendekatan Al-Qur’an bil Al-Qur’an

Kajian Syahida dibangun di atas prinsip bahwa:

  • Al-Qur’an adalah penafsir terbaik bagi dirinya sendiri.
  • Seluruh ayat dalam satu tema harus dihimpun.
  • Ayat yang jelas menjadi rujukan bagi ayat yang memerlukan penjelasan.
  • Kesimpulan harus lahir dari keseluruhan ayat, bukan dari satu ayat yang berdiri sendiri.

Dengan metode ini, tema-tema seperti tauhid, iman, takwa, doa, syafaat, jihad, nabi, akhirat, dan berbagai persoalan kehidupan dapat dipahami secara lebih utuh dan proporsional.

Kesimpulan Kajian Syahida

Melalui penelusuran ayat-ayat Al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa:

Pertama, Al-Qur’an menyatakan dirinya sebagai penjelas dan petunjuk bagi manusia.

Kedua, Allah menjadikan sebagian ayat sebagai penjelas bagi ayat lainnya.

Ketiga, tema-tema besar Al-Qur’an tersebar dalam banyak surah dan harus dihimpun untuk dipahami secara utuh.

Keempat, metode Al-Qur’an bil Al-Qur’an merupakan cara paling kuat dalam memahami maksud wahyu karena bersandar langsung pada penjelasan Allah.

Kelima, Kajian Syahida menjadikan pendekatan ini sebagai landasan utama untuk menggali pesan Al-Qur’an secara menyeluruh dan kontekstual.

Pada akhirnya, memahami Al-Qur’an tidak cukup dengan membaca satu ayat secara terpisah. Kita dituntut untuk melihat Al-Qur’an sebagai satu bangunan wahyu yang saling menguatkan dan saling menjelaskan.

كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“Sebuah Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Hud [11]: 1)

Wallāhu A’lam bish-Shawāb.

Example 120x600