Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Benarkah Manusia Telah Bersaksi Sebelum Dilahirkan?

3
×

Benarkah Manusia Telah Bersaksi Sebelum Dilahirkan?

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

 

Telaah QS Al-A’raf Ayat 172–174 dalam Perspektif Kajian Syahida Al-Qur’an bil Al-Qur’an

Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia


Mukadimah

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Di antara ayat Al-Qur’an yang paling sering menjadi perbincangan dalam kajian tentang fitrah manusia, tanggung jawab moral, dan hubungan manusia dengan Allah adalah firman-Nya dalam Surah Al-A’raf ayat 172–174.

Ayat tersebut berbicara tentang suatu peristiwa agung ketika Allah mengambil kesaksian dari anak-anak Adam:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami).”

Ayat ini menimbulkan pertanyaan yang sangat mendasar:

Apakah seluruh manusia benar-benar pernah bersaksi kepada Allah sebelum dilahirkan ke dunia?

Jika benar demikian, mengapa manusia tidak mengingatnya?

Apa tujuan dari kesaksian tersebut?

Dan bagaimana Al-Qur’an menjelaskan ayat ini melalui ayat-ayat lainnya?

Melalui metode Kajian Syahida Al-Qur’an bil Al-Qur’an, kita akan menelusuri ayat-ayat terkait agar Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri.

Ayat Kesaksian Agung

Allah berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul, kami menjadi saksi.’”

(QS. Al-A’raf [7]: 172)

Kemudian Allah menjelaskan tujuan kesaksian tersebut:

أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

“Agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini.”

(QS. Al-A’raf [7]: 172)

Dan:

أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِن قَبْلُ

“Atau agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Allah sejak dahulu.”

(QS. Al-A’raf [7]: 173)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kesaksian tersebut berkaitan langsung dengan tanggung jawab manusia terhadap tauhid.

Apakah Ini Peristiwa Nyata?

Al-Qur’an menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi.

Namun Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci bagaimana proses kesaksian itu berlangsung.

Karena itu, fokus utama Al-Qur’an bukan pada mekanisme peristiwanya, melainkan pada maknanya:

Bahwa manusia tidak datang ke dunia dalam keadaan kosong dari pengetahuan tentang Tuhannya.

Ada kesadaran dasar yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia.

Hubungan dengan Fitrah Manusia

Penjelasan paling dekat terhadap QS Al-A’raf 172 ditemukan dalam ayat tentang fitrah.

Allah berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”

(QS. Ar-Rum [30]: 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat kecenderungan alami untuk mengenal dan mengakui Allah.

Karena itu banyak mufasir memahami bahwa kesaksian dalam QS Al-A’raf bukan sekadar peristiwa historis, tetapi juga menjadi bagian dari fitrah yang terus melekat pada manusia.

Mengapa Manusia Masih Bisa Menjadi Musyrik?

Jika manusia telah bersaksi kepada Allah, mengapa banyak yang mengingkari-Nya?

Al-Qur’an menjawab bahwa lingkungan, hawa nafsu, tradisi, dan kesombongan dapat menutupi fitrah tersebut.

Allah berfirman:

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsu mereka tanpa ilmu.”

(QS. Ar-Rum [30]: 29)

Demikian pula:

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ

“Mereka mengingkarinya padahal hati mereka meyakininya.”

(QS. An-Naml [27]: 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap kebenaran sering kali bukan karena kurang bukti, melainkan karena kesombongan atau kepentingan tertentu.

Kesaksian dan Tanggung Jawab Moral

Salah satu pesan terpenting dari QS Al-A’raf 172–174 adalah bahwa manusia tidak dapat beralasan di hadapan Allah.

Allah berfirman:

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

“Para rasul itu sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar manusia tidak mempunyai alasan lagi di hadapan Allah setelah diutusnya para rasul.”

(QS. An-Nisa’ [4]: 165)

Kesaksian fitrah, ditambah pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab suci, menjadikan manusia memiliki dasar yang cukup untuk mengenal Tuhannya.

Karena itu, tidak ada alasan untuk mengalihkan kesalahan kepada orang tua, tradisi, atau masyarakat.

Mengapa Kita Tidak Mengingat Kesaksian Itu?

Pertanyaan yang sering muncul adalah:

“Jika memang pernah terjadi, mengapa saya tidak mengingatnya?”

Al-Qur’an tidak pernah menjadikan ingatan sebagai syarat tanggung jawab.

Banyak hal yang tidak diingat manusia tetapi pengaruhnya tetap ada.

Yang ditekankan Al-Qur’an bukan ingatan peristiwanya, melainkan keberadaan fitrah dan petunjuk yang terus mengingatkan manusia sepanjang hidupnya.

Karena itu Allah berulang kali menyebut Al-Qur’an sebagai:

ذِكْرٌ

“Peringatan.”

Sebab wahyu berfungsi membangkitkan kembali kesadaran yang telah ada dalam diri manusia.

Al-Qur’an dan Seruan untuk Mengingat

Banyak ayat menggunakan kata:

لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Agar mereka mengambil pelajaran (mengingat).”

Misalnya:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk menjadi pelajaran, maka adakah yang mau mengambil pelajaran?”

(QS. Al-Qamar [54]: 17)

Ini mengisyaratkan bahwa wahyu bukan membawa sesuatu yang sepenuhnya asing bagi manusia, melainkan mengingatkan kembali kepada kebenaran yang telah tertanam dalam fitrahnya.

Hakikat Kesaksian: Pengakuan terhadap Rububiyah Allah

Perhatikan bahwa pertanyaan Allah dalam QS Al-A’raf 172 adalah:

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ

“Bukankah Aku Tuhanmu?”

Bukan:

“Bukankah Aku Penciptamu?”

atau

“Bukankah Aku Penguasamu?”

Kata Rabb mencakup makna:

  • Pencipta
  • Pemelihara
  • Pengatur
  • Pemberi rezeki
  • Pembimbing kehidupan

Dengan demikian, kesaksian tersebut merupakan pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb yang berhak ditaati dan disembah.

Apa Relevansinya Bagi Kehidupan Kita?

Telaah ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa pesan utama QS Al-A’raf 172–174 bukan sekadar membahas peristiwa sebelum kelahiran manusia.

Pesan utamanya adalah:

  • Tauhid merupakan fitrah manusia.
  • Setiap manusia memiliki tanggung jawab pribadi di hadapan Allah.
  • Tidak ada alasan untuk menyalahkan lingkungan atau leluhur atas kesesatan.
  • Wahyu hadir untuk mengingatkan manusia kepada fitrahnya.
  • Kehidupan dunia adalah kesempatan untuk membuktikan kesetiaan terhadap kesaksian tersebut.

Kesimpulan Kajian Syahida

Melalui penelusuran ayat-ayat Al-Qur’an, dapat disimpulkan bahwa:

Pertama, QS Al-A’raf 172–174 berbicara tentang kesaksian manusia terhadap ketuhanan Allah sebelum kehidupan dunia.

Kedua, tujuan kesaksian tersebut adalah menegakkan tanggung jawab manusia sehingga tidak memiliki alasan untuk mengingkari Allah pada hari kiamat.

Ketiga, makna kesaksian itu berkaitan erat dengan fitrah yang Allah tanamkan dalam diri setiap manusia.

Keempat, wahyu dan para rasul berfungsi mengingatkan manusia kepada fitrah dan kesaksian tersebut.

Kelima, pesan utama ayat ini adalah bahwa setiap manusia bertanggung jawab secara pribadi atas pilihan tauhid atau kesyirikan yang diambilnya selama hidup di dunia.

Pada akhirnya, QS Al-A’raf 172–174 mengajarkan bahwa perjalanan manusia di dunia bukanlah perjalanan tanpa arah. Jauh sebelum manusia lahir, Allah telah menetapkan dasar pengenalannya terhadap Sang Pencipta.

Karena itu tugas terbesar manusia bukan mencari Tuhan yang tidak dikenal, melainkan kembali kepada Tuhan yang pada hakikatnya telah dikenal oleh fitrahnya sendiri.

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”

(QS. Ar-Rum [30]: 30)

Wallāhu A’lam bish-Shawāb. (syahida)

Example 120x600