“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Pendahuluan
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Salah satu pertanyaan teologis yang terus muncul dalam sejarah pemikiran Islam adalah: perlukah manusia menggunakan perantara untuk mendekat kepada Allah? Sebagian memahami bahwa kedudukan para nabi, rasul, atau orang-orang saleh dapat dijadikan media untuk memperoleh kedekatan dengan Allah. Di sisi lain, banyak ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Allah berlangsung secara langsung.
Bagaimana Al-Qur’an sendiri menjawab persoalan ini?
Melalui pendekatan Kajian Syahida (Qur’an bil Qur’an), yaitu menafsirkan ayat dengan ayat lainnya, artikel ini berusaha membangun pemahaman yang utuh tanpa menambahkan makna yang tidak disebutkan oleh Al-Qur’an. Sebab Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang telah disempurnakan dan dijelaskan secara rinci.
Al-Qur’an adalah Penjelas bagi Dirinya Sendiri
Allah berfirman:
﴿ أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ﴾
“Maka pantaskah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu dengan terperinci.” (QS. Al-An’am: 114)
Dan Allah berfirman:
﴿ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ﴾
“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya.” (QS. Al-An’am: 115)
Karena itu, ketika membahas konsep wasilah atau perantara, penjelasan harus dicari dari keseluruhan ayat Al-Qur’an, bukan dengan menambahkan makna yang tidak dinyatakan oleh nash.
Wasilah dalam Al-Qur’an
Ayat yang sering dijadikan dasar pembahasan adalah:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) menuju kepada-Nya, serta berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah: 35)
Ayat ini memerintahkan kaum mukmin untuk mencari wasilah menuju Allah. Namun, ayat tersebut tidak menyebut bahwa wasilah adalah nabi, wali, malaikat, atau manusia tertentu.
Dalam metode Qur’an bil Qur’an, makna wasilah harus dijelaskan oleh ayat-ayat lain yang berbicara tentang cara memperoleh kedekatan dengan Allah.
Bagaimana Al-Qur’an Menjelaskan Jalan Menuju Allah?
1. Ketakwaan
Perintah mencari wasilah dalam QS. Al-Ma’idah: 35 justru diawali dengan perintah:
﴿ اتَّقُوا اللَّهَ ﴾
“Bertakwalah kepada Allah.”
Hal ini menunjukkan bahwa ketakwaan merupakan fondasi utama dalam perjalanan menuju Allah.
2. Salat dan Kesabaran
Allah berfirman:
﴿ وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ﴾
“Dan orang-orang yang bersabar demi mencari keridhaan Tuhannya serta mendirikan salat…” (QS. Ar-Ra’d: 22)
Ayat ini menjelaskan bahwa salat dan kesabaran adalah sarana mencari wajah (ridha) Allah.
3. Sedekah dan Amal Sosial
﴿ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ﴾
“Dan apa pun yang kamu infakkan, hendaklah semata-mata untuk mencari keridhaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 272)
Al-Qur’an menjadikan amal sosial dan keikhlasan sebagai jalan mendekat kepada Allah.
4. Taubat dan Penyucian Diri
﴿ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴾
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Dengan demikian, wasilah dalam Al-Qur’an adalah seluruh amal saleh yang mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya.
Prinsip Dasar Al-Qur’an: Setiap Manusia Bertanggung Jawab atas Amal Sendiri
Allah berfirman:
﴿ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ﴾
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Ayat ini menegaskan bahwa kedekatan kepada Allah tidak bergantung pada jasa spiritual orang lain, melainkan pada iman dan amal yang diusahakan oleh setiap individu.
Allah Mengundang Manusia Berdoa Langsung kepada-Nya
Salah satu ayat paling kuat dalam tema ini adalah:
﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Ayat ini memiliki keistimewaan. Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad untuk menjawab pertanyaan tentang diri-Nya, melainkan Allah sendiri berfirman:
“Sesungguhnya Aku dekat.”
Ini menunjukkan bahwa hubungan antara Allah dan hamba-Nya berlangsung secara langsung.
Allah juga berfirman:
﴿ وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾
“Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)
Tidak ada satu ayat pun yang memerintahkan agar doa harus disampaikan melalui makhluk tertentu.
Mengapa Sebagian Manusia Menggunakan Perantara?
Al-Qur’an menjelaskan alasan yang digunakan oleh kaum musyrik:
﴿ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى ﴾
“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.”
(QS. Az-Zumar: 3)
Ayat ini memperlihatkan bahwa gagasan menjadikan makhluk sebagai perantara untuk mendekat kepada Allah telah ada sejak dahulu. Namun Al-Qur’an justru menolak alasan tersebut dan menegaskan bahwa agama yang murni hanyalah milik Allah.
Mereka yang Dijadikan Perantara Pun Mencari Jalan kepada Allah
Allah berfirman:
﴿ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ﴾
“Orang-orang yang mereka seru itu sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat. Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut kepada azab-Nya.”
(QS. Al-Isra’: 57)
Ayat ini menunjukkan bahwa para nabi dan hamba saleh sendiri adalah hamba Allah yang mencari wasilah kepada-Nya. Mereka berharap kepada rahmat Allah dan takut kepada azab-Nya.
Tauhid Doa dalam Al-Fatihah
Setiap muslim membaca ayat berikut dalam setiap rakaat salat:
﴿ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴾
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Ayat ini menjadi deklarasi tauhid yang menegaskan bahwa ibadah dan permohonan pertolongan ditujukan hanya kepada Allah.
Kesimpulan
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, terlihat bahwa Al-Qur’an membangun konsep tauhid yang utuh:
- Wasilah adalah jalan ketaatan berupa iman, takwa, salat, sedekah, taubat, kesabaran, dan amal saleh.
- Doa diarahkan secara langsung kepada Allah.
- Kedekatan dengan Allah diperoleh melalui ketakwaan dan amal pribadi.
- Tidak ada ayat yang secara eksplisit memerintahkan menjadikan nabi, wali, atau makhluk lain sebagai perantara dalam berdoa kepada Allah.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa seluruh syafaat berada di bawah kekuasaan Allah dan tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat tanpa izin-Nya (QS. Al-Baqarah: 255; QS. Az-Zumar: 44).
Dengan demikian, kemurnian tauhid menempatkan Allah sebagai satu-satunya tujuan ibadah, tempat memohon, dan sumber pertolongan.
Penutup
Al-Qur’an mengajarkan bahwa jalan menuju Allah terbuka bagi setiap hamba tanpa memandang kedudukan, suku, ataupun status sosial. Kedekatan dengan-Nya tidak ditentukan oleh hubungan dengan makhluk, tetapi oleh keimanan, ketakwaan, dan amal saleh.
Ketika seorang mukmin mengangkat kedua tangannya dalam doa, ia tidak membutuhkan penghubung, sebab Allah sendiri telah memberikan jaminan:
﴿ فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾
“Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186





























