Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an PPMINDONESIA.COM | KAJIAN SYAHIDA
Ketika “Orang Berilmu” Langsung Diartikan sebagai Ulama
Ketika Al-Qur’an menyebut “orang-orang yang berilmu”, sering kali istilah tersebut langsung dipahami sebagai ulama, syekh, ustaz, atau kelompok yang memiliki otoritas keagamaan.
Pemahaman demikian telah menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat. Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah:
Apakah Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa setiap penyebutan “orang-orang yang berilmu” merujuk kepada ulama sebagai sebuah kelompok sosial atau pemegang otoritas agama?
Pertanyaan ini penting karena Al-Qur’an mempunyai istilah sendiri untuk menyebut berbagai bentuk pengetahuan. Di antaranya adalah ‘ilm (عِلْم), ulū al-‘ilm (أُولُو الْعِلْمِ), alladzīna ūtu al-‘ilm (الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ), ar-rāsikhūna fī al-‘ilm (الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ), dan al-‘ulamā’ (الْعُلَمَاءُ).
Apakah semuanya menunjuk kepada kelompok yang sama?
Ataukah Al-Qur’an memberikan makna yang lebih luas dan lebih mendasar?
Melalui Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, persoalan ini tidak dimulai dari definisi sosial tentang “ulama”, tetapi dari bagaimana Al-Qur’an sendiri menggunakan kata ‘ilm dan turunannya.
Dari sana kita menemukan sebuah pola penting:
Dalam Al-Qur’an, ilmu bukan sekadar gelar atau status sosial. Ilmu berkaitan dengan kemampuan mengenali kebenaran, beriman, tunduk kepada Allah, menegakkan keadilan, dan melahirkan ketakwaan.
MEMBIARKAN AL-QUR’AN MENJELASKAN “ILMU”
Pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an berangkat dari prinsip sederhana: ketika suatu istilah Al-Qur’an hendak dipahami, jangan terburu-buru memasukkan makna yang berasal dari tradisi, kebiasaan, atau konstruksi sosial.
Pertama-tama, lihat bagaimana Al-Qur’an menggunakan istilah tersebut dalam ayat-ayat lainnya.
Kata ‘ilm (عِلْم) berasal dari akar kata ع ل م, yang berkaitan dengan pengetahuan, mengetahui, dan memahami.
Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah:
Untuk apa pengetahuan itu digunakan dalam Al-Qur’an?
Jawabannya mulai terlihat dalam QS. Al-Hajj [22]:54.
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Agar orang-orang yang telah diberi ilmu mengetahui bahwa Al-Qur’an itu benar-benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya. Sungguh, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.”
QS. Al-Hajj [22]:54
Perhatikan urutannya:
ilmu → mengetahui kebenaran → iman → ketundukan hati → jalan yang lurus.
Ini merupakan salah satu pola paling penting dalam memahami ‘ilm secara Qur’ani.
Ilmu yang dimaksud bukan berhenti pada “mengetahui sesuatu”.
Ilmu membawa seseorang kepada pengenalan terhadap kebenaran.
Dan ketika kebenaran telah dikenali, konsekuensinya adalah iman dan ketundukan hati.
ORANG YANG DIBERI ILMU MENGENALI KEBENARAN WAHYU
Allah berfirman:
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Orang-orang yang telah diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran dan memberi petunjuk kepada jalan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.”
QS. Saba’ [34]:6
Sekali lagi, Al-Qur’an menghubungkan ilmu dengan kemampuan mengenali wahyu sebagai kebenaran.
Ayat tersebut tidak mengatakan bahwa orang berilmu adalah orang yang memiliki gelar tertentu.
Yang ditekankan adalah kemampuan mereka melihat bahwa wahyu yang diturunkan dari Allah adalah al-haqq—kebenaran.
Dengan demikian, ukuran ilmu menurut Al-Qur’an tidak pertama-tama bersifat administratif.
Bukan:
“Siapa yang memiliki gelar?”
Melainkan:
“Siapa yang mampu mengenali kebenaran?”
QS. ALI ‘IMRAN [3]:18: SIAPAKAH “ULŪ AL-‘ILM”?
Salah satu ayat yang paling penting dalam pembahasan ini adalah QS. Ali ‘Imran [3]:18:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
QS. Ali ‘Imran [3]:18
Istilah yang digunakan adalah:
أُولُو الْعِلْمِ
Ulū al-‘ilm
Secara bahasa, berarti orang-orang yang memiliki ilmu.
Namun ada bagian lain yang tidak boleh dilewatkan:
قَائِمًا بِالْقِسْطِ
qā’iman bil-qisṭ
“menegakkan keadilan.”
Jadi, orang-orang berilmu dalam ayat ini berada dalam konteks:
tauhid + kesaksian + ilmu + keadilan.
Ini penting.
Al-Qur’an tidak hanya berbicara mengenai apa yang diketahui, tetapi juga apa yang dilakukan berdasarkan pengetahuan tersebut.
Jika ilmu benar, ia seharusnya melahirkan keadilan.
AL-QUR’AN MEMANG MENYEBUT “AL-‘ULAMĀ’”
Di titik ini kita perlu berhati-hati agar tidak jatuh kepada kesimpulan yang berlebihan.
Al-Qur’an memang menggunakan istilah:
الْعُلَمَاءُ — al-‘ulamā’
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
QS. Fāṭir [35]:28
Ayat ini memang sering diterjemahkan dengan kata “ulama.”
Tetapi kita perlu bertanya:
Apa karakter al-‘ulamā’ menurut ayat tersebut?
Jawabannya ada pada ayat itu sendiri:
يَخْشَى اللَّهَ
“takut kepada Allah.”
Jadi, karakter utama yang diberikan Al-Qur’an kepada al-‘ulamā’ bukan jubah, gelar, jabatan, atau posisi sosial.
Yang ditonjolkan adalah khashyah kepada Allah.
Dengan demikian, jika istilah ‘ulamā’ hendak dipahami secara Qur’ani, ukurannya harus dicari dari karakter yang diberikan Al-Qur’an kepada mereka, bukan semata-mata dari definisi sosial yang berkembang kemudian.
MENGAPA “AL-‘ULAMĀ’” MUNCUL SETELAH TANDA-TANDA ALAM?
Konteks QS. Fāṭir [35]:27–28 semakin memperjelas persoalan.
Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
“Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Kami menghasilkan buah-buahan yang beraneka macam warnanya. Dan di antara gunung-gunung terdapat garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat.”
QS. Fāṭir [35]:27
Kemudian:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Dan demikian pula di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak terdapat berbagai macam warna. Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”
QS. Fāṭir [35]:28
Konteks tersebut menarik.
Ayat berbicara tentang fenomena alam, keragaman ciptaan, dan tanda-tanda kekuasaan Allah, kemudian menyebut al-‘ulamā’.
Ini memberi pesan bahwa ilmu dalam Al-Qur’an dapat berkaitan dengan kemampuan membaca ayat-ayat Allah—baik ayat yang tertulis dalam wahyu maupun tanda-tanda-Nya dalam ciptaan.
Puncak pengetahuan tersebut bukan kesombongan intelektual, tetapi:
يَخْشَى اللَّهَ
“takut kepada Allah.”
ILMU YANG BENAR MELAHIRKAN IMAN
Kembali kepada QS. Al-Hajj [22]:54.
Allah tidak berhenti pada kata “mengetahui”.
Ayat tersebut melanjutkan:
فَيُؤْمِنُوا بِهِ
“lalu mereka beriman kepadanya.”
Kemudian:
فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
“dan hati mereka tunduk kepadanya.”
Maka pola yang muncul sangat jelas:
ILMU
↓
MENGETAHUI KEBENARAN
↓
IMAN
↓
KETUNDUKAN HATI
Dengan pola ini, ilmu dalam Al-Qur’an memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar penguasaan informasi.
ILMU DAN IMAN DALAM QS. AL-MUJĀDILAH [58]:11
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
QS. Al-Mujādilah [58]:11
Ayat ini sering digunakan untuk mengatakan:
“Allah meninggikan derajat ulama.”
Namun teks Al-Qur’an menggunakan:
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“orang-orang yang diberi ilmu.”
Bukan sebuah gelar sosial tertentu.
Karena itu, ayat ini tidak tepat apabila secara otomatis dijadikan legitimasi bahwa setiap orang yang memiliki gelar keagamaan pasti termasuk kelompok yang dimaksud ayat tersebut.
Al-Qur’an memberikan ukuran yang lebih substantif.
APAKAH “WA” MEMISAHKAN ORANG BERIMAN DAN ORANG BERILMU?
Salah satu persoalan yang sering muncul adalah kata:
وَ — wa
dalam QS. 58:11:
الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu.”
Kehadiran wa tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa dua unsur yang dihubungkan merupakan dua kelompok yang sama sekali terpisah.
Hubungan antara iman dan ilmu harus dibaca melalui konteks keseluruhan Al-Qur’an.
Dan QS. Al-Hajj [22]:54 menunjukkan bahwa orang yang diberi ilmu:
فَيُؤْمِنُوا بِهِ
“lalu mereka beriman kepadanya.”
Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak mengubah sebuah konstruksi bahasa menjadi klaim tentang adanya kelas sosial keagamaan yang memiliki kedudukan khusus di hadapan Allah.
ORANG YANG BERILMU DISEBUT DALAM KONTEKS MEMAHAMI KITAB
Allah berfirman:
وَمَن عِندَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ
“dan orang yang mempunyai pengetahuan tentang Kitab.”
QS. Ar-Ra‘d [13]:43
Dan:
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ
“Orang-orang yang telah diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran.”
QS. Saba’ [34]:6
Keduanya memperlihatkan bahwa ilmu memiliki hubungan dengan wahyu dan kemampuan mengenali kebenaran yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, orang yang berilmu dalam perspektif Al-Qur’an bukan sekadar orang yang mengetahui tentang agama, tetapi orang yang mampu memahami kebenaran wahyu dan menjadikannya petunjuk kehidupan.
LAWAN DARI ILMU: MENGIKUTI HAWA NAFSU TANPA PENGETAHUAN
Al-Qur’an juga menjelaskan:
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ
“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti keinginannya tanpa pengetahuan. Maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Mereka tidak mempunyai penolong.”
QS. Ar-Rum [30]:29
Ayat tersebut memberikan kontras:
ilmu berhadapan dengan hawa nafsu.
Orang yang tidak berilmu digambarkan mengikuti keinginannya tanpa pengetahuan.
Maka salah satu ciri ilmu yang benar adalah kemampuannya membebaskan manusia dari dominasi hawa nafsu.
JANGAN BERBICARA ATAS NAMA ALLAH TANPA ILMU
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat keras:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Katakanlah, ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, kezaliman tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak Dia turunkan keterangannya, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.’”
QS. Al-A‘raf [7]:33
Ayat ini mengandung prinsip penting dalam kehidupan keagamaan:
Tidak seorang pun boleh menjadikan nama Allah sebagai legitimasi untuk sesuatu yang tidak diketahuinya.
Karena itu, gelar keagamaan tidak boleh menjadi alasan untuk membebaskan suatu pendapat dari pengujian terhadap kebenaran.
Yang harus dihormati adalah kebenaran, bukan sekadar status pembicaranya.
ILMU DAN KEADILAN: DUA HAL YANG TIDAK BOLEH DIPISAHKAN
QS. Ali ‘Imran [3]:18 kembali menjadi penting:
وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan.”
Jika ilmu benar-benar menjadi cahaya bagi manusia, ia seharusnya menghasilkan keadilan.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
QS. An-Nahl [16]:90
Maka ilmu yang dimuliakan Al-Qur’an tidak boleh dipisahkan dari keadilan dan ihsan.
ILMU BUKAN UNTUK MEMBANGUN KESOMBONGAN
Al-Qur’an juga memberikan peringatan agar manusia tidak mengubah pengetahuan menjadi kesombongan.
Allah berfirman:
فَلَا تَزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
QS. An-Najm [53]:32
Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh menjadikan status, ilmu, atau identitasnya sebagai alasan untuk menganggap dirinya lebih suci daripada orang lain.
Sebab:
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
Allah-lah yang mengetahui kualitas batin manusia.
LALU, SIAPAKAH ORANG BERILMU YANG DIMULIAKAN AL-QUR’AN?
Jika seluruh ayat tersebut dibaca bersama, maka tampak sebuah gambaran yang cukup jelas.
Orang berilmu dalam perspektif Al-Qur’an adalah mereka yang:
1. Mengenali kebenaran
أَنَّهُ الْحَقُّ
“bahwa itu adalah kebenaran.”
QS. 22:54
2. Beriman kepada kebenaran
فَيُؤْمِنُوا بِهِ
“lalu mereka beriman kepadanya.”
QS. 22:54
3. Hatinya tunduk
فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
“dan hati mereka tunduk kepadanya.”
QS. 22:54
4. Menegakkan keadilan
قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“yang menegakkan keadilan.”
QS. 3:18
5. Memiliki khashyah kepada Allah
يَخْشَى اللَّهَ
“takut kepada Allah.”
QS. 35:28
6. Tidak mengikuti hawa nafsu tanpa ilmu
بِغَيْرِ عِلْمٍ
“tanpa pengetahuan.”
QS. 30:29
7. Berbuat baik
الْمُحْسِنِينَ
“orang-orang yang berbuat baik.”
QS. 12:22
Maka ukuran ilmu menurut Al-Qur’an bersifat substantif, bukan sekadar simbolik.
BUKAN JUBAH, BUKAN GELAR
Dari seluruh rangkaian ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa Al-Qur’an tidak mengatakan:
“Orang yang paling berilmu adalah orang yang memiliki gelar tertentu.”
Al-Qur’an justru memberikan tanda-tanda yang dapat dikenali:
Ilmunya membuat ia mengenali kebenaran.
Ilmunya membuat ia beriman.
Ilmunya membuat hatinya tunduk.
Ilmunya membuat ia menegakkan keadilan.
Ilmunya membuat ia takut kepada Allah.
Ilmunya membuat ia menjauhi hawa nafsu.
Ilmunya menghasilkan amal yang baik.
Maka jubah bukan ukuran.
Gelar bukan ukuran.
Jabatan bukan ukuran.
Popularitas bukan ukuran.
Jumlah pengikut bukan ukuran.
Ukuran yang dikemukakan Al-Qur’an adalah iman, kebenaran, keadilan, ketakwaan, dan amal.
APAKAH INI BERARTI ULAMA TIDAK PENTING?
Tidak.
Kajian ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan ulama atau menolak pentingnya orang-orang yang mendalami ilmu agama.
Masyarakat tetap membutuhkan guru, pendidik, ahli tafsir, ahli bahasa, ahli fikih, dan berbagai bidang keilmuan lainnya.
Yang perlu dibedakan adalah:
fungsi keilmuan dalam masyarakat
dengan
klaim bahwa gelar tertentu otomatis menjadikan seseorang sebagai “orang berilmu” yang dimuliakan Allah.
Al-Qur’an tidak memberikan jaminan seperti itu.
Bahkan orang yang mempunyai pengetahuan harus tetap diuji dengan ukuran Qur’ani:
Apakah ia berkata benar?
Apakah ia menegakkan keadilan?
Apakah ia tunduk kepada Allah?
Apakah ilmunya menghasilkan amal saleh?
POLA QUR’ANI TENTANG ILMU
Dari ayat-ayat yang telah dikaji, dapat dirumuskan sebuah pola:
ILMU
↓
MENGETAHUI KEBENARAN
↓
MENGENALI WAHYU
↓
BERIMAN
↓
HATI TUNDUK
↓
KHASYAH KEPADA ALLAH
↓
MENEGAKKAN KEADILAN
↓
AMAL SALEH
Inilah yang membedakan ilmu sebagai pengetahuan dari ilmu sebagai petunjuk kehidupan.
KESIMPULAN KAJIAN SYAHIDA
Pertanyaan awal kita adalah:
Benarkah “orang-orang yang berilmu” dalam Al-Qur’an selalu berarti ulama?
Jawabannya:
Tidak tepat jika setiap penyebutan “orang-orang yang berilmu” dalam Al-Qur’an secara otomatis dipersempit menjadi kelompok sosial yang bergelar ulama.
Al-Qur’an memang menggunakan istilah al-‘ulamā’, tetapi ketika menyebut mereka, Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat jelas:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”
QS. Fāṭir [35]:28
Al-Qur’an juga menyebut:
أُولُو الْعِلْمِ
“orang-orang yang memiliki ilmu”,
tetapi menghubungkannya dengan:
قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“menegakkan keadilan.”
Dan Al-Qur’an menyebut:
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“orang-orang yang diberi ilmu”,
tetapi menjelaskan bahwa mereka:
فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
“beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya.”
Maka ilmu yang dimuliakan Al-Qur’an bukan sekadar ilmu yang membuat seseorang tampak pintar di hadapan manusia.
Ilmu yang dimuliakan adalah ilmu yang:
- membuka mata terhadap kebenaran,
- menghidupkan iman,
- menundukkan hati,
- melahirkan keadilan,
- menumbuhkan ketakwaan,
- dan menghasilkan amal saleh.
Karena itu, pertanyaan Qur’ani yang lebih penting bukan:
“Siapa yang memiliki gelar ulama?”
Melainkan:
“Siapa yang ilmunya membuat ia mengenal kebenaran, tunduk kepada Allah, dan menegakkan keadilan?”
Di situlah kita menemukan makna orang berilmu yang dimuliakan Al-Qur’an.
KOTAK RENUNGAN | KAJIAN SYAHIDA
“Bukan jubah yang memuliakan ilmu. Bukan gelar yang menjadikan seseorang dekat kepada Allah. Al-Qur’an mengukur ilmu dari kebenaran yang dikenali, iman yang dilahirkan, hati yang tunduk, keadilan yang ditegakkan, dan ketakwaan yang diwujudkan.”





























