Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Hawa Nafsu: Ketika Manusia Menjadikan Dirinya Sendiri Sebagai Tuhan

7
×

Hawa Nafsu: Ketika Manusia Menjadikan Dirinya Sendiri Sebagai Tuhan

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

“Masalah terbesar manusia bukan selalu karena ia tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena ia membiarkan keinginannya menentukan apa yang dianggap benar.”


Ketika Keinginan Menjadi Penguasa

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Ada bentuk penyembahan yang sering tidak dikenali manusia.

Ia tidak selalu berupa sujud kepada patung. Tidak selalu berupa pengakuan bahwa sesuatu selain Allah adalah Tuhan. Bahkan seseorang dapat menyatakan dirinya beriman kepada Allah, rajin beribadah, dan tetap berada dalam keadaan ketika hawa nafsunya menjadi pusat keputusan hidupnya.

Al-Qur’an mengungkap fenomena ini dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan pengetahuan-Nya, serta mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutup atas penglihatannya? Maka siapa yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?” QS. Al-Jatsiyah [45]: 23

Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang tersebut secara verbal menyatakan, “Hawa nafsu saya adalah Tuhan.”

Ia menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan.

Di sinilah letak persoalannya.

Sesuatu dapat menjadi “tuhan” bukan hanya karena manusia menyembahnya secara ritual, tetapi karena sesuatu itu menjadi otoritas tertinggi yang menentukan pilihan hidupnya.

Apa itu Hawa Nafsu?

Dalam penggunaan sehari-hari, hawa nafsu sering dipersempit menjadi keinginan seksual. Padahal dalam perspektif Al-Qur’an, konsep hawa memiliki cakupan yang jauh lebih luas: kecenderungan keinginan yang dapat menyeret manusia menjauh dari kebenaran.

Al-Qur’an memberikan gambaran:

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” QS. Shad [38]: 26

Ayat tersebut memperlihatkan hubungan yang sangat jelas:

mengikuti hawa → menyimpang dari jalan Allah.

Dengan demikian, persoalan hawa nafsu bukan sekadar persoalan “memiliki keinginan”.

Manusia memang diciptakan dengan keinginan.

Persoalannya adalah ketika keinginan mengambil alih fungsi kesadaran.

Manusia Tidak Dilarang Memiliki Keinginan

Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk mematikan seluruh keinginannya.

Justru Al-Qur’an mengakui bahwa manusia memang memiliki kecenderungan terhadap berbagai hal yang menyenangkan.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk berupa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” QS. Ali ‘Imran [3]: 14

Ayat ini penting.

Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa manusia tidak boleh memiliki harta.

Tidak mengatakan manusia tidak boleh memiliki keluarga.

Tidak mengatakan manusia tidak boleh menikmati kehidupan.

Persoalannya bukan ada atau tidak adanya keinginan, melainkan siapa yang mengendalikan keinginan tersebut.

Keinginan adalah bagian dari kehidupan manusia.

Tetapi keinginan tidak boleh menjadi tuhan bagi manusia.

Dari Keinginan Menjadi Tuhan

Bagaimana keinginan berubah menjadi “tuhan”?

Jawabannya dapat ditemukan dengan membaca QS. Al-Jatsiyah [45]: 23 bersama QS. Al-Furqan [25]: 43.

Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

“Sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya? Apakah kamu akan menjadi pelindungnya?” QS. Al-Furqan [25]: 43

Dua ayat tersebut menggunakan ungkapan yang sama:

اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.”

Ini merupakan konsep penting dalam kajian Qur’an bil Qur’an.

“Tuhan” dalam konteks ini dapat dipahami sebagai sesuatu yang menjadi pusat kepatuhan dan orientasi tertinggi.

Jika setiap keputusan ditentukan oleh pertanyaan:

Apa yang saya inginkan?

Apa yang menguntungkan saya?

Apa yang membuat saya nyaman?

Apa yang memenuhi ego saya?

maka perlahan-lahan keinginan pribadi dapat mengambil posisi yang seharusnya ditempati oleh nilai kebenaran.

Manusia tidak lagi bertanya:

“Apa yang benar?”

tetapi hanya:

“Apa yang saya mau?”

Di titik itulah hawa nafsu mulai menjadi penguasa.

Ketika Keinginan Mengalahkan Kebenaran

Al-Qur’an memberikan gambaran lain:

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Jika mereka tidak memenuhi seruanmu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti keinginan mereka. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” QS. Al-Qashash [28]: 50

Frasa pentingnya adalah:

يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ

“Mereka mengikuti keinginan-keinginan mereka.”

Yang menjadi persoalan bukan bahwa manusia mempunyai keinginan.

Persoalannya adalah mengikuti keinginan tanpa petunjuk.

Artinya, Al-Qur’an tidak memusuhi keinginan manusia.

Al-Qur’an mengajarkan manusia agar keinginan berada di bawah kesadaran dan petunjuk, bukan sebaliknya.

Hati Yang Kehilangan Kendali

Jika manusia terus mengikuti hawa nafsu, persoalannya akhirnya menyentuh hati.

Al-Qur’an menggambarkan hati manusia sebagai sesuatu yang dapat mengalami perubahan:

كَلَّا ۖ بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” QS. Al-Muthaffifin [83]: 14

Ayat ini memberikan gambaran proses.

Perbuatan manusia meninggalkan bekas.

Pilihan yang dilakukan berulang-ulang dapat membentuk kebiasaan.

Kebiasaan dapat membentuk karakter.

Dan karakter pada akhirnya memengaruhi cara manusia melihat kehidupan.

Karena itu, kerusakan moral tidak selalu terjadi secara tiba-tiba.

Sering kali ia dimulai dari kompromi kecil terhadap keinginan.

Kemudian menjadi kebiasaan.

Kemudian menjadi pembenaran.

Dan akhirnya menjadi cara hidup.

Mengapa Manusia Sering Mengetahui Kebenaran, Tetapi Tidak Mengikutinya?

Ini merupakan salah satu paradoks terbesar manusia.

Seseorang dapat mengetahui bahwa sesuatu itu buruk, tetapi tetap melakukannya.

Ia mengetahui bahwa keserakahan merusak, tetapi tetap serakah.

Ia mengetahui bahwa kebohongan menghancurkan kepercayaan, tetapi tetap berbohong.

Ia mengetahui bahwa kemarahan merusak hubungan, tetapi tetap memeliharanya.

Mengapa?

Al-Qur’an memberikan salah satu jawabannya:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk Jahannam. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami; mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” QS. Al-A’raf [7]: 179

Masalahnya bukan semata-mata tidak mempunyai pengetahuan.

Masalahnya adalah manusia dapat memiliki perangkat untuk mengetahui, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami dan mengambil arah kehidupan.

Kebebasan Tanpa Kendali Dapat Menjadi Perbudakan

Manusia sering memahami kebebasan sebagai kemampuan melakukan apa saja yang ia inginkan.

Tetapi apakah mengikuti semua keinginan benar-benar berarti bebas?

Jika seseorang tidak mampu menghentikan kemarahan, apakah ia bebas?

Jika seseorang tidak mampu mengendalikan keserakahan, apakah ia bebas?

Jika seseorang tidak mampu mengatakan “cukup” terhadap harta, kekuasaan, atau kesenangan, apakah ia bebas?

Al-Qur’an memberikan prinsip:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۝ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” QS. Asy-Syams [91]: 7–10

Di sini muncul kata kunci:

زَكَّاهَا — menyucikannya

Manusia tidak diminta menghancurkan dirinya.

Manusia diminta menata dan menyucikan dirinya.

Inilah yang membedakan antara pengendalian diri dan penolakan terhadap kehidupan.

Ibadah Sebagai Latihan Membebaskan Diri

Pada titik ini, pembahasan tentang hawa nafsu bertemu dengan pembahasan tentang ibadah.

Mengapa manusia diperintahkan shalat?

Mengapa manusia diperintahkan puasa?

Mengapa manusia diperintahkan bersedekah?

Salah satu jawabannya dapat dibaca melalui fungsi masing-masing ibadah.

Shalat:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” QS. Al-‘Ankabut [29]: 45

Puasa:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah [2]: 183

Zakat:

تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

“Untuk membersihkan dan menyucikan mereka.”QS. At-Taubah [9]: 103

Jika ayat-ayat ini dibaca secara Qur’an bil Qur’an, terlihat satu garis besar:

Ibadah adalah pendidikan manusia untuk tidak menjadi budak dirinya sendiri.

Shalat melatih kesadaran.

Puasa melatih pengendalian.

Zakat melatih pelepasan keterikatan terhadap harta.

Tazkiyah membangun kemampuan manusia untuk mengendalikan kecenderungan yang merusak.

Dari “Aku Mau” Menuju “Apa Yang Benar?”

Barangkali perubahan terbesar dalam kehidupan spiritual manusia terjadi ketika ia mulai berpindah dari pertanyaan:

“Apa yang saya inginkan?”

menuju:

“Apa yang benar?”

Dari:

“Apa yang menguntungkan saya?”

menuju:

“Apa yang membawa kebaikan?”

Dari:

“Bagaimana saya mendapatkan semuanya?”

menuju:

“Bagaimana saya dapat memberi manfaat?”

Perubahan tersebut bukan berarti manusia kehilangan kehendak.

Justru manusia menemukan kebebasan yang lebih tinggi: kemampuan untuk tidak diperbudak oleh setiap keinginan yang muncul dalam dirinya.

Hawa Nafsu Bukan Untuk Dimusuhi, Tetapi Dikendalikan

Dalam membaca tema ini, penting untuk tidak jatuh pada pemahaman bahwa semua keinginan manusia adalah buruk.

Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa kehidupan dunia memiliki berbagai kenikmatan.

Persoalannya adalah ketika kenikmatan berubah menjadi tujuan tertinggi.

Harta dapat menjadi alat kebaikan.

Kekuasaan dapat digunakan untuk keadilan.

Keinginan memiliki keluarga dapat menjadi sumber kasih sayang.

Keinginan memperoleh kesejahteraan dapat menjadi dorongan produktivitas.

Tetapi ketika semua itu menjadi pusat orientasi hidup dan mengalahkan nilai kebenaran, manusia mulai kehilangan kendali.

Karena itu, persoalannya bukan:

“Apakah manusia boleh memiliki keinginan?”

Tetapi:

“Siapa yang menjadi pengendali keinginan itu?”

Dari Diri Sendiri Menuju Kehidupan Sosial

Masalah hawa nafsu ternyata tidak berhenti pada persoalan pribadi.

Jika keserakahan menjadi penguasa individu, ia dapat melahirkan eksploitasi.

Jika kekuasaan menjadi tujuan pribadi, ia dapat melahirkan penindasan.

Jika keuntungan menjadi satu-satunya ukuran, manusia dapat mengorbankan manusia lain.

Karena itu Al-Qur’an mengingatkan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” QS. Ar-Rum [30]: 41

Ayat ini memperlihatkan bahwa persoalan batin manusia dapat mempunyai konsekuensi sosial dan ekologis.

Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat berubah menjadi kerusakan kehidupan.

Kesadaran Abc: Aku, Bumi, Dan Cipta

Dalam perspektif pengembangan pemikiran PPM, pembahasan hawa nafsu juga dapat ditempatkan dalam kerangka kesadaran ABC: Aku, Bumi, dan Cipta.

Aku adalah kesadaran terhadap diri dan tanggung jawab manusia.

Bumi adalah ruang kehidupan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas.

Cipta adalah kemampuan manusia untuk menghasilkan karya, pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan peradaban.

Ketika hawa nafsu menguasai Aku, manusia kehilangan kendali atas dirinya.

Ketika keserakahan menguasai hubungan dengan Bumi, eksploitasi dan kerusakan dapat terjadi.

Ketika Cipta hanya diarahkan untuk memenuhi ego dan keuntungan tanpa tanggung jawab, kemajuan dapat berubah menjadi sumber persoalan baru.

Karena itu, manusia yang utuh bukan manusia yang mematikan keinginannya, tetapi manusia yang mampu menempatkan keinginan dalam keseimbangan dengan tanggung jawab.

Ketika “Aku” Menjadi Tuhan

Hawa nafsu pada dasarnya bukan sekadar keinginan.

Ia menjadi persoalan ketika keinginan berubah menjadi penguasa.

Al-Qur’an menyebut kondisi itu dengan ungkapan yang sangat kuat:

اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ

“Menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.”

Maka persoalan terbesar manusia bukan hanya apakah ia menyembah Tuhan atau tidak.

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

Siapa yang sesungguhnya menentukan arah hidupnya?

Apakah kebenaran?

Apakah kesadaran?

Apakah nilai-nilai ilahi?

Ataukah sekadar keinginan yang muncul dari dalam dirinya?

Sebab seseorang dapat mengucapkan nama Tuhan dengan lisannya, tetapi jika seluruh keputusan hidupnya hanya tunduk kepada ego, keserakahan, dan hawa nafsu, ia perlu melakukan perjalanan ke dalam dirinya sendiri.

Di sinilah makna ibadah menemukan relevansinya.

Shalat bukan sekadar berdiri di hadapan Tuhan, tetapi latihan agar manusia tidak tunduk kepada selain kebenaran.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi latihan agar manusia mampu mengatakan “tidak” kepada keinginannya sendiri.

Sedekah bukan sekadar memindahkan harta, tetapi latihan agar harta tidak menjadi penguasa hati.

Dan seluruh ketaatan pada akhirnya mengarah kepada satu tujuan:

membebaskan manusia dari perbudakan terhadap dirinya sendiri.

Sebab mungkin bentuk kesyirikan yang paling halus bukan ketika manusia mengatakan, “Saya tidak percaya kepada Tuhan,” tetapi ketika tanpa sadar ia berkata melalui seluruh pilihan hidupnya:

“Yang paling saya ikuti adalah apa yang saya inginkan.”

Di titik itulah manusia perlu kembali bertanya kepada dirinya:

Apakah aku yang mengendalikan hawa nafsuku, atau hawa nafsuku yang sedang mengendalikan aku?


KAJIAN SYAHIDA | QUR’AN BIL QUR’AN
Al-Qur’an dibaca dengan Al-Qur’an: ayat menerangkan ayat, tema menemukan hubungan, dan manusia diajak kembali kepada kesadaran tentang dirinya.

Example 120x600