Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Jalan Lurus: Definisi Islam Dalam Al Quran

12
×

Jalan Lurus: Definisi Islam Dalam Al Quran

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh syahida

Islam sering dipahami melalui nama, identitas, ritual, atau simbol keagamaan. Namun, ketika Al-Qur’an sendiri berbicara tentang Islam, gambaran yang muncul jauh lebih luas: sebuah jalan lurus menuju Allah yang harus diwujudkan dalam seluruh kehidupan manusia.


Ketika Al-Qur’an Mendefinisikan Islam

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Apa sebenarnya Islam menurut Al-Qur’an?

Pertanyaan ini penting karena definisi Islam tidak seharusnya hanya dibangun dari kebiasaan, tradisi, atau persepsi manusia tentang agama. Jika Al-Qur’an adalah sumber utama petunjuk, maka Al-Qur’an pula yang semestinya menjadi rujukan utama untuk memahami apa yang dimaksud dengan Islam.

Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya menyebut Islam sebagai sebuah identitas keagamaan. Al-Qur’an menggunakan sejumlah ungkapan yang saling menjelaskan: jalan lurus, agama yang benar, kepasrahan kepada Allah, petunjuk, takwa, keadilan, dan amal saleh.

Karena itu, Kajian Syahida mencoba membaca ayat dengan ayat: Al-Qur’an menjelaskan Al-Qur’an.

1. Jalan Lurus Itu Disebut sebagai Jalan Islam

Salah satu ayat yang sangat penting untuk memahami Islam terdapat dalam QS Al-An‘am ayat 161:

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِّلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah, sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”
(QS Al-An‘am 6:161)

Ayat ini menarik karena menyandingkan beberapa konsep:

petunjuk → jalan lurus → agama yang benar → tauhid.

Islam, dengan demikian, tidak pertama-tama digambarkan sebagai sekumpulan identitas sosial. Ia digambarkan sebagai jalan yang mendapat petunjuk Allah.

Pertanyaannya kemudian: apa isi jalan lurus tersebut?

Al-Qur’an kembali menjelaskannya.

2. Jalan Lurus Bukan Jalan yang Dibuat Manusia

Setiap hari seorang Muslim memohon:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS Al-Fatihah 1:6)

Doa ini bukan sekadar permohonan agar seseorang mengetahui jalan yang benar. Ayat berikutnya memberikan penjelasan:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.”
(QS Al-Fatihah 1:7)

Di sini muncul prinsip penting dalam membaca Al-Qur’an:

jalan lurus bukan ditentukan oleh manusia, melainkan oleh Allah.

Karena itu, untuk mengetahui seperti apa jalan tersebut, kita perlu mencari penjelasan Al-Qur’an pada ayat-ayat lainnya.

3. Al-Qur’an Menjelaskan Isi Jalan Lurus

Salah satu penjelasan paling komprehensif terdapat dalam QS Al-An‘am 6:151–153.

Allah menyebutkan larangan menyekutukan-Nya, kewajiban berbuat baik kepada orang tua, larangan membunuh anak, menjauhi perbuatan keji, menjaga kehidupan, menjaga harta anak yatim, menyempurnakan takaran dan timbangan, berkata adil, serta memenuhi janji.

Kemudian rangkaian itu ditutup dengan pernyataan:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Jangan kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS Al-An‘am 6:153)

Perhatikan konstruksinya.

Al-Qur’an tidak mendefinisikan jalan lurus hanya melalui ritual.

Jalan itu mencakup tauhid, keluarga, perlindungan kehidupan, kepedulian sosial, kejujuran ekonomi, keadilan, dan tanggung jawab moral.

Dengan metode Qur’an bil Qur’an, ayat 6:153 menjadi penjelasan konkret terhadap “jalan lurus” dalam QS Al-Fatihah 1:6.

4. Islam Bukan Sekadar Nama, tetapi Sikap Hidup

Al-Qur’an menyatakan:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.”
(QS Ali ‘Imran 3:19)

Ayat ini sering dibaca hanya sebagai penegasan nama agama.

Namun, jika ayat tersebut dibaca bersama ayat-ayat lain, terlihat bahwa Islam memiliki kandungan yang jauh lebih dalam daripada sekadar nama.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Katakanlah, sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”
(QS Al-An‘am 6:162–163)

Di sini cakupannya menjadi sangat jelas:

shalat → ibadah → hidup → mati → semuanya untuk Allah.

Islam tidak berhenti di ruang ibadah.

Islam menyentuh seluruh orientasi kehidupan.

5. “Hidup untuk Allah” Bukan Berarti Meninggalkan Dunia

Jika seluruh hidup diarahkan kepada Allah, apakah itu berarti manusia harus menjauhi kehidupan dunia?

Al-Qur’an justru memberikan gambaran yang berbeda.

QS Al-Baqarah 2:177 menjelaskan bahwa kebajikan bukan sekadar menghadapkan wajah ke arah tertentu:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ…

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan ialah orang yang beriman kepada Allah…”
(QS Al-Baqarah 2:177)

Kemudian ayat tersebut menjelaskan bentuk konkretnya: memberikan harta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir dan mereka yang membutuhkan; menegakkan salat; menunaikan zakat; memenuhi janji; serta bersabar.

Dengan demikian, iman melahirkan tindakan sosial.

Islam tidak memisahkan hubungan manusia dengan Allah dari hubungan manusia dengan sesama.

6. Ritual dalam Islam Memiliki Arah

Apakah ini berarti ritual tidak penting?

Justru sebaliknya.

Al-Qur’an menunjukkan bahwa ritual memiliki tujuan transformasi.

Tentang salat, Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS Al-‘Ankabut 29:45)

Tentang puasa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ … لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa … agar kamu bertakwa.”
(QS Al-Baqarah 2:183)

Maka ritual bukan tujuan yang terputus dari kehidupan.

Salat diarahkan kepada perubahan perilaku. Puasa diarahkan kepada takwa. Zakat diarahkan kepada kepedulian dan pembersihan harta.

Ritual adalah jalan pembentukan manusia.

7. Al-Ma‘un: Ketika Ritual Kehilangan Makna

Salah satu kritik Al-Qur’an yang paling tajam terhadap pemisahan ritual dari tanggung jawab sosial terdapat dalam Surah Al-Ma‘un.

Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS Al-Ma‘un 107:1–3)

Kemudian Al-Qur’an berbicara tentang orang-orang yang melakukan salat:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۝ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan.”
(QS Al-Ma‘un 107:4–7)

Pesannya sangat kuat:

ritual tidak boleh terputus dari kepedulian sosial.

Bukan berarti salat tidak penting. Justru Al-Qur’an menunjukkan bahwa salat kehilangan arah ketika tidak membentuk manusia yang peduli terhadap kehidupan di sekitarnya.

8. Jalan Lurus Mengarah kepada Kehidupan yang Lebih Lurus

Al-Qur’an menjelaskan fungsi dirinya sendiri:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS Al-Isra 17:9)

Kata aqwam menunjukkan sesuatu yang lebih lurus, lebih tegak, lebih benar dan lebih baik dalam arah kehidupan.

Maka Al-Qur’an bukan hanya memberikan jawaban tentang bagaimana seseorang beribadah.

Ia juga memberikan petunjuk tentang bagaimana manusia hidup.

Bagaimana memperlakukan orang tua.

Bagaimana mengelola harta.

Bagaimana memperlakukan orang miskin.

Bagaimana menegakkan keadilan.

Bagaimana menjaga kehidupan.

Bagaimana memenuhi janji.

Bagaimana menggunakan kekuasaan.

Bagaimana membangun hubungan sosial.

Semua itu berada dalam wilayah petunjuk Al-Qur’an.

9. Dari Jalan Lurus Menuju Sistem Kehidupan

Jika ayat-ayat tersebut dibaca secara terpisah, kita mungkin melihat Islam sebagai kumpulan kewajiban.

Tetapi ketika ayat-ayat itu dibaca melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, muncul sebuah struktur yang lebih utuh:

Allah → tauhid → petunjuk → jalan lurus → ibadah → takwa → akhlak → keadilan → tanggung jawab kehidupan.

Inilah yang membuat Islam tidak berhenti sebagai identitas.

QS Al-An‘am 6:162 bahkan menggunakan kata مَحْيَايَ — hidupku.

وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”

Dengan demikian, Islam menurut Al-Qur’an tidak hanya menjawab:

“Apa yang harus saya lakukan di tempat ibadah?”

Tetapi juga:

“Untuk siapa saya hidup?”

“Bagaimana saya memperlakukan manusia?”

“Bagaimana saya menggunakan harta?”

“Bagaimana saya menjalankan amanah?”

“Bagaimana saya menegakkan keadilan?”

10. Islam sebagai Jalan, Bukan Sekadar Identitas

Di sinilah persoalan Islam sebagai identitas perlu direnungkan.

Seseorang dapat membawa nama Islam.

Seseorang dapat mengenakan simbol Islam.

Seseorang dapat menjalankan ritual Islam.

Namun Al-Qur’an mengajak manusia bergerak lebih jauh: menjadikan petunjuk Allah sebagai jalan hidup.

Karena itu, ukuran keberagamaan dalam Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada apa yang tampak secara lahiriah.

Al-Qur’an menghubungkan iman dengan amal.

Ibadah dengan takwa.

Takwa dengan akhlak.

Akhlak dengan keadilan.

Dan kehidupan dengan pengabdian kepada Allah.

Islam menjadi hidup ketika nilai-nilai tersebut hadir dalam perilaku manusia.

Refleksi Kajian Syahida

Jika QS Al-Fatihah 1:6 mengajarkan kita memohon jalan yang lurus, maka QS Al-An‘am 6:153 menjelaskan bahwa jalan itu adalah jalan Allah yang harus diikuti.

Jika QS Al-An‘am 6:161 menyebut jalan lurus sebagai agama yang benar, maka QS Al-An‘am 6:162–163 menunjukkan bahwa orientasi jalan tersebut mencakup salat, ibadah, hidup, dan mati hanya untuk Allah.

Jika QS Al-Baqarah 2:177 menjelaskan kebajikan melalui iman, kepedulian sosial, ibadah, janji dan kesabaran, maka QS Al-Ma‘un 107:1–7 memperingatkan bahwa ritual yang terputus dari kepedulian sosial kehilangan maknanya.

Dan jika QS Al-Isra 17:9 menyatakan bahwa Al-Qur’an memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus, maka Al-Qur’an sendiri menjadi peta untuk memahami Islam secara utuh.

Inilah prinsip Qur’an bil Qur’an:

Ayat tidak berdiri sendirian. Ayat menjelaskan ayat. Tema menerangkan tema. Dan konsep Islam dibaca melalui keseluruhan jaringan petunjuk Al-Qur’an.

Penutup: Kembali kepada Jalan Lurus

Mungkin persoalan terbesar bukan apakah kita mengenal Islam.

Kita sudah mengenalnya.

Bukan pula apakah kita memiliki ritual.

Kita memilikinya.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Apakah Islam yang kita kenal telah menjadi jalan hidup yang kita tempuh?

Sebab Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan manusia untuk mengetahui jalan lurus.

Ia memerintahkan:

فَاتَّبِعُوهُ

“Maka ikutilah jalan itu.”
(QS Al-An‘am 6:153)

Jalan lurus bukan sekadar pengetahuan.

Bukan sekadar identitas.

Bukan sekadar simbol.

Bukan pula sekadar ritual yang berdiri sendiri.

Jalan lurus adalah jalan Allah yang mengarahkan seluruh kehidupan manusia kepada-Nya.

Dan mungkin di situlah makna terdalam Islam dalam perspektif Al-Qur’an:

bukan hanya mengetahui siapa Allah, tetapi menjadikan Allah sebagai pusat orientasi seluruh kehidupan.


KAJIAN SYAHIDA | QUR’AN BIL QUR’AN

Example 120x600