Scroll untuk baca artikel
Berita

Makna Sujud: Tunduknya Manusia dan Semesta Menurut Al-Qur’an

6
×

Makna Sujud: Tunduknya Manusia dan Semesta Menurut Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Sujud, Lebih dari Sekadar Gerakan Fisik

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Dalam praktik keagamaan, sujud umumnya dikenal sebagai salah satu gerakan utama dalam shalat. Dahi menyentuh tanah, tubuh merendah, dan manusia mengucapkan tasbih kepada Allah.

Namun, Al-Qur’an menggunakan istilah sujud dalam cakupan yang jauh lebih luas. Sujud bukan hanya gerakan tubuh manusia dalam ritual shalat. Al-Qur’an juga menyebut malaikat, matahari, bulan, bintang, gunung, pepohonan, bahkan seluruh makhluk sebagai bagian dari tatanan yang “bersujud” kepada Allah.

Di sinilah kajian Qur’an bil Qur’an membuka pertanyaan penting: Apakah sujud hanya berarti menempelkan dahi ke tanah, ataukah ia menggambarkan prinsip ketundukan seluruh ciptaan terhadap hukum Allah?

Al-Qur’an memberikan gambaran yang menarik.

Malaikat dan Adam: Sujud sebagai Pengakuan terhadap Ketetapan Allah

Ketika Allah menciptakan Adam, Al-Qur’an menggambarkan adanya perintah kepada malaikat untuk bersujud.

Allah berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.”
(QS Al-Baqarah [2]: 34)

Ayat tersebut menarik karena objek sujud adalah Adam, sementara perintahnya datang dari Allah.

Dengan demikian, sujud dalam konteks ini tidak dapat begitu saja dipahami sebagai penyembahan kepada Adam. Ia merupakan bentuk ketaatan terhadap perintah Allah.

Iblis justru digambarkan menolak bukan karena tidak mengenal Allah, melainkan karena kesombongan dan penolakannya terhadap ketetapan tersebut.

Di sini Al-Qur’an memperkenalkan salah satu lawan utama sujud: kesombongan.

Sujud merendahkan diri, sedangkan kesombongan menempatkan diri di atas yang lain.

Sujud Tidak Hanya Milik Manusia

Jika sujud hanya bermakna gerakan ritual manusia, bagaimana menjelaskan ayat-ayat yang menyebut makhluk lain juga bersujud?

Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ

“Tidakkah engkau melihat bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia?”
(QS Al-Hajj [22]: 18)

Ayat ini memperluas cakrawala makna sujud.

Matahari tidak melakukan shalat sebagaimana manusia. Gunung tidak menempelkan dahinya ke tanah. Pepohonan tidak menjalankan gerakan ritual seperti manusia.

Namun Al-Qur’an tetap menyebut semuanya bersujud.

Karena itu, sujud memiliki dimensi yang lebih luas: ketundukan makhluk terhadap ketetapan dan hukum Allah dalam kehidupan.

Matahari dan Bulan dalam Ketundukan Kosmik

Al-Qur’an juga menyebut benda-benda langit dalam konteks sujud.

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Dan hanya kepada Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi bersujud, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa, dan (demikian pula) bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang.”
(QS Ar-Ra‘d [13]: 15)

Ayat ini menghadirkan konsep yang menarik: ada makhluk yang tunduk secara sadar dan ada pula yang tunduk secara niscaya.

Matahari tidak dapat memilih apakah akan mengikuti hukum gravitasi. Bumi tidak dapat memilih apakah akan mengikuti hukum-hukum kosmik. Air mengikuti sifat dan hukum fisiknya. Tumbuhan tumbuh melalui hukum biologis yang telah ditetapkan Allah.

Dalam pengertian ini, alam semesta berada dalam suatu ketundukan kosmik.

Sujud sebagai Hukum Kehidupan

Al-Qur’an bahkan menggunakan istilah sujud ketika menggambarkan bayang-bayang benda.

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَىٰ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِّلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ

“Tidakkah mereka memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah, bayang-bayangnya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan bersujud kepada Allah, dan mereka merendahkan diri?”
(QS An-Nahl [16]: 48)

Bayangan menjadi tanda bahwa alam memiliki keteraturan.

Ia bergerak mengikuti perjalanan cahaya dan posisi benda terhadap sumber cahaya. Al-Qur’an membaca keteraturan tersebut sebagai bagian dari ketundukan kepada Allah.

Maka sujud dapat dibaca bukan hanya sebagai posisi tubuh, tetapi sebagai keselarasan dengan hukum kehidupan yang telah ditetapkan Allah.

Manusia: Bersujud Secara Sadar

Di sinilah posisi manusia menjadi unik.

Manusia memiliki kemampuan memilih. Ia dapat tunduk atau menolak. Ia dapat merendahkan diri atau menyombongkan diri.

Karena itu, sujud manusia mempunyai dimensi moral yang lebih kompleks.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.”
(QS Al-Hajj [22]: 77)

Ayat ini menarik karena sujud ditempatkan bersama dengan berbuat kebaikan.

Artinya, sujud tidak berhenti pada posisi tubuh. Ia seharusnya mempunyai konsekuensi dalam perilaku.

Dahi boleh menyentuh tanah, tetapi kesombongan tidak boleh tetap berada di dalam hati.

Tubuh boleh merendah, tetapi perilaku terhadap sesama manusia juga semestinya mencerminkan kerendahan hati.

Sujud dan Kesombongan

Al-Qur’an memperlihatkan bahwa persoalan Iblis bukan ketidaktahuan tentang Tuhan. Persoalannya adalah kesombongan.

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

“Ia (Iblis) berkata, ‘Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.’”
(QS Al-A‘raf [7]: 12)

Iblis membangun penolakannya melalui klaim superioritas.

Karena itu, sujud dapat dipahami sebagai antitesis kesombongan. Sujud mengajarkan manusia bahwa kemuliaan tidak lahir dari merasa lebih tinggi daripada yang lain.

Dalam perspektif Qur’ani, ukuran kemuliaan justru berkaitan dengan ketakwaan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS Al-Hujurat [49]: 13)

Ketika Sujud Menjadi Etika Sosial

Dari sini muncul pertanyaan penting: bagaimana sujud diterjemahkan dalam kehidupan sosial?

Jika seseorang benar-benar memahami makna sujud, semestinya ia tidak mudah menindas orang lain. Ia tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk menyombongkan diri. Ia tidak mengeksploitasi alam tanpa batas.

Sebab sujud berarti kesadaran bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas kehidupan.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
(QS Al-Isra [17]: 37)

Sujud dengan demikian mempunyai konsekuensi ekologis dan sosial.

Manusia yang menyadari dirinya sebagai bagian dari ciptaan akan lebih berhati-hati dalam memperlakukan bumi, sesama manusia, dan makhluk lainnya.

Sujud dan Kesadaran Kosmik

Pada akhirnya, Al-Qur’an membawa manusia dari ruang ibadah menuju kesadaran kosmik.

Langit bersujud. Bumi bersujud. Matahari dan bulan tunduk. Gunung dan pepohonan bersujud. Binatang tunduk kepada hukum penciptaannya.

Manusia kemudian diberikan pilihan: apakah ia akan hidup selaras dengan tatanan tersebut atau justru melawan dengan kesombongannya?

Allah berfirman:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Dan kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan di bumi.”
(QS An-Nahl [16]: 49)

Sujud dalam perspektif Qur’an bil Qur’an karena itu dapat dibaca dalam dua dimensi sekaligus.

Pertama, sujud ritual, yakni tindakan ibadah manusia yang memiliki tata cara tertentu.

Kedua, sujud eksistensial, yakni ketundukan seluruh ciptaan terhadap hukum dan ketetapan Allah.

Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Sujud ritual seharusnya membentuk kesadaran eksistensial. Dan kesadaran eksistensial seharusnya tercermin dalam kehidupan nyata.

Dari Dahi ke Bumi

Mungkin inilah salah satu pesan terpenting sujud.

Setiap kali dahi menyentuh bumi, manusia diingatkan tentang asal-usulnya.

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari bumi itulah Kami menciptakan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sana Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.”
(QS Taha [20]: 55)

Dari tanah manusia berasal. Kepada tanah manusia kembali.

Maka sujud sesungguhnya dapat menjadi sebuah pengingat tentang posisi manusia dalam semesta: bukan pemilik mutlak bumi, melainkan bagian dari kehidupan yang tunduk kepada Sang Pencipta.

Sujud bukan sekadar merendahkan tubuh.

Ia adalah latihan untuk merendahkan kesombongan, mengendalikan kerakusan, menghormati kehidupan, dan menyadari bahwa manusia hidup di tengah semesta yang semuanya tunduk kepada Allah.

Ketika dahi menyentuh bumi, semoga yang ikut bersujud bukan hanya tubuh, tetapi juga kesombongan manusia. (syahida)

Example 120x600