ppmindonesia.com Mataram,– Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi besar dalam produksi jagung, dengan perkiraan hasil panen mencapai 900 ribu hingga 1 juta ton pada puncak panen akhir Maret hingga awal Mei 2025. Namun, potensi ini perlu dioptimalkan untuk memberikan manfaat maksimal bagi petani.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen pada 2024 mencapai 1,56 juta ton, atau 1,15 juta ton dengan kadar air 14 persen.
Angka ini mengalami penurunan 9,96 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 1,28 juta ton. Luas panen jagung juga turun dari 179 ribu hektare pada 2023 menjadi 173 ribu hektare pada 2024.
Tantangan dan Upaya Pemerintah
Pemerintah Provinsi NTB menargetkan produksi jagung 4 juta ton pada 2025 untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Penjabat Gubernur NTB, Hassanudin, menegaskan komitmen ini saat melakukan penanaman jagung serentak di Lombok Timur.
Pemerintah juga menaikkan harga pembelian jagung dari Rp 5.000/kg menjadi Rp 5.500/kg per 1 Februari 2025 untuk menjaga stabilitas harga dan keuntungan petani. Namun, harga di tingkat petani seringkali lebih rendah.
Moh. Yamin dari Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) NTB menyatakan bahwa masalah utama petani bukan hanya harga, tetapi juga kualitas jagung yang belum memenuhi standar pasar akibat proses pengeringan yang masih mengandalkan sinar matahari.
Peran PPM dalam Penguatan Petani
Dalam Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat oleh PPM NTB, peserta mengusulkan pengadaan mesin pengering jagung. Namun, perlu ada mekanisme pengadaan dan kemitraan yang adil dengan pengusaha atau investor.

Sekretaris Jenderal PPM Nasional, Anwar Hariyono, dalam sambungan melalui telepon mengusulkan penguatan kelembagaan petani melalui koperasi agar petani memiliki akses lebih baik terhadap modal, teknologi, dan pasar.
PPM Nasional juga siap membantu mencari solusi pengadaan mesin pengering dan mendukung distribusi serta perdagangan jagung, serta bekerja sama dengan pemerintah, khususnya Kementerian Koperasi dan UKM.
Hasil Pelatihan Kader Pengembangan Masyarakat PPM NTB merumuskan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan petani jagung, antara lain:
- Peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan dan pendampingan.
- Penguatan kelembagaan petani dalam bentuk koperasi.
- Pengadaan alat pengering jagung untuk meningkatkan kualitas produksi.
- Kemitraan dengan pemerintah dan stakeholder terkait untuk distribusi dan harga yang adil.
PPM NTB optimis langkah-langkah ini akan memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat NTB.(emha)



























