Jakarta|PPMIndonesia.com– Kisah Nabi Ibrahim dan putranya yang selama ini diyakini sebagai perintah Allah untuk penyembelihan merupakan salah satu narasi paling berpengaruh dalam tradisi keagamaan. Hampir seluruh umat Islam mengenalnya sebagai puncak ketundukan Ibrahim kepada Tuhan.
Namun ketika kisah ini dibaca langsung melalui metode Qur’an bil Qur’an — menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an — muncul pertanyaan yang sangat mendasar:
Apakah Allah benar-benar memerintahkan seorang nabi untuk membunuh anaknya sendiri yang tidak bersalah?
Ataukah selama ini kita mewarisi penafsiran yang tidak sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an?
Kajian ini mencoba menelaah kisah tersebut hanya berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an, tanpa membawa asumsi dari tradisi di luar Al-Qur’an.
Allah Tidak Pernah Memerintahkan Perbuatan Keji
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas tentang sifat Allah dan hukum-Nya:
وَإِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةًۭ قَالُوا۟ وَجَدْنَا عَلَيْهَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami melakukannya dan Allah memerintahkan kami melakukannya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.’”
(QS Al-A‘raf 7:28)
Allah juga berfirman:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan dosa.”
(QS Al-A‘raf 7:33)
Dengan demikian, mustahil Allah memerintahkan dosa atau kemungkaran kepada manusia.
Membunuh Orang Tak Bersalah adalah Dosa Besar
Tentang pembunuhan, Al-Qur’an sangat tegas:
وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ
“Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.”
(QS Al-An‘am 6:151)
Dan lebih khusus lagi:
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًۭا مُّتَعَمِّدًۭا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدًۭا فِيهَا
“Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah Jahannam.”
(QS An-Nisa 4:93)
Ismail adalah anak saleh dan tidak bersalah. Maka jika Allah benar-benar memerintahkan Ibrahim membunuh Ismail, berarti Allah memerintahkan sesuatu yang telah Dia haramkan sendiri.
Ini menimbulkan pertanyaan teologis yang sangat serius.
Apa yang Sebenarnya Dilihat Ibrahim?
Mari membaca langsung ayat utama dalam Surah Ash-Shaffat:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Ketika anak itu sampai pada usia dapat berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’”
(QS Ash-Shaffat 37:102)
Perhatikan dengan teliti.
Ibrahim tidak berkata:
“Allah memerintahkanku menyembelihmu.”
Yang beliau katakan hanyalah:
“Aku melihat dalam mimpi.”
Ini menunjukkan bahwa yang ada hanyalah pengalaman mimpi, bukan perintah eksplisit dari Allah.
Mengapa Ibrahim Meminta Pendapat Ismail?
Ayat tersebut juga menunjukkan hal yang sangat penting:
فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Jika itu benar-benar wahyu pasti dari Allah, mengapa Ibrahim masih meminta pendapat anaknya?
Dalam Al-Qur’an, wahyu Allah selalu membawa keyakinan penuh.
Perhatikan bagaimana ibu Musa menerima ilham dari Allah:
أَنِ ٱقْذِفِيهِ فِى ٱلتَّابُوتِ فَٱقْذِفِيهِ فِى ٱلْيَمِّ
“Letakkanlah dia ke dalam peti lalu hanyutkanlah dia ke sungai.”
(QS Thaha 20:39)
Secara naluri, mustahil seorang ibu melemparkan bayinya ke sungai kecuali ia benar-benar yakin bahwa itu berasal dari Allah.
Sedangkan dalam kisah Ibrahim, tampak adanya keraguan dan proses penafsiran pribadi terhadap mimpi tersebut.
Allah Menghentikan Ibrahim
Ketika Ibrahim hendak melaksanakan mimpi tersebut, Allah justru menghentikannya:
يَـٰٓإِبْرَٰهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ
“Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.”
(QS Ash-Shaffat 37:104-105)
Perhatikan, Allah tidak berkata:
“Engkau telah melaksanakan perintah-Ku.”
Tetapi:
“Engkau telah membenarkan mimpi itu.”
Ini menunjukkan bahwa Ibrahim telah menganggap mimpi tersebut berasal dari Allah.
Lalu Allah menghentikannya sebelum pembunuhan terjadi.
Makna Sebenarnya “Sembelihan Besar”
Ayat berikutnya berbunyi:
وَفَدَيْنَـٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
(QS Ash-Shaffat 37:107)
Tafsir tradisional biasanya menyatakan bahwa Allah mengganti Ismail dengan seekor domba.
Namun Al-Qur’an tidak pernah menyebut domba.
Kata-kata dalam ayat itu dapat dipahami sebagai:
- فَدَيْنَاهُ = Kami menyelamatkannya / memberi kelonggaran
- بِذِبْحٍ = dari penyembelihan
- عَظِيمٍ = yang besar atau mengerikan
Artinya lebih dekat kepada:
“Kami menyelamatkannya dari penyembelihan besar yang mengerikan.”
Penyembelihan besar itu adalah rencana pembunuhan Ismail sendiri.
Setanlah yang Mengajak kepada Dosa
Al-Qur’an menjelaskan siapa yang selalu mengajak manusia kepada kejahatan:
ٱلشَّيْطَـٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ
“Setan menjanjikan kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji.”
(QS Al-Baqarah 2:268)
Dan:
إِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
“Sesungguhnya setan menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar.”
(QS An-Nur 24:21)
Karena itu, dorongan untuk membunuh anak yang tidak bersalah lebih sesuai dengan karakter tipu daya setan daripada wahyu Allah.
Allah Menyelamatkan Hamba-Hamba-Nya
Al-Qur’an mencatat bahwa Allah pernah menyelamatkan nabi-nabi-Nya dari kesalahan besar.
Tentang Yusuf:
كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلْفَحْشَآءَ
“Demikianlah Kami palingkan darinya keburukan dan perbuatan keji.”
(QS Yusuf 12:24)
Tentang Nabi Muhammad:
وَلَوْلَآ أَن ثَبَّتْنَـٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْـًۭٔا قَلِيلًا
“Sekiranya Kami tidak meneguhkanmu, niscaya engkau hampir condong sedikit kepada mereka.”
(QS Al-Isra 17:74)
Demikian pula Ibrahim diselamatkan sebelum tragedi itu terjadi.
Kurban dalam Islam Bukan Persembahan Darah kepada Tuhan
Tentang hewan kurban, Allah menegaskan:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS Al-Hajj 22:37)
Artinya, Allah tidak membutuhkan darah persembahan.
Yang Allah kehendaki adalah ketakwaan, kepedulian sosial, dan penghormatan kepada syariat-Nya.
Penutup
Melalui metode Qur’an bil Qur’an, kisah Ibrahim memberikan pelajaran yang jauh lebih dalam daripada sekadar narasi pengorbanan.
Kajian ini menunjukkan bahwa:
- Al-Qur’an tidak pernah secara eksplisit menyebut Allah memerintahkan Ibrahim membunuh Ismail.
- Allah tidak mungkin memerintahkan dosa atau pembunuhan terhadap orang yang tidak bersalah.
- Ibrahim tampaknya menafsirkan sendiri mimpi yang ia lihat.
- Allah kemudian menyelamatkan Ibrahim dan Ismail dari “penyembelihan besar”.
- Kisah domba pengganti berasal dari tradisi luar Al-Qur’an, bukan dari teks Al-Qur’an sendiri.
Sudah saatnya umat Islam kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai penafsir utama Al-Qur’an, serta menguji setiap tradisi dengan cahaya wahyu yang murni. (syahida)



























