Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Apakah Rezeki Hanya Soal Harta? Memperluas Makna Rezeki dalam Tafsir Al-Qur’an

309
×

Apakah Rezeki Hanya Soal Harta? Memperluas Makna Rezeki dalam Tafsir Al-Qur’an

Share this article

Penulis: syahida| Editor: asyary|

ppmindonesia.com.Bogor – Dalam percakapan sehari-hari, kata “rezeki” hampir selalu identik dengan materi: gaji, keuntungan usaha, atau harta yang didapatkan. Pemahaman yang sempit ini seringkali membuat manusia mengukur berkah hidup semata dari jumlah kekayaan yang dimiliki. 

Lantas, benarkah rezeki hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat materi? Al-Qur’an ternyata menawarkan perspektif yang jauh lebih luas dan mendalam.

Husni Nasution, dalam kajian khusus untuk kanal Syahida, mengajak umat untuk menyelami makna rezeki yang sesungguhnya sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat suci.

 “Konsep rezeki dalam Al-Qur’an itu sangat agung dan multidimensi. Ia tidak hanya berbicara tentang kasb (usaha manusiawi), tetapi lebih tentang ata (pemberian) dari Allah SWT yang Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq),” ujarnya.

Rezeki yang Melimpah dalam Berbagai Bentuk

Husni menjelaskan, jika menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an, akan ditemukan bahwa rezeki diberikan Allah dalam beragam bentuk. 

“Allah berfirman dalam QS An-Nahl [16]: 78, ‘Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.’”

“Panca indera yang kita miliki—pendengaran, penglihatan, akal, dan hati—adalah rezeki primer yang sering kita lupakan. Bayangkan jika salah satunya hilang. Betapa mahal harganya. Ini adalah rezeki non-materi yang nilainya tak ternilai,” tegas Husni.

Lebih lanjut, ia mengutip QS Al-Baqarah [2]: 152, “Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

“Petunjuk hidayah, kemudahan untuk beribadah, dan ketenangan hati adalah bentuk rezeki spiritual yang paling tinggi nilainya. Ada orang yang kaya raya tetapi hatinya gersang, tidak pernah merasa cukup, dan jauh dari Allah. 

Itu adalah bentuk kemiskinan yang sejati. Sebaliknya, orang yang diberi kecukupan dan hati yang selalu bersyukur, dialah orang yang kaya,” paparnya.

Keluarga yang Sakinah: Rezeki yang Terlalu Sering Diabaikan

Husni juga menyoroti bahwa keluarga yang harmonis dan penuh ketenteraman adalah salah satu rezeki terbesar. “Lihatlah QS Ar-Rum [30]: 21, di mana Allah menjadikan pasangan hidup untuk menciptakan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang). Ini adalah rezeki hubungan (relational sustenance) yang sangat mahal. Tidak semua orang yang kaya mampu membeli ketenangan dalam keluarganya.”

Kesehatan dan Waktu: Dua Modal yang Tak Tergantikan

“Kesehatan dan waktu adalah dua bentuk rezeki yang sering baru disadari ketika mulai hilang,” tambah Husni.

 “Rasulullah SAW bersabda, ‘Ada dua nikmat yang kebanyakan orang tertipu olehnya: kesehatan dan waktu luang.’ (HR. Bukhari). Ini adalah rezeki waktu dan kesempatan (opportunity sustenance) yang harus dimanfaatkan untuk hal yang produktif.”

Rezeki Materi: Hakikat dan Tanggung Jawabnya

Tentu, Al-Qur’an tidak menafikan rezeki materi. Husni menjelaskan bahwa harta juga adalah pemberian Allah, tetapi dengan tujuan yang jelas. 

“Harta adalah ujian sekaligus amanah. Lihat QS Al-Anfal [8]: 28, ‘Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian, dan di sisi Allah ada pahala yang besar.’”

“Rezeki materi yang halal dan baik (thayyib) adalah wasilah untuk beribadah, menolong sesama, dan membangun peradaban. 

Masalahnya, kita sering terjebak pada kasb-nya, pada usahanya, lalu lupa bahwa itu adalah pemberian Allah. Kita juga lupa bahwa di dalam harta kita ada hak orang lain yang harus ditunaikan,” jelasnya.

Pesan Reflektif: Bersyukur atas Setiap Bentuk Rezeki

Menutup kajian, Husni Nasution mengajak untuk melakukan muhasabah dan memperluas definisi rezeki dalam pikiran dan hati.

“Marilah kita mulai melihat hidup dengan kacamata yang lebih luas. Udara yang kita hirup gratis adalah rezeki. Teman yang mendukung adalah rezeki. Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki. Pekerjaan yang halal adalah rezeki. Kesehatan untuk bangun pagi adalah rezeki.”

“Dengan memahami rezeki secara luas, hati kita akan selalu dipenuhi dengan syukur. Dan Allah janjikan dalam QS Ibrahim [14]: 7, ‘Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.’ 

Pertambahan itu bukan hanya harta, tetapi juga ketenangan, kesehatan, ilmu, dan keberkahan dalam hidup.”

“Jadi, jangan lagi membatasi rezeki hanya pada soal harta. Orang yang paling kaya adalah orang yang paling banyak bersyukur, karena dialah yang paling menyadari betapa melimpahnya pemberian Allah dalam hidupnya,” pungkas Husni Nasution.

Dengan demikian, Al-Qur’an mengajak umat manusia untuk memiliki perspektif yang holistik dan penuh syukur dalam memaknai setiap karunia yang diberikan, menjadikan hidup lebih bermakna dan berkah.(syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial. 
Example 120x600