Scroll untuk baca artikel
BeritaPuisi dan Sastra

Hidup yang Tak Pernah Cukup

191
×

Hidup yang Tak Pernah Cukup

Share this article

Penulis:anshori| Editorr; asyary

Hujan malam sering membawa renungan tentang hal-hal yang selama ini kita keluhkan, tapi jarang kita syukuri (ppm Images)

Hidup yang Tak Pernah Cukup

Oleh: anshori

“Kadang hidup tidak menuntut kita untuk menjadi lebih hebat, hanya untuk lebih bersyukur.”
— Catatan dari sebuah malam yang gelap dan tenang.

Rafi selalu terbangun dengan keluhan di bibirnya.
Setiap pagi baginya bukan permulaan, melainkan pengulangan. Ia bangun bukan untuk hidup, tapi untuk menanggung hari yang terasa sama: macet, tagihan, suara anak-anak, dan gaji yang tak pernah bertambah.

Di antara denting sendok dan kopi yang tak lagi hangat, ia menatap jendela. Di luar sana, matahari naik perlahan, tapi baginya sinar itu seperti tamu yang datang tanpa diundang. Ia mengeluh lagi — tentang cuaca yang terlalu panas, udara yang terlalu pengap, dan hidup yang terlalu rumit.

Namun di balik semua keluhan itu, ada kesunyian yang tak pernah ia ajak bicara.
Kesunyian yang berisi tumpukan kata “andai saja”
andai saja dulu ia memilih jurusan lain,
andai saja dulu ia lebih berani,
andai saja hidup bisa diulang seperti mengetik ulang pesan yang salah.

Malam-malamnya pun serupa: ia duduk di teras, menatap lampu jalan yang berkedip lemah, menunggu hujan datang tanpa tahu untuk apa. Sampai suatu malam, listrik padam. Gelap menelan seluruh ruang, dan dari kejauhan azan Isya melayang lembut seperti panggilan dari masa yang terlupakan.

Ia terdiam.
Untuk pertama kali setelah sekian lama, tidak ada suara keluhan keluar dari bibirnya. Hanya napas. Hanya hening.
Dalam gelap, ia merasa seperti sedang ditatap oleh dirinya sendiri — diri yang sudah lama ia jauhi.

“Apakah aku benar-benar hidup,” pikirnya, “atau hanya mengulang hari tanpa makna?”

Lalu sesuatu di dadanya retak. Air mata jatuh perlahan, bukan karena sedih, tapi karena sadar: selama ini ia tidak kekurangan apa pun, kecuali rasa cukup. Ia terlalu sibuk menyesali masa lalu, terlalu pandai mengeluh atas hari ini, dan terlalu takut menebak masa depan.

“Ya Allah,” bisiknya pelan, “aku lupa bersyukur karena masih bisa merasakan hari yang sama.”

Sejak malam itu, Rafi tidak berubah secara ajaib. Jalanan tetap macet, harga tetap naik, dan atasan tetap cerewet. Tapi di antara semua itu, ada yang berubah: ia mulai belajar diam sebelum mengeluh. Ia mulai menatap pagi bukan sebagai beban, melainkan anugerah yang menunggu disyukuri.

Ia mulai sadar, mencintai diri bukan berarti membanggakan diri.
Ia adalah keberanian untuk memaafkan masa lalu, menerima masa kini, dan mempercayakan masa depan kepada Tuhan.

Suatu pagi, sambil menatap anaknya yang tertawa di halaman, Rafi tersenyum untuk dirinya sendiri. Ia tidak lagi menghitung berapa kali gagal, tidak lagi bertanya mengapa nasib tak berubah. Ia hanya berbisik,

“Aku tidak ingin hidup yang sempurna. Aku hanya ingin hati yang cukup.”

Dan dalam bisikan itu, hidup terasa ringan.
Seolah matahari terbit bukan sekadar rutinitas alam, melainkan pertanda bahwa ia diberi kesempatan sekali lagi untuk berdamai — dengan waktu, dengan hidup, dan dengan dirinya sendiri.

Renungan 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS Ibrahim [14]: 7)

Ketenangan bukanlah hadiah dari dunia yang berubah,
melainkan dari hati yang belajar menerima apa adanya.

Example 120x600