Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika Waktu Direduksi Menjadi Ritual: Meluruskan Kesalahpahaman Ayat-Ayat Shalat dengan Pendekatan Qur’an bil Qur’an

126
×

Ketika Waktu Direduksi Menjadi Ritual: Meluruskan Kesalahpahaman Ayat-Ayat Shalat dengan Pendekatan Qur’an bil Qur’an

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor: asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Dalam diskursus keislaman populer, sejumlah ayat Al-Qur’an kerap dijadikan dasar bahwa Islam secara eksplisit menetapkan shalat lima waktu sebagai ritual harian yang terjadwal ketat.

Ayat-ayat tentang pagi, petang, malam, dan siang hampir selalu dibaca sebagai kode waktu shalat. Namun, jika Al-Qur’an dibaca dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an—yakni Al-Qur’an menafsirkan Al-Qur’an—muncul pertanyaan mendasar: benarkah ayat-ayat itu sedang berbicara tentang jadwal ritual?

Ayat-Ayat Waktu yang Kerap Direduksi

Salah satu ayat yang sering dijadikan rujukan adalah QS Ar-Rum (30): 17–18:

فَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ
وَلَهُ ٱلْحَمْدُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَعَشِيًّۭا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu memasuki malam dan ketika kamu memasuki pagi. Dan bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi, pada waktu petang dan ketika kamu berada di waktu zuhur.”

Ayat ini hampir selalu dipahami sebagai isyarat lima waktu shalat. Padahal, tidak satu pun kata ‘shalat’ disebutkan dalam ayat tersebut. Yang muncul justru adalah kata tasbih dan hamd, yang dalam Al-Qur’an bermakna luas: kesadaran, pengakuan, dan orientasi hidup kepada Allah.

QS 24:58 dan Narasi Waktu Manusia

Perhatikan pula QS An-Nur (24): 58:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا۟ ٱلْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَـٰثَ مَرَّٰتٍۢ ۚ مِّن قَبْلِ صَلَوٰةِ ٱلْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعْدِ صَلَوٰةِ ٱلْعِشَآءِ ۚ ثَلَـٰثُ عَوْرَٰتٍۢ لَّكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah orang-orang yang berada dalam tanggunganmu dan anak-anak yang belum baligh meminta izin kepadamu pada tiga waktu: sebelum shalat fajar, ketika kamu menanggalkan pakaian di tengah hari, dan setelah shalat isya. Itulah tiga waktu aurat bagimu.”

Ayat ini tidak sedang mengatur ritual, melainkan adab ruang privat dan fase kerentanan manusia. Waktu pagi, tengah hari, dan malam digambarkan sebagai fase-fase psikologis dan sosial, bukan jadwal ibadah formal.

Qur’an bil Qur’an: Waktu sebagai Ritme Kesadaran

Jika ayat-ayat ini dibaca secara tematik dengan ayat lain, seperti QS Hud (11): 114:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ

“Dirikanlah shalat pada dua ujung siang dan pada bagian-bagian malam.”

Maka terlihat jelas: Al-Qur’an berbicara tentang rentang waktu, bukan detail teknis. Tidak ada penyebutan jumlah rakaat, jam, atau pembagian lima waktu secara rigid. Yang ditekankan adalah kesinambungan kesadaran kepada Allah sepanjang siklus hidup manusia.

Dari Kesadaran Menjadi Rutinitas

Kesalahpahaman muncul ketika:

  1. Makna shalat direduksi dari komitmen hidup menjadi sekadar gerakan ritual
  2. Ayat-ayat kosmik dipaksa tunduk pada konstruksi fikih yang lahir belakangan
  3. Tafsir lebih sibuk membenarkan praktik, bukan menggali pesan teks

Akibatnya, shalat dipahami sebagai rutinitas mekanis, bukan sebagai sistem pembentuk kesadaran moral dan sosial.

Padahal Al-Qur’an menegaskan:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
(QS Al-‘Ankabut: 45)

“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

Ini mustahil terwujud jika shalat hanya dipahami sebagai kewajiban waktu, tanpa transformasi makna.

Mengembalikan Al-Qur’an sebagai Subjek Tafsir

Pendekatan Qur’an bil Qur’an mengajak umat Islam untuk kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber makna utama, bukan sekadar legitimasi praktik yang sudah mapan. Ayat-ayat waktu bukanlah “kode jadwal”, melainkan undangan kesadaran agar hidup manusia—dari pagi hingga malam—berorientasi pada nilai Ilahi.

Shalat bukan soal berapa kali, tetapi apakah ia benar-benar menghadirkan Allah dalam hidup. (syahida)

Example 120x600