Scroll untuk baca artikel
Nasional

Ketika Islam Hanya Jadi Kebiasaan

11
×

Ketika Islam Hanya Jadi Kebiasaan

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com – Di banyak ruang kehidupan, Islam hadir sebagai sesuatu yang akrab: diwariskan sejak kecil, diajarkan dalam keluarga, dan dijalankan sebagai rutinitas. Namun di balik kedekatan itu, terselip pertanyaan mendasar: apakah Islam benar-benar dipahami dan dihayati, atau sekadar dijalani sebagai kebiasaan? Ketika agama kehilangan kesadaran, ia berisiko berubah dari petunjuk hidup menjadi rutinitas tanpa makna.

Dari Kesadaran Menuju Kebiasaan

Islam pada hakikatnya adalah kesadaran tentang Allah yang melahirkan pengabdian total. Ia bukan sekadar identitas, bukan pula sekadar praktik yang diulang. Namun dalam realitas, tidak sedikit umat yang menjalankan agama sebagai kebiasaan—sesuatu yang dilakukan karena “memang begitulah adanya”.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada rutinitas tanpa pemahaman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)

Ayat ini menegaskan bahwa problem utama bukan kurangnya praktik, melainkan tertutupnya hati dari pemahaman

Mengikuti Tanpa Memahami

Salah satu ciri keberagamaan yang berubah menjadi kebiasaan adalah mengikuti tanpa berpikir. Tradisi dijalankan, tetapi tidak lagi ditimbang dengan wahyu.

Al-Qur’an menggambarkan sikap ini dengan tegas:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah: 170)

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, ayat ini menjadi peringatan bahwa keberagamaan berbasis warisan tanpa pemahaman dapat menjauhkan manusia dari kebenaran.

Ritual yang Kehilangan Makna

Ketika Islam menjadi kebiasaan, ibadah pun berisiko kehilangan ruhnya. Shalat dilakukan, tetapi tidak menghadirkan kesadaran. Puasa dijalankan, tetapi tidak membentuk ketakwaan.

Al-Qur’an bahkan memberi peringatan keras:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5)

Demikian pula dalam ibadah kurban:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah (kurban) itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa nilai ibadah tidak terletak pada bentuknya, tetapi pada kesadaran dan ketakwaan yang menyertainya.

Al-Qur’an: Untuk Dipahami dan Dihidupkan

Al-Qur’an tidak diturunkan untuk sekadar dibaca, tetapi untuk direnungkan dan dihidupkan dalam kehidupan:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”
(QS. Shad: 29)

Tanpa pemahaman, interaksi dengan Al-Qur’an hanya menjadi rutinitas verbal. Dengan pemahaman, ia menjadi cahaya yang membimbing kehidupan.

Mengembalikan Islam sebagai Kesadaran

Dalam kerangka kajian Qur’an bil Qur’an perspektif Syahida, Islam harus dikembalikan pada esensinya: kesadaran tauhid yang hidup dalam hati. Dari sinilah lahir ibadah yang bermakna dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Ilahi.

Islam bukan sekadar apa yang dilakukan, tetapi bagaimana dan mengapa ia dilakukan.

Dari Kebiasaan Menuju Kesadaran

Ketika Islam hanya menjadi kebiasaan, ia kehilangan daya transformasinya. Ia dijalankan, tetapi tidak mengubah. Ia diwariskan, tetapi tidak dipahami.

Maka, tugas kita hari ini bukan sekadar mempertahankan praktik, tetapi menghidupkan makna. Bukan sekadar menjalankan agama, tetapi memahami dan menghayatinya.

Pertanyaan reflektif yang perlu diajukan:
apakah Islam yang kita jalani benar-benar lahir dari kesadaran, atau hanya sekadar kebiasaan yang kita ulangi setiap hari? (syahida)

Catatan Redaksi
Tulisan ini merupakan bagian dari kajian tematik Qur’an bil Qur’an perspektif Syahida, yang menekankan pendekatan memahami Al-Qur’an dengan menjelaskan ayat melalui ayat lainnya, guna membangun kesadaran tauhid yang utuh dan mengarahkan keberagamaan dari sekadar kebiasaan menuju pemahaman yang hidup.

Example 120x600