Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Menjaga Alam di Tengah Tekanan Industri: Misi Berat Jumhur Hidayat

7
×

Menjaga Alam di Tengah Tekanan Industri: Misi Berat Jumhur Hidayat

Share this article

Penulis: acank| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Pelantikan Moh. Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menandai babak baru dalam perjalanan panjang seorang aktivis yang kini berada di pusat kekuasaan negara. Jabatan tersebut bukan sekadar posisi administratif, melainkan medan politik, ekonomi, dan moral yang penuh tekanan.

Di tengah percepatan pembangunan nasional dan ekspansi industri sumber daya alam, tugas menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tantangan paling kompleks dalam pemerintahan.

Bagi Jumhur Hidayat, amanah ini bukan sekadar jabatan, tetapi ujian integritas.

Menteri yang Harus Berani Mengatakan “Tidak”

Berbeda dengan kementerian pembangunan yang identik dengan pembangunan infrastruktur dan ekspansi investasi, Kementerian Lingkungan Hidup justru memiliki fungsi pengendalian.

Jika kementerian lain mendorong pembangunan jalan, kawasan industri, tambang, dan proyek strategis nasional, maka Menteri Lingkungan Hidup sering kali berada pada posisi sebaliknya: menghentikan proyek yang dinilai merusak ekosistem.

Dalam praktik pemerintahan modern, keputusan untuk menolak izin lingkungan sering kali berarti berhadapan langsung dengan kepentingan ekonomi besar—mulai dari korporasi tambang, industri kehutanan, hingga proyek energi skala raksasa.

Inilah sebabnya jabatan Menteri Lingkungan Hidup kerap disebut sebagai salah satu posisi paling berisiko di kabinet.

Seorang pejabat lingkungan tidak hanya dituntut memahami aspek teknis ekologis, tetapi juga harus mampu bertahan menghadapi tekanan politik dan ekonomi yang tidak kecil.

Aktivis Masuk Lingkar Kekuasaan

Jumhur Hidayat bukan figur birokrat karier yang tumbuh dari struktur pemerintahan. Ia dikenal publik sebagai aktivis buruh dan tokoh gerakan sosial sejak masa mahasiswa.

Pengalaman panjangnya dalam dunia pergerakan—termasuk pernah mengalami penahanan pada masa Orde Baru serta kembali berhadapan dengan proses hukum pada 2020 saat gelombang penolakan Undang-Undang Cipta Kerja—membentuk citra dirinya sebagai figur yang terbiasa berada di luar kekuasaan.

Kini, posisi tersebut berbalik. Ia tidak lagi mengkritik negara dari luar, tetapi menjadi bagian dari mesin negara itu sendiri.

Transformasi inilah yang menjadi sorotan publik: mampukah seorang aktivis mempertahankan idealisme ketika berada di dalam sistem kekuasaan?

Jejak Gerakan PPM dan Dukungan Moral

Selain dikenal sebagai tokoh gerakan buruh, Jumhur Hidayat juga merupakan kader Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), organisasi gerakan sosial yang menekankan pemberdayaan masyarakat, pembelaan rakyat kecil, serta pembangunan berbasis keadilan sosial dan lingkungan.

Kalangan PPM menyatakan bahwa keberadaan Jumhur di kabinet bukan sekadar representasi individu, melainkan juga membawa semangat gerakan sosial yang berpihak pada masyarakat dan kelestarian alam.

Presidium PPM, Pupun Purwana, menegaskan bahwa PPM akan terus menjaga dan mendukung program-program kementerian yang mengutamakan penyelamatan lingkungan serta keberpihakan kepada rakyat.

Menurutnya, PPM percaya kebijakan lingkungan harus berdiri tanpa kompromi terhadap industri yang merusak alam dan merugikan masyarakat.

“PPM akan selalu mendukung langkah Menteri Lingkungan Hidup selama berpihak pada rakyat dan penyelamatan lingkungan sesuai visi gerakan. Tetapi kami juga akan menegur dan mengingatkan jika kebijakan justru lebih menguntungkan oligarki perusak lingkungan—baik di sektor pertambangan, perkebunan, maupun industri besar,” ujar Pupun Purwana.

Pernyataan tersebut mencerminkan tradisi gerakan sosial yang tidak hanya mendukung kekuasaan, tetapi juga tetap menjaga fungsi kritik moral terhadap pejabat publik, termasuk terhadap kadernya sendiri.

Lingkungan Hidup dan Pertarungan Kepentingan

Indonesia menghadapi tekanan lingkungan yang semakin berat. Deforestasi, pencemaran sungai, konflik lahan, hingga eksploitasi sumber daya alam menjadi persoalan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Di sisi lain, pemerintah tetap membutuhkan investasi dan pembangunan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja.

Di titik inilah Menteri Lingkungan Hidup berdiri sebagai penyeimbang.

Kebijakan lingkungan tidak hanya menyangkut pelestarian alam, tetapi juga menyentuh kepentingan politik, stabilitas ekonomi, serta hubungan negara dengan pelaku industri besar.

Setiap keputusan dapat memunculkan konsekuensi luas—baik dukungan publik maupun resistensi dari kelompok kepentingan.

Krisis Pengelolaan Sampah Perkotaan

Tantangan lingkungan yang dihadapi pemerintah saat ini tidak hanya terkait industri besar, tetapi juga persoalan klasik yang belum terselesaikan selama puluhan tahun: pengelolaan sampah perkotaan.

Sejumlah aktivis PPM menilai pengelolaan akhir sampah di banyak kota dan kabupaten masih menjadi masalah serius. Sistem pengolahan yang tidak ramah lingkungan menyebabkan tempat pembuangan akhir terus menumpuk dan menimbulkan krisis ekologis baru.

Menurut mereka, persoalan sampah sering kali berubah menjadi ruang praktik penyimpangan anggaran.

“Selama puluhan tahun, pengelolaan sampah di banyak daerah gagal ditangani secara berkelanjutan. Bahkan tidak jarang menjadi pundi-pundi keuntungan oknum pejabat melalui praktik kongkalikong dengan pihak swasta dalam proyek pengelolaan lingkungan,” ujar seorang aktivis PPM.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa agenda lingkungan hidup tidak hanya soal konservasi alam, tetapi juga reformasi tata kelola pemerintahan daerah dan transparansi anggaran publik.

Ujian Integritas

Sejumlah pengamat menilai tantangan terbesar Jumhur bukanlah persoalan teknis lingkungan, melainkan menjaga integritas di tengah sistem kekuasaan yang sarat kompromi.

Sejarah pemerintahan menunjukkan bahwa banyak pejabat memasuki jabatan dengan idealisme tinggi, namun perlahan berubah akibat tekanan politik, kepentingan ekonomi, maupun budaya kekuasaan itu sendiri.

Dalam sebuah pertemuan bersama para aktivis, Jumhur pernah menyampaikan refleksi yang menjadi perhatian publik. Ia mengibaratkan dirinya sebagai “burung rajawali” yang tidak boleh berubah hanya karena berada di sangkar emas kekuasaan.

Pernyataan tersebut mencerminkan kesadaran bahwa jabatan publik bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal ujian yang lebih berat.

Menjaga Amanah Publik

Harapan masyarakat terhadap kepemimpinan lingkungan hidup semakin tinggi di tengah meningkatnya kesadaran ekologis global. Publik menuntut pemerintah tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.

Di bawah kepemimpinan Jumhur Hidayat, kementerian ini diharapkan mampu memperkuat penegakan hukum lingkungan, memperbaiki tata kelola perizinan, serta melindungi hak masyarakat yang terdampak kerusakan ekologis.

Namun jalan tersebut tidak mudah.

Menjaga alam berarti berhadapan dengan kepentingan besar. Mengendalikan industri berarti menghadapi tekanan ekonomi. Dan mempertahankan integritas berarti melawan godaan kekuasaan itu sendiri.

Antara Harapan dan Realitas

Kini publik menunggu langkah konkret Menteri Lingkungan Hidup yang baru. Apakah ia mampu menjadi penjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam? Ataukah sistem kekuasaan akan mengikis idealisme yang selama ini menjadi identitasnya?

Satu hal yang pasti: menjaga lingkungan hidup di Indonesia bukan sekadar pekerjaan birokrasi. Ia adalah perjuangan politik, moral, dan peradaban.

Dan bagi Jumhur Hidayat, kursi menteri mungkin bukan puncak perjalanan—melainkan awal dari misi paling berat dalam hidupnya: menjaga alam di tengah tekanan industri. (acank)

Example 120x600