Obituari untuk Anwar Hariyono (1965–2026)
Jakarta|PPMIndonesia.com– Ada orang yang dikenal karena jabatannya. Ada pula yang dikenang karena pengabdiannya.
Anwar Hariyono termasuk yang kedua.
Pada 27 April 2026, Sekretaris Jenderal Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Nasional itu berpulang pada usia 61 tahun. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka organisasi, tetapi juga menyisakan pertanyaan sunyi: siapa lagi yang akan bekerja tanpa banyak bicara seperti dirinya?
Dalam sejarah gerakan sosial Indonesia, sosok seperti Anwar Hariyono jarang menjadi berita utama. Ia bukan orator besar, bukan pula figur publik yang akrab dengan sorotan media. Namun justru dari tangan orang-orang seperti inilah organisasi bertahan melewati masa-masa sulit.
Generasi Aktivis Lapangan
Anwar Hariyono lahir dari tradisi aktivisme masyarakat yang tumbuh pada masa transisi sosial-ekonomi Indonesia akhir abad ke-20. Era ketika konsep pemberdayaan masyarakat mulai diperbincangkan sebagai alternatif pembangunan yang terlalu berpusat pada negara.
Pada dekade 1990-an, ia menjalankan peran sebagai Manajer Koperasi Pedagang Grosir Keliling, membina pedagang kecil yang bermitra dengan BUMN. Di tengah perubahan ekonomi nasional, ia memilih berada di lapisan bawah ekonomi rakyat—tempat di mana kebijakan sering kali terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pengalaman tersebut membentuk pandangannya: perubahan sosial tidak lahir dari slogan, tetapi dari pendampingan yang sabar dan kerja organisasi yang konsisten.
PPM: Rumah Pengabdian
Bagi Anwar Hariyono, Pusat Peranserta Masyarakat bukan sekadar organisasi. PPM adalah ruang pengabdian panjang.
Sejak awal 2000-an, ia dipercaya sebagai Bendahara Nasional PPM. Posisi itu menuntut bukan hanya kemampuan administrasi, tetapi juga kepercayaan moral. Dalam fase organisasi yang tidak selalu mudah, ia menjadi salah satu penjaga kesinambungan gerakan.
Kader seperti dirinya jarang terlihat, tetapi selalu hadir ketika organisasi membutuhkan sandaran.
Ia bekerja tanpa kalkulasi keuntungan pribadi. Banyak aktivitas organisasi berjalan berkat kesediaannya menanggung beban yang sering tidak tercatat dalam laporan resmi.
Sekretaris Jenderal yang Memilih Jalan Sunyi
Ketika kemudian dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal PPM Nasional, karakter kepemimpinannya semakin jelas: bekerja diam-diam, bergerak tanpa publikasi, tetapi berdampak nyata.
Salah satu episode penting adalah konsolidasi organisasi di Kalimantan Barat. Dengan biaya pribadi, ia melakukan perjalanan panjang untuk membentuk struktur wilayah dan daerah PPM.
Di sela kegiatan tersebut, bersama almarhum Iman Nurhidayat, ia turut mendampingi pelatihan petani kelapa mengenai pengolahan Manado Coconut Oil. Aktivitas ini mencerminkan pendekatan khas gerakan pemberdayaan: menghubungkan organisasi dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Bagi Anwar Hariyono, membangun organisasi berarti membangun manusia.
Melampaui Batas Nasional
Visinya tidak berhenti pada penguatan internal organisasi. Ia melihat pentingnya jejaring antarbangsa, khususnya dalam ruang peradaban Melayu.
Melalui silaturahmi dengan Zulkafli Daud di Malaysia—tokoh yang pernah terlibat dalam Semiloka Melayu Antar Bangsa tahun 1996 di Jakarta—lahir embrio PPM Madani Malaysia.
Langkah tersebut menunjukkan cara pandangnya yang luas: gerakan masyarakat sipil harus tumbuh melintasi batas negara, memperkuat solidaritas sosial dan kebudayaan.
Organisasi sebagai Etos Hidup
Di luar aktivitas organisasi, Anwar Hariyono menjalankan berbagai usaha berbadan hukum perseroan terbatas. Namun prinsip yang ia pegang tetap sama: usaha harus memberi manfaat sosial.
Nilai-nilai yang ia pelajari dalam PPM—partisipasi, kebersamaan, dan pemberdayaan—menjadi metodologi hidupnya.
Ia tidak memisahkan kerja ekonomi dari kerja sosial.
Keduanya adalah bentuk pengabdian.
Kesetiaan Sampai Akhir
Barangkali bagian paling mengharukan dari perjalanan hidupnya terjadi pada masa terakhir.
Saat menjalani perawatan kesehatan, ia masih berdiskusi tentang program organisasi, kaderisasi, dan masa depan PPM. Dalam kondisi fisik yang melemah, pikirannya tetap tertuju pada perjuangan bersama.
Kesetiaan seperti ini tidak lahir dari kewajiban formal. Ia lahir dari keyakinan bahwa organisasi adalah amanah hidup.
Warisan Seorang Penggerak
Sejarah gerakan sosial tidak selalu ditulis oleh tokoh besar yang dikenal luas. Ia sering disangga oleh para pekerja sunyi—orang-orang yang memastikan roda organisasi terus berputar.
Anwar Hariyono adalah salah satunya.
Ia meninggalkan warisan yang tidak mudah diukur oleh jabatan ataupun penghargaan: keteladanan tentang kesetiaan, keberanian berkorban, dan keikhlasan bekerja tanpa pamrih.
Di tengah zaman yang sering menilai keberhasilan dari popularitas, kehidupannya menjadi pengingat bahwa perubahan sosial justru lahir dari orang-orang yang bekerja jauh dari sorotan.
Melanjutkan Jejak
Kepergian Anwar Hariyono menandai berakhirnya satu perjalanan pribadi, tetapi bukan akhir dari perjuangan yang ia bangun.
Jejaknya hidup dalam kader-kader yang pernah ia dampingi, dalam wilayah organisasi yang ia bentuk, dan dalam semangat peranserta masyarakat yang terus bergerak.
Selamat jalan, Mas Anwar Hariyono.
Seorang penggerak telah pulang, tetapi pengabdiannya akan tetap berjalan dalam sejarah PPM dan kerja-kerja masyarakat Indonesia. (emha)



























