Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Islam Setelah Mazhab

2
×

Islam Setelah Mazhab

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Ketika Umat Kembali kepada Al-Qur’an sebagai Titik Pertemuan

Mazhab: Warisan Ilmu, Bukan Identitas Iman

Jakarta|PPMIndonesia.com- Sejarah Islam mencatat lahirnya mazhab sebagai respons intelektual terhadap kebutuhan umat memahami syariat. Para imam besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bukanlah pendiri agama baru, melainkan ulama yang berusaha membaca wahyu sesuai konteks zamannya.

Mazhab pada awalnya adalah metode memahami Islam, bukan batas keimanan.

Namun dalam perjalanan sejarah, sesuatu yang semula bersifat ilmiah perlahan berubah menjadi identitas sosial. Umat tidak lagi berkata “ini pendapat ulama”, tetapi mulai mengatakan “ini Islam versi kami.”

Di sinilah persoalan dimulai

Al-Qur’an Tidak Pernah Membagi Umat

Al-Qur’an justru memperingatkan bahaya menjadikan agama sebagai identitas kelompok.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

“Tali Allah” bukan mazhab, bukan organisasi, bukan warisan politik.

Ia adalah wahyu.

Persatuan dalam Islam dibangun di atas kitab suci, bukan keseragaman pendapat.

Mengapa Mazhab Menjadi Sekat?

Secara historis, perbedaan mazhab lahir dari faktor yang wajar:

  • perbedaan metode istinbath hukum,
  • perbedaan akses hadis,
  • perbedaan konteks sosial wilayah Islam awal.

Namun konflik muncul ketika mazhab berubah dari alat memahami agama menjadi identitas eksklusif.

Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini dengan sangat tajam:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum [30]: 32)

Fanatisme bukanlah produk wahyu, melainkan produk ego kolektif manusia.

Islam Lebih Besar dari Mazhab

Islam tidak pernah diturunkan dalam bentuk satu interpretasi tunggal manusia.

Allah sendiri mengakui keberagaman pemahaman:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja.”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 48)

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan kesalahan.

Yang salah adalah menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan.

Mazhab seharusnya memperkaya pemikiran Islam, bukan mempersempit persaudaraan.

Rasulullah Tidak Mewariskan Mazhab

Nabi Muhammad ﷺ tidak meninggalkan label mazhab.

Beliau meninggalkan dua hal mendasar:

  • Al-Qur’an sebagai petunjuk,
  • keteladanan hidup sebagai praktik nilai wahyu.

Al-Qur’an menegaskan fungsi Rasul:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Keteladanan Nabi bersifat universal, melampaui batas mazhab dan generasi.

Islam Setelah Mazhab: Apa Artinya?

“Islam setelah mazhab” bukan berarti menolak mazhab.

Ia berarti:

  • menghormati warisan ulama tanpa mengultuskannya,
  • mengambil hikmah tanpa membangun sekat identitas,
  • kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi iman.

Mazhab tetap penting sebagai khazanah keilmuan.

Namun iman tidak boleh berhenti pada mazhab.

Ia harus kembali kepada Allah.

Kembali kepada Kitabullah

Al-Qur’an memberikan prinsip penyelesaian setiap perbedaan:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ

“Jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah.”
(QS. An-Nisa [4]: 59)

Artinya, wahyu adalah titik temu tertinggi umat.

Bukan sejarah polemik.
Bukan loyalitas kelompok.
Bukan otoritas sosial.

Tantangan Islam Modern

Di era digital, mazhab bahkan berkembang menjadi “identitas virtual”:

  • perdebatan tanpa ilmu,
  • dakwah berubah menjadi kontestasi,
  • agama menjadi simbol politik.

Akibatnya, umat kehilangan ruh spiritual Islam.

Padahal tujuan Islam bukan memenangkan debat, tetapi membangun manusia bertakwa.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13

Perspektif Syahida: Menuju Kesadaran Umat Baru

Kajian Syahida melihat masa depan Islam tidak berada pada penghapusan mazhab, tetapi pada melampaui fanatisme mazhab.

Umat Islam sedang bergerak menuju fase baru:

  • dari agama warisan menuju agama kesadaran,
  • dari identitas menuju spiritualitas,
  • dari konflik menuju rahmat.

Allah sendiri telah memberi nama tunggal bagi umat:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ

“Dia telah menamai kamu orang-orang Muslim.”
(QS. Al-Hajj [22]: 78)

Bukan nama mazhab.

Bukan label kelompok.

Hanya Muslim.

Masa Depan Islam

Islam setelah mazhab adalah Islam yang matang secara spiritual.

Islam yang:

  • menghormati perbedaan,
  • menolak permusuhan,
  • dan kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kesadaran kolektif umat.

Ketika umat kembali kepada wahyu, maka mazhab akan kembali pada posisi asalnya: jalan memahami agama, bukan tembok pemisah manusia.

Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan umat bukanlah identitas mazhab, tetapi kedekatan kepada Allah. (syahida)

Example 120x600