Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Agama Dan Krisis Sistem Dunia Modern

7
×

Agama Dan Krisis Sistem Dunia Modern

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Penulis : A. Mohamed

Jakarta|PPMIndonesia.com– Dunia modern sedang mengalami krisis besar. Krisis ekonomi, krisis ekologi, krisis moral, hingga krisis makna hidup manusia. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, manusia justru semakin kehilangan arah. Pertanyaan mendasarnya bukan lagi apa yang salah dengan manusia, tetapi: apakah manusia telah meninggalkan sistem hidup yang benar?

Al-Qur’an menyebut agama bukan sekadar ritual spiritual, melainkan sistem kehidupan ilahi (dīn). Ketika agama direduksi menjadi identitas atau simbol, maka yang runtuh bukan hanya moral individu, tetapi tatanan dunia.

Agama dalam Al-Qur’an: Sistem, Bukan Sekadar Kepercayaan

Al-Qur’an tidak mendefinisikan agama sebagai kumpulan upacara ibadah semata. Kata dīn dalam Al-Qur’an memiliki makna luas: hukum, keteraturan, sistem kehidupan, dan tata sosial.

Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 19)

Ayat ini sering dipahami secara sempit sebagai label keagamaan. Padahal dalam kajian Qur’an bil Qur’an, kata Islam berarti kepasrahan total kepada sistem Allah, bukan sekadar identitas komunitas.

Islam dalam Al-Qur’an adalah tatanan hidup yang menghadirkan keadilan, keseimbangan, dan rahmat bagi seluruh alam.

Krisis Dunia Modern: Ketika Sistem Ilahi Ditinggalkan

Modernitas membawa kemajuan material, tetapi kehilangan orientasi moral. Al-Qur’an telah menggambarkan kondisi ini jauh sebelumnya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum [30]: 41)

Kerusakan ekologis, ketimpangan ekonomi global, konflik ideologi, hingga krisis kemanusiaan adalah tanda bahwa manusia menjalankan dunia tanpa sistem ilahi.

Manusia modern membangun sistem ekonomi tanpa etika, politik tanpa amanah, dan ilmu tanpa hikmah.

Akibatnya: kekayaan menumpuk pada segelintir orang, alam dieksploitasi tanpa batas, teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan manusia.

Agama Direduksi Menjadi Ritual

Salah satu kritik utama Al-Qur’an adalah terhadap keberagamaan formal yang kehilangan substansi sosial.

Allah mengingatkan:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?”
(QS. Al-Ma’un [107]: 1)

Menariknya, ayat ini tidak menyebut ateis atau penolak Tuhan. Justru yang disebut pendusta agama adalah mereka yang: mengabaikan anak yatim, tidak peduli orang miskin, menjalankan ibadah tanpa kepedulian sosial.

Artinya, agama bukan diuji di masjid, tetapi diuji dalam sistem sosial.

Islam sebagai Sistem Peradaban

Dalam kajian Syahida, Al-Qur’an menjelaskan bahwa risalah para nabi membawa misi yang sama: membangun sistem kehidupan yang adil.

Allah berfirman:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh…”
(QS. Asy-Syura [42]: 13)

Ayat ini menunjukkan kesinambungan sistem ilahi sejak Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa hingga Muhammad SAW.

Agama bukan proyek komunitas tertentu, tetapi arsitektur peradaban manusia.

Ciri sistem ilahi dalam Al-Qur’an meliputi:

  1. Tauhid → Kesatuan tujuan hidup
  2. Keadilan sosial → Distribusi kesejahteraan
  3. Amanah kekuasaan → Etika politik
  4. Keseimbangan alam → Ekologi spiritual
  5. Kemerdekaan manusia → Anti penindasan

Mengapa Dunia Modern Mengalami Krisis Sistem?

Al-Qur’an memberi diagnosis mendalam:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan para pemuka agama mereka sebagai tuhan selain Allah.”
(QS. At-Taubah [9]: 31)

Maknanya bukan penyembahan literal, tetapi ketika manusia mengganti hukum Allah dengan sistem buatan manusia yang zalim.

Hari ini, manusia tunduk pada: sistem ekonomi yang menindas, budaya konsumtif, kekuasaan tanpa moral, teknologi tanpa tanggung jawab spiritual.

Inilah bentuk baru penyimpangan agama: agama ada, tetapi sistem hidup tidak lagi Qur’ani.

Kembalinya Agama sebagai Sistem Kehidupan

Solusi Al-Qur’an bukan sekadar meningkatkan ritual, tetapi mengembalikan agama sebagai sistem hidup menyeluruh.

Allah menegaskan:

ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
“Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Islam kaffah berarti: ekonomi berkeadilan, pendidikan membebaskan, politik beretika, teknologi beradab, masyarakat berbasis rahmah.

Agama harus hadir dalam kebijakan publik, budaya kerja, pengelolaan alam, dan relasi sosial.

Dari Krisis Dunia Menuju Peradaban Rahmah

Krisis dunia modern sesungguhnya bukan krisis teknologi atau kemajuan, melainkan krisis sistem nilai.

Al-Qur’an tidak hanya mengajak manusia beriman, tetapi membangun dunia yang adil.

Agama bukan pelarian dari dunia, melainkan panduan mengelola dunia.

Jika agama kembali dipahami sebagai sistem ilahi, maka manusia tidak hanya selamat secara spiritual, tetapi juga mampu membangun peradaban yang damai, adil, dan berkelanjutan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya [21]: 107)

Catatan Redaksi – PPM Indonesia

Tulisan ini merupakan bagian dari Kajian Syahida: Qur’an bil Qur’an, yaitu metode memahami Al-Qur’an dengan menjelaskan ayat melalui ayat lainnya untuk menemukan sistem nilai ilahi yang utuh bagi transformasi masyarakat dan peradaban. (a mohammed)

Example 120x600