Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Otoritas Agama dan Kepentingan Golongan: Sebuah Refleksi Kritis*

2
×

Otoritas Agama dan Kepentingan Golongan: Sebuah Refleksi Kritis*

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran. Penulis; A Mohammed

Otoritas yang Menyatukan atau Memecah?

JAKARTA. PPMIndonesia.com-Sejarah agama-agama, termasuk Islam, menunjukkan bahwa persoalan otoritas sering menjadi titik temu sekaligus titik konflik. Otoritas diperlukan untuk menjaga arah dan kesatuan umat, tetapi ketika otoritas berubah menjadi alat legitimasi kelompok, ia dapat melahirkan perpecahan yang berkepanjangan.

Dalam sejarah Islam, perbedaan pandangan mengenai siapa yang paling berhak menafsirkan agama, siapa yang paling sah mewarisi kepemimpinan umat, dan sumber ajaran mana yang paling otoritatif telah melahirkan berbagai aliran dan mazhab. Sebagian perbedaan tersebut memperkaya khazanah intelektual Islam, namun tidak sedikit yang berkembang menjadi fanatisme golongan.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, tulisan ini mengajak pembaca meninjau kembali bagaimana Al-Qur’an memandang otoritas agama dan bagaimana manusia sering mencampurkannya dengan kepentingan kelompok.

 Al-Qur’an Menempatkan Wahyu sebagai Otoritas Tertinggi

Salah satu prinsip mendasar Al-Qur’an adalah bahwa otoritas tertinggi dalam agama berada pada Allah dan wahyu-Nya.

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

“Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.”(QS. Yusuf [12]: 40)**

Ayat ini menunjukkan bahwa sumber kebenaran tertinggi bukanlah individu, kelompok, atau lembaga tertentu, melainkan Allah sendiri melalui petunjuk yang diturunkan-Nya.

Karena itu, Al-Qur’an berulang kali mengarahkan manusia untuk kembali kepada wahyu ketika menghadapi perbedaan.

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”(QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an, kembali kepada Allah berarti kembali kepada wahyu-Nya, sementara kembali kepada Rasul berarti kembali kepada risalah yang beliau bawa.

Ketika Otoritas Menjadi Simbol Golongan

Masalah muncul ketika otoritas agama tidak lagi dipandang sebagai amanah untuk membimbing umat, melainkan sebagai alat untuk mengukuhkan identitas kelompok.

Al-Qur’an menggambarkan kecenderungan manusia untuk terpecah menjadi golongan-golongan yang saling membanggakan diri.

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”(QS. Ar-Rum [30]: 32)

Ayat ini menggambarkan fenomena yang tetap relevan hingga hari ini. Ketika loyalitas kepada kelompok lebih besar daripada loyalitas kepada kebenaran, agama berubah menjadi identitas sosial, bukan lagi jalan menuju Allah.

Akibatnya, yang dipertahankan bukan substansi ajaran, melainkan simbol dan kepentingan golongan.

Kritik Al-Qur’an terhadap Fanatisme Warisan

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia sering mengikuti tradisi tanpa menguji kebenarannya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”(QS. Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang masyarakat masa lalu. Ia juga menjadi cermin bagi umat beragama yang menerima pandangan kelompoknya tanpa melakukan refleksi kritis terhadap wahyu.

Dalam konteks modern, fanatisme tidak selalu berbentuk kesukuan. Ia dapat muncul dalam bentuk fanatisme mazhab, organisasi, tokoh, bahkan ideologi keagamaan.

Para Nabi Tidak Meminta Pengkultusan

Salah satu pelajaran penting dari Al-Qur’an adalah bahwa para nabi tidak pernah meminta dirinya dijadikan pusat loyalitas yang menggantikan Allah.

Tentang Nabi Muhammad ﷺ, Al-Qur’an menegaskan:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku.”(QS. Al-Kahfi [18]: 110)**

Ayat ini mengingatkan bahwa kemuliaan Rasulullah terletak pada risalah yang beliau sampaikan, bukan pada kultus personal.

Karena itu, otoritas agama sejati bukanlah penguasaan atas manusia, tetapi kemampuan mengarahkan manusia kepada Allah.

Ukuran Kebenaran Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak menjadikan kelompok sebagai ukuran keselamatan.

Ia menetapkan standar yang jauh lebih mendasar:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Ukuran kemuliaan bukanlah nama kelompok, garis keturunan, atau posisi sosial, melainkan kualitas ketakwaan.

Prinsip ini membebaskan agama dari monopoli siapa pun.

Perspektif Syahida: Otoritas sebagai Amanah, Bukan Kekuasaan

Kajian Syahida memandang bahwa krisis umat Islam saat ini bukan semata-mata krisis pemikiran, tetapi juga krisis cara memandang otoritas.

Banyak konflik muncul ketika otoritas agama diperlakukan sebagai hak eksklusif kelompok tertentu. Padahal Al-Qur’an mengajarkan bahwa ilmu, kepemimpinan, dan pengaruh sosial adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Karena itu, otoritas yang Qur’ani bukanlah otoritas yang menuntut pengkultusan, melainkan otoritas yang mengajak manusia berpikir, berdialog, dan kembali kepada wahyu.

Kembali kepada Kitabullah

Di tengah maraknya persaingan identitas dan klaim kebenaran, Al-Qur’an mengingatkan umat untuk kembali kepada sumber yang sama.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Ayat ini bukan sekadar seruan persatuan, tetapi juga seruan untuk menempatkan wahyu di atas kepentingan golongan.

Ketika Al-Qur’an kembali menjadi rujukan utama, otoritas agama akan berfungsi sebagai sarana pencerahan, bukan alat perpecahan. Dan ketika kepentingan kelompok tunduk kepada nilai-nilai wahyu, agama akan kembali menjalankan misi utamanya: membimbing manusia menuju keadilan, persaudaraan, dan kedamaian. (A mohammed)

Example 120x600