Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Berpegang Teguh kepada Tali Allah, Bukan kepada Fanatisme Golongan

4
×

Berpegang Teguh kepada Tali Allah, Bukan kepada Fanatisme Golongan

Share this article

Kajian Syahida Al-Qur'an Bil Al-Qur'an. Oleh; Syahida

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103)

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Mengapa umat Islam yang memiliki satu Tuhan, satu Nabi, dan satu kitab suci justru terpecah menjadi berbagai golongan?

Mengapa nama mazhab, organisasi, kelompok, bahkan tokoh agama sering kali lebih dikenal daripada ayat-ayat Al-Qur’an?

Fenomena ini bukan hanya terjadi pada masa kini. Al-Qur’an sendiri telah mengingatkan bahwa perpecahan merupakan penyakit lama yang menimpa umat-umat terdahulu. Yang menarik, solusi yang ditawarkan Al-Qur’an bukanlah membentuk golongan baru, melainkan kembali berpegang teguh kepada tali Allah.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan tali Allah? Apakah ia sebuah kelompok? Seorang tokoh? Sebuah mazhab? Ataukah sesuatu yang lain?

Kajian Syahida kali ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan metode Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, yaitu membiarkan Al-Qur’an menjelaskan makna suatu ayat melalui ayat-ayat lainnya.

Tali Allah Adalah Petunjuk yang Diturunkan Allah

Ayat yang paling sering dikutip tentang persatuan umat adalah firman Allah:

Firman Allah

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Kata اعتصموا (i’taṣimū) berarti berpegang erat, berlindung, dan menjadikan sesuatu sebagai pegangan keselamatan.

Namun Al-Qur’an tidak menjelaskan dalam ayat ini secara langsung apa yang dimaksud dengan ḥablullāh (tali Allah). Karena itu, untuk memahaminya kita harus melihat ayat-ayat lain yang berbicara tentang petunjuk Allah.

Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sebagai Petunjuk

Allah berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 2)

Kemudian Allah menegaskan:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 9)

Jika tali Allah adalah sesuatu yang menghubungkan manusia kepada petunjuk-Nya, maka Al-Qur’an secara tematik menunjukkan bahwa wahyu Allah itulah yang menjadi pegangan tersebut.

Berpegang Teguh kepada Kitab Allah

Al-Qur’an bahkan menggunakan istilah berpegang teguh secara langsung.

Firman Allah

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

“Dan orang-orang yang berpegang teguh kepada Kitab dan mendirikan salat, sungguh Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

(QS. Al-A’raf [7]: 170)

Perhatikan objek yang diperintahkan untuk dipegang teguh.

Bukan mazhab.

Bukan organisasi.

Bukan tokoh.

Bukan keturunan tertentu.

Tetapi Kitab Allah.

Ini merupakan penjelasan Al-Qur’an terhadap makna “berpegang kepada tali Allah”.

Mengapa Allah Melarang Perpecahan?

Setelah memerintahkan berpegang kepada tali Allah, Allah langsung melarang perpecahan.

Mengapa?

Karena ketika manusia meninggalkan wahyu, mereka akan menggantinya dengan identitas kelompok.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۝ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan. Setiap golongan merasa bangga terhadap apa yang ada pada mereka.”

(QS. Ar-Rum [30]: 31–32)

Ayat ini sangat relevan dengan kondisi umat pada berbagai zaman.

Setiap kelompok merasa paling benar.

Setiap kelompok memiliki tokoh yang diagungkan.

Setiap kelompok memiliki simbol yang dibela.

Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa kebanggaan terhadap golongan justru menjadi penyebab perpecahan agama.

Fanatisme Membutakan Manusia

Fanatisme bukanlah penyakit baru.

Al-Qur’an mencatat bahwa umat-umat terdahulu pun terpecah setelah datang ilmu kepada mereka.

Firman Allah

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

“Mereka tidak berpecah belah kecuali setelah datang ilmu kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka.”

(QS. Asy-Syura [42]: 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa sumber utama perpecahan bukanlah kurangnya ilmu, melainkan dominasi hawa nafsu, ambisi, dan kepentingan.

Ilmu yang tidak disertai ketundukan kepada Allah justru dapat menjadi alat pembenaran bagi fanatisme.

Ukuran Kebenaran Bukan Banyaknya Pengikut

Dalam kehidupan beragama sering muncul anggapan bahwa suatu kelompok pasti benar karena memiliki pengikut yang banyak.

Al-Qur’an justru mengingatkan:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”

(QS. Al-An’am [6]: 116)

Kebenaran tidak diukur dari jumlah pengikut, usia tradisi, atau popularitas tokoh.

Ukurannya adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah.

Jalan Keluar dari Perpecahan

Ketika terjadi perselisihan, Al-Qur’an memberikan solusi yang sederhana tetapi sangat mendasar.

Firman Allah

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ

“Apabila kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah.”

(QS. An-Nisa’ [4]: 59)

Kembali kepada Allah berarti kembali kepada wahyu yang diturunkan-Nya.

Allah juga berfirman:

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ

“Dan inilah Kitab yang Kami turunkan yang penuh berkah, maka ikutilah ia.”

(QS. Al-An’am [6]: 155)

Dengan demikian, penyelesaian perselisihan menurut Al-Qur’an bukanlah memperkuat fanatisme terhadap golongan masing-masing, melainkan menguji setiap pendapat dengan Kitab Allah.

Al-Qur’an Mengajak Persatuan, Bukan Penyeragaman

Persatuan yang diajarkan Al-Qur’an bukan berarti menghapus keberagaman manusia.

Yang dipersatukan adalah sumber petunjuknya.

Allah berfirman:

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya umat ini adalah umatmu yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”

(QS. Al-Anbiya’ [21]: 92)

Kesatuan umat dibangun di atas penghambaan kepada Allah dan komitmen terhadap wahyu-Nya, bukan di atas kesamaan identitas organisasi, mazhab, atau budaya.

Refleksi Kajian Syahida

Melalui pendekatan Al-Qur’an Bil Al-Qur’an, terlihat bahwa istilah “tali Allah” selalu berhubungan dengan petunjuk yang berasal dari Allah sendiri, yaitu wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya.

Karena itu, ketika seorang mukmin lebih mengutamakan identitas kelompok daripada Al-Qur’an, atau lebih membela nama golongannya daripada kebenaran wahyu, maka sesungguhnya ia sedang menjauh dari semangat ayat yang memerintahkan untuk berpegang teguh kepada tali Allah.

Persatuan sejati tidak lahir dari kesamaan label, tetapi dari kesediaan semua pihak untuk tunduk kepada Kitab Allah sebagai rujukan bersama.

Penutup

Di tengah banyaknya mazhab, organisasi, aliran, dan tokoh yang mewarnai perjalanan umat Islam, Al-Qur’an tetap mengajarkan satu prinsip yang sederhana namun mendasar: berpegang teguhlah kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.

Tali Allah bukanlah simbol golongan, bukan pula identitas kelompok tertentu, melainkan petunjuk yang Allah turunkan melalui Kitab-Nya. Selama Al-Qur’an dijadikan pusat rujukan, perbedaan dapat diselesaikan dengan dialog yang jujur dan pencarian kebenaran. Sebaliknya, ketika fanatisme golongan lebih diutamakan daripada wahyu, perselisihan akan terus berulang.

Maka setiap muslim patut merenungkan kembali sebuah pertanyaan yang sangat mendasar:

Apakah yang selama ini kita pegang adalah tali Allah, atau justru tali fanatisme yang kita ikat sendiri?

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Wallāhu a’lam bish-shawāb.(syahida)

Example 120x600