BEKASI, PPMIndonesia.com – Di tengah meningkatnya volume sampah yang menjadi persoalan hampir di setiap daerah, sebuah gerakan perubahan mulai tumbuh dari lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga. Berangkat dari keyakinan bahwa perubahan besar harus dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) terus mendorong lahirnya gerakan pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat melalui program Desa Zero Waste.
Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Ekoenzim dan Komposting Sampah Rumah Tangga Menuju Zero Waste yang diselenggarakan PPM Bekasi pada Rabu (10/6/2026). Kegiatan ini diikuti oleh para ibu rumah tangga, pegiat lingkungan, dan kader masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sampah dan kelestarian lingkungan.
Mengusung slogan “Kecilkan Sampahmu, Besarkan Manfaatmu”, pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya PPM membangun gerakan lingkungan yang berkelanjutan dari tingkat rumah tangga hingga skala nasional.
Sampah Bukan Musuh, Tetapi Sumber Daya
Selama bertahun-tahun, sampah dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang dan dijauhkan dari kehidupan masyarakat. Tidak sedikit orang yang menganggap sampah sebagai sumber masalah yang tidak memiliki nilai apa pun.
Padahal, menurut PPM, paradigma tersebut perlu diubah. Sampah, khususnya sampah organik rumah tangga, sesungguhnya memiliki potensi besar apabila dikelola dengan benar.
Melalui pelatihan ini, peserta diperkenalkan pada konsep bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah proses konsumsi, melainkan awal dari proses pemanfaatan kembali yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan maupun ekonomi keluarga.
“Ketika masyarakat mampu mengubah sampah menjadi produk yang bermanfaat, maka persoalan lingkungan sekaligus persoalan ekonomi dapat diselesaikan secara bersamaan,” ujar salah satu peserta pelatihan.
Belajar Mengolah Sampah Menjadi Ekoenzim dan Kompos
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pelatihan langsung mengenai pembuatan ekoenzim dan kompos rumah tangga yang dipandu oleh Menik Soemarsroh, aktivis PPM sekaligus pemerhati lingkungan.
Ekoenzim merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran yang memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan sehari-hari.
Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai:
- Pembersih lantai alami.
- Sabun cair ramah lingkungan.
- Deterjen dan pelembut alami.
- Karbol alami.
- Pupuk cair organik.
- Pengurang pencemaran lingkungan.
Selain ekoenzim, peserta juga diajarkan cara membuat kompos rumah tangga yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman sekaligus mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPS maupun TPA.
Pelatihan dilakukan secara sederhana agar mudah dipraktikkan oleh masyarakat dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar rumah.
Gerakan Zero Waste Dimulai dari Rumah
PPM meyakini bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah dalam skala besar. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran dan kebiasaan baru di tingkat masyarakat.
Karena itu, program Desa Zero Waste yang dikembangkan PPM menempatkan rumah tangga sebagai titik awal perubahan.
Setiap keluarga didorong untuk melakukan langkah sederhana, seperti memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos atau ekoenzim, serta mengurangi penggunaan barang sekali pakai.
Melalui pendekatan tersebut, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan dapat berkurang secara signifikan.
“Jika satu rumah mampu mengurangi satu kilogram sampah setiap hari, maka ribuan rumah dapat mengurangi ribuan kilogram sampah setiap harinya. Inilah kekuatan perubahan berbasis masyarakat,” ujar Menik Soemarsroh dalam sesi pelatihan.
Menyiapkan Kader Pelopor Desa Zero Waste
Kegiatan Bimtek ini juga menjadi bagian dari proses pembentukan Kader PPM Pelopor Desa Zero Waste.
Para peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Mereka diharapkan mampu mengajak keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar untuk mempraktikkan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Menurut PPM, keberadaan kader lingkungan menjadi kunci keberhasilan gerakan karena mereka hadir langsung di tengah masyarakat dan memahami kondisi lingkungan setempat.
Melalui kaderisasi yang berkelanjutan, PPM berharap gerakan pengelolaan sampah dapat berkembang dari tingkat RT dan RW menuju desa, kecamatan, kabupaten, hingga menjadi gerakan nasional.
Bagian dari Gerakan Nasional Zero Waste
Pelatihan ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Zero Waste Berbasis Citarum Harum yang sedang dikembangkan oleh PPM sebagai model penyelesaian persoalan sampah dari hulu hingga hilir.
Gerakan tersebut menitikberatkan pada tiga aspek utama, yaitu perubahan perilaku masyarakat, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan penguatan partisipasi warga.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap konsep Citarum Next Generation, sebuah inisiatif yang diusulkan PPM untuk memperkuat program pelestarian lingkungan melalui pembentukan generasi pelopor lingkungan hidup.
Dengan pendekatan tersebut, persoalan sampah tidak lagi dilihat semata sebagai urusan kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Deklarasi Komitmen Bersama
Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta mengikuti Deklarasi Komitmen Kader PPM Pelopor Desa Zero Waste.
Dalam deklarasi tersebut, para peserta berkomitmen untuk:
- Memilah sampah mulai dari rumah sendiri.
- Membuat dan memelihara ekoenzim secara berkelanjutan.
- Membuat kompos rumah tangga.
- Mengurangi sampah yang dibuang ke TPS dan TPA.
- Menjadi teladan bagi masyarakat sekitar.
- Mendukung terwujudnya Desa Zero Waste yang bersih, sehat, dan produktif.
Peserta juga menetapkan target selama 90 hari ke depan untuk menerapkan seluruh pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dan mendokumentasikan hasilnya sebagai bagian dari gerakan perubahan yang lebih luas.
Perubahan Besar Berawal dari Langkah Kecil
Gerakan yang dibangun PPM mengajarkan bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan tindakan besar dan mahal. Perubahan dapat dimulai dari dapur rumah, dari ember kompos sederhana, dari kebiasaan memilah sampah, dan dari kesediaan untuk mengubah pola hidup sehari-hari.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, semangat gotong royong dan peranserta masyarakat tetap menjadi modal utama untuk menciptakan perubahan.
Karena itu, slogan yang digaungkan dalam kegiatan ini bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan ajakan nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia:
“Kecilkan Sampahmu, Besarkan Manfaatmu.”Pasti Berkah, Masa Depan Cerah.”
Melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, PPM percaya bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia yang bersih, sehat, dan berbudaya Zero Waste bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. (acank)




























