Scroll untuk baca artikel
Akademi PPM

Sangkerta: Ruang Berkesenian yang Tumbuh dari Semangat Peranserta Masyarakat

29
×

Sangkerta: Ruang Berkesenian yang Tumbuh dari Semangat Peranserta Masyarakat

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

JAKARTA.PPMIndonesia.com – Di tengah geliat kehidupan seni Yogyakarta yang dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Indonesia, terdapat sebuah komunitas yang lahir bukan dari ruang akademik atau institusi seni formal, melainkan dari semangat kebersamaan dan partisipasi masyarakat. Komunitas itu bernama Sangkerta, akronim dari Sanggar Kesenian Peranserta.

Bagi sebagian kalangan, nama Sangkerta mungkin tidak sepopuler kelompok-kelompok seni besar yang tumbuh di Yogyakarta. Namun dalam perjalanan panjang gerakan pemberdayaan masyarakat yang dirintis Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), Sangkerta memiliki tempat tersendiri sebagai ruang kreativitas, laboratorium kebudayaan, sekaligus wadah pembelajaran bagi banyak seniman muda.

Berawal dari Trotoar Malioboro

Kisah Sangkerta bermula pada pertengahan dekade 1980-an. Saat itu, sejumlah aktivis seni dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang tergabung dalam lingkungan PPM menggelar pertunjukan sederhana di trotoar Malioboro, tepatnya di depan Gedung DPRD DIY.

Momentum tersebut bertepatan dengan perayaan Jumenengan Sri Sultan Hamengku Buwana X. Berbagai bentuk ekspresi seni ditampilkan secara kolaboratif di ruang publik. Pembacaan puisi dipadukan dengan musik modern, pertunjukan ansambel, hingga aktivitas melukis wajah yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Keesokan harinya, para seniman menggelar arak-arakan budaya mengelilingi Benteng Keraton menggunakan gerobak panjang yang diiringi musik patrol sebagai bagian dari tradisi mangayubagya Jumenengan Sri Sultan.

Apa yang awalnya hanya sebuah peristiwa seni sederhana ternyata melahirkan semangat baru. Dari sanalah tumbuh kesadaran bahwa seni dapat menjadi ruang perjumpaan, partisipasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Saat itu komunitas tersebut masih dikenal dengan nama Dhe’Sangar, sebelum kemudian berkembang dan resmi menggunakan nama Sangkerta (Sanggar Kesenian Peranserta).

Lahir dari Rahim Gerakan PPM

Sangkerta berdiri sekitar tahun 1985 sebagai badan otonom seni budaya di bawah naungan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan oleh Ali Mustofa Trajutisna bersama sejumlah tokoh gerakan sosial lainnya.

Jika PPM bergerak dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, ekonomi rakyat, dan pengorganisasian sosial, maka Sangkerta menjadi ruang ekspresi kebudayaan yang menghidupkan nilai-nilai tersebut melalui seni.

Di sinilah seni dipandang bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen perubahan sosial. Seni menjadi media pendidikan masyarakat, sarana membangun kesadaran, sekaligus alat memperkuat solidaritas sosial.

Bersama tokoh-tokoh seperti Badrus Zaman, Totong Lis, Nunik Tasnim Haryani, dan almarhum Ali Mustofa, Ki Mujar menjadi salah satu sosok yang merintis dan mengembangkan Sangkerta hingga dikenal luas di kalangan pegiat seni Yogyakarta.

Rumah bagi Mereka yang Belum Memiliki Ruang

Sejak awal berdirinya, Sangkerta membawa misi yang sederhana namun kuat: menyediakan ruang bagi siapa saja yang ingin berkarya.

Pada masa itu, tidak semua seniman muda memiliki akses terhadap galeri, panggung pertunjukan, atau institusi seni formal. Banyak mahasiswa seni rupa, desain, sastra, maupun pelaku seni independen yang memiliki kemampuan kreatif, tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan karya mereka.

Sangkerta hadir menjembatani kebutuhan tersebut.

Tidak ada sekat yang membedakan latar belakang pendidikan, profesi, ataupun status sosial. Akademisi, seniman otodidak, penulis, pekerja seni, bahkan anak-anak jalanan dapat bertemu dalam ruang yang sama untuk belajar, berdiskusi, dan berkolaborasi.

Semangat inilah yang menjadikan Sangkerta berbeda. Seni tidak ditempatkan sebagai ruang eksklusif, melainkan sebagai ruang partisipatif yang terbuka bagi masyarakat luas.

Menghidupkan Kembali Teater Pelajar

Salah satu kontribusi penting Sangkerta dalam perkembangan seni Yogyakarta adalah penyelenggaraan Festival Teater Pelajar Tingkat SLTA pada pertengahan 1990-an.

Saat itu aktivitas teater pelajar mengalami masa kevakuman. Minimnya ruang pertunjukan membuat banyak kelompok teater sekolah kehilangan kesempatan untuk tampil dan berkembang.

Melihat kondisi tersebut, Sangkerta mengambil inisiatif untuk menghadirkan festival yang mempertemukan para pelajar dari berbagai sekolah.

Festival ini berlangsung selama tiga tahun berturut-turut dan mendapat sambutan luas dari masyarakat seni Yogyakarta. Tidak sedikit aktor, sutradara, maupun pekerja seni yang kemudian tumbuh dan berkembang dari ruang-ruang kreatif yang dibangun melalui festival tersebut.

Pada setiap penyelenggaraan festival, Teater Sangkerta juga menampilkan pertunjukan sebagai penutup acara, sekaligus menjadi media pembelajaran bagi generasi muda yang ingin mendalami dunia teater.

Berkesenian dengan Semangat Kolaborasi

Perjalanan Sangkerta tidak berhenti pada dunia teater.

Sanggar ini aktif menyelenggarakan pameran seni rupa, performance art, pertunjukan musik, instalasi seni, hingga produksi program budaya dan sinetron di TVRI.

Yang menarik, hampir seluruh proses kreatif dilakukan secara mandiri. Mulai dari riset lapangan, penyusunan naskah, latihan, hingga pementasan dikerjakan bersama oleh para anggota komunitas.

Budaya gotong royong menjadi nafas utama dalam setiap proses berkesenian.

Model kerja seperti ini tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga membangun kapasitas individu, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, dan rasa tanggung jawab sosial di antara para anggotanya.

Seni sebagai Jalan Pemberdayaan

Apa yang dilakukan Sangkerta sesungguhnya sejalan dengan filosofi besar PPM: membangun masyarakat melalui partisipasi.

Jika banyak orang memandang seni sebagai aktivitas estetik semata, Sangkerta menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana pemberdayaan yang efektif.

Melalui seni, masyarakat belajar mengemukakan gagasan, mengorganisasi kegiatan, menghargai perbedaan, serta membangun kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam konteks tersebut, seni bukan hanya menghasilkan pertunjukan atau karya visual, tetapi juga melahirkan manusia-manusia yang memiliki kepedulian sosial, kreativitas, dan keberanian untuk terlibat dalam perubahan.

Menjaga Api yang Tetap Menyala

Atas dedikasinya dalam dunia seni dan budaya, Mujar memperoleh gelar kehormatan “Ki” sebagai bentuk penghargaan atas kiprahnya sebagai pendidik dan penggerak kebudayaan.

Namun lebih dari sekadar gelar, warisan terbesar yang ditinggalkan oleh Ki Mujar dan para pendiri Sangkerta adalah semangat untuk menjadikan seni sebagai ruang perjumpaan dan pemberdayaan.

Hari ini, ketika dunia seni menghadapi tantangan baru akibat perubahan teknologi, budaya digital, dan pergeseran pola interaksi sosial, nilai-nilai yang dibangun Sangkerta justru semakin relevan.

Bahwa seni harus tetap dekat dengan masyarakat.

Bahwa kreativitas harus memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

Dan bahwa partisipasi masyarakat adalah fondasi utama dalam membangun peradaban yang berbudaya.

Empat dekade setelah kelahirannya, Sangkerta tetap menjadi pengingat bahwa gerakan besar sering kali lahir dari ruang-ruang sederhana. Dari trotoar Malioboro, dari semangat gotong royong, dan dari keyakinan bahwa seni dapat menjadi jalan untuk memanusiakan manusia.

Sangkerta bukan sekadar sanggar seni. Ia adalah ruang peranserta, ruang pembelajaran, dan ruang harapan yang terus hidup dalam denyut kebudayaan masyarakat. (ppmindonesia)

Example 120x600