JAKARTA.PPMIndonesia.com – Tidak semua peristiwa bersejarah lahir di ruang-ruang megah. Ada kalanya sejarah justru ditulis di trotoar jalan, di bawah langit malam, dan di hadapan masyarakat yang berhenti sejenak untuk menyaksikan sebuah pertunjukan sederhana.
Begitulah salah satu kisah yang dikenang dalam perjalanan lahirnya Sangkerta (Sanggar Kesenian Peranserta), komunitas seni budaya yang tumbuh dari rahim Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) pada pertengahan dekade 1980-an di Yogyakarta.
Di antara berbagai peristiwa yang menjadi tonggak awal perjalanan Sangkerta, ada satu malam yang hingga kini masih hidup dalam ingatan para perintisnya. Malam itu, seorang penyair muda bernama Ahmad Mukhlis membacakan puisi di trotoar Malioboro dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Ketika Malioboro Menjadi Panggung
Pada masa itu, Malioboro bukan hanya pusat perdagangan dan wisata, tetapi juga ruang perjumpaan para seniman, budayawan, mahasiswa, dan aktivis yang menjadikan jalanan sebagai ruang berekspresi.
Di depan Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, sejumlah seniman menggelar pertunjukan terbuka. Tidak ada panggung permanen, tidak ada tata cahaya profesional, dan tidak ada batas antara pemain dengan penonton.
Yang ada hanyalah semangat untuk menghadirkan seni di tengah masyarakat.
Dalam suasana itulah Ahmad Mukhlis tampil membacakan puisi.
Namun, pembacaan puisi malam itu tidak berlangsung seperti biasanya.
Ketika Lampu Dipadamkan
Menurut penuturan para perintis Sangkerta, Ahmad Mukhlis menginginkan agar pembacaan puisinya menghadirkan pengalaman yang lebih kuat bagi para penonton. Atas inisiatif dan upayanya, lampu penerangan di sekitar lokasi pertunjukan dipadamkan untuk beberapa saat.
Sesaat kemudian, suasana Malioboro berubah.
Keramaian jalan perlahan menjadi hening. Dalam temaram malam, suara puisi mengalun tanpa gangguan cahaya yang berlebihan. Penonton larut dalam kata-kata, sementara ruang publik seolah berubah menjadi panggung teater terbuka.
Ketika pembacaan puisi berakhir, lampu penerangan kembali dinyalakan. Tepuk tangan pun pecah dari para penonton yang menyaksikan pertunjukan tersebut.
Peristiwa sederhana itu menjadi salah satu momen yang paling dikenang dalam sejarah awal Sangkerta. Bukan semata karena efek artistiknya, melainkan karena keberanian menghadirkan seni yang dekat dengan masyarakat, tanpa sekat dan tanpa kemewahan.
Dari Sebuah Pertunjukan Menjadi Gerakan
Malam itu bukan hanya tentang pembacaan puisi.
Berbagai bentuk ekspresi seni dipertemukan dalam satu ruang. Musik, teater, seni rupa, dan pertunjukan kolaboratif menyatu di tengah hiruk-pikuk Malioboro.
Masyarakat bukan sekadar menjadi penonton, tetapi ikut merasakan denyut kreativitas yang lahir dari ruang publik.
Dari pengalaman itulah tumbuh keyakinan bahwa seni dapat menjadi media membangun kebersamaan, memperkuat kepedulian sosial, dan menghidupkan partisipasi masyarakat.
Semangat tersebut kemudian berkembang menjadi Sangkerta (Sanggar Kesenian Peranserta), sebuah komunitas seni budaya yang bernaung di bawah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).
Seni yang Membuka Ruang
Sejak awal berdirinya, Sangkerta tidak pernah membatasi siapa yang boleh berkarya.
Mahasiswa, seniman otodidak, penulis, musisi, aktivis, hingga masyarakat umum memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan berkolaborasi.
Sangkerta lahir dari keyakinan bahwa kreativitas tidak ditentukan oleh latar belakang pendidikan ataupun status sosial, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar dan berkarya.
Nilai itulah yang kemudian menjadikan Sangkerta berkembang sebagai ruang alternatif bagi para seniman muda yang belum memperoleh kesempatan tampil di institusi seni formal.
Warisan Sebuah Malam
Lebih dari empat puluh tahun telah berlalu sejak malam itu.
Trotoar Malioboro telah banyak berubah. Generasi berganti, wajah kota terus berkembang, dan dunia seni memasuki era digital.
Namun semangat yang lahir dari malam pembacaan puisi Ahmad Mukhlis tetap hidup.
Ia menjadi pengingat bahwa karya besar sering kali bermula dari keberanian melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi bermakna.
Bahwa ruang publik dapat menjadi ruang belajar.
Bahwa seni mampu menyatukan masyarakat.
Dan bahwa sebuah komunitas besar dapat lahir dari satu malam yang dipenuhi keberanian untuk berkarya.
Malam itu bukan sekadar malam pembacaan puisi.
Malam itu adalah salah satu pijakan awal perjalanan Sangkerta—sebuah ruang berkesenian yang tumbuh dari semangat peranserta masyarakat dan hingga kini tetap menjadi bagian dari sejarah gerakan kebudayaan PPM.(ppmindonesia)





























