EDITORIAL
JAKARTA.PPMIndonesia.com- Indonesia sering dibayangkan sebagai sebuah bangsa besar karena luas wilayahnya, jumlah penduduknya, kekayaan alamnya, serta keberagaman budaya yang dimilikinya. Namun, kebesaran sebuah bangsa sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh ukuran wilayah atau besarnya angka pertumbuhan ekonomi.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang masyarakatnya mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Di balik gedung-gedung tinggi, pusat industri, jalan tol, kawasan ekonomi, dan berbagai proyek pembangunan, terdapat kehidupan masyarakat yang menjadi fondasi sesungguhnya dari negara ini: petani di desa, nelayan di pesisir, pedagang kecil di pasar, pelaku UMKM, pekerja, komunitas pemuda, perempuan penggerak masyarakat, dan berbagai kelompok warga yang setiap hari menghidupkan ekonomi serta kehidupan sosial.
Merekalah wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Karena itu, jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang kuat, pembangunan tidak boleh hanya berbicara tentang pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan harus berbicara tentang manusia yang berdaya.
Masyarakat Bukan Objek Pembangunan
Selama bertahun-tahun, pembangunan sering menggunakan pendekatan dari atas ke bawah.
Pemerintah membuat program, anggaran disiapkan, kemudian masyarakat menjadi penerima.
Pendekatan semacam itu mungkin dapat menghasilkan program secara cepat. Tetapi tidak selalu menghasilkan kemandirian.
Masyarakat terkadang hanya diposisikan sebagai penerima bantuan, bukan sebagai pemilik gagasan dan pelaku perubahan.
Padahal masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, kebutuhan, dan potensi yang tidak selalu diketahui oleh pembuat kebijakan.
Karena itu, pembangunan perlu mengubah cara pandang:
masyarakat bukan objek pembangunan. Masyarakat adalah subjek pembangunan.
Masyarakat harus dilibatkan sejak awal—mulai dari mengenali persoalan, menyusun kebutuhan, merancang solusi, melaksanakan program, hingga mengevaluasi hasilnya.
Inilah hakikat peranserta masyarakat.
Pemberdayaan Bukan Sekadar Bantuan
Bantuan dapat menyelesaikan persoalan hari ini.
Tetapi pemberdayaan harus mampu membangun kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan hari esok.
Seorang petani yang terus-menerus menerima bantuan mungkin dapat bertahan dalam satu musim. Tetapi seorang petani yang memperoleh pengetahuan, akses teknologi, akses permodalan, akses pasar, kelembagaan yang kuat, serta pendampingan yang tepat akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan kehidupannya secara mandiri.
Demikian pula masyarakat miskin.
Yang mereka butuhkan bukan hanya belas kasihan, tetapi kesempatan untuk berkembang.
Karena itu, pemberdayaan harus berorientasi pada peningkatan kemampuan, bukan menciptakan ketergantungan.
Kekuatan Indonesia Ada di Desa
Indonesia tidak dibangun hanya dari Jakarta atau kota-kota besar.
Indonesia tumbuh dari desa.
Di desa terdapat pangan, sumber daya alam, kebudayaan, tenaga kerja, pengetahuan lokal, serta modal sosial yang luar biasa.
Namun desa juga menghadapi berbagai tantangan: keterbatasan akses pasar, rendahnya nilai tambah hasil pertanian, migrasi generasi muda, keterbatasan teknologi, hingga persoalan lingkungan.
Karena itu, pembangunan desa tidak boleh berhenti pada pembangunan infrastruktur.
Desa harus dibangun menjadi pusat kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat yang mandiri.
Petani harus memiliki posisi tawar.
Koperasi harus tumbuh dari kebutuhan masyarakat.
UMKM harus terhubung dengan pasar.
Pemuda desa harus mendapatkan ruang untuk berinovasi.
Perempuan harus memiliki akses terhadap pengembangan ekonomi.
Dan kekayaan alam desa harus dikelola secara berkelanjutan.
Ekonomi Kerakyatan Harus Tumbuh dari Bawah
Ekonomi yang kuat tidak hanya ditandai dengan besarnya perusahaan dan investasi.
Ekonomi yang sehat juga ditandai oleh kuatnya ekonomi rakyat.
Warung kecil, pasar tradisional, koperasi, UMKM, pertanian keluarga, usaha komunitas, dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat merupakan bagian penting dari struktur ekonomi nasional.
Karena itu, kebijakan ekonomi harus memberikan ruang yang adil bagi masyarakat untuk berkembang.
Koperasi, misalnya, seharusnya lahir dari kebutuhan dan kesadaran masyarakat.
Koperasi bukan sekadar badan usaha yang dibentuk karena program pemerintah. Ia harus menjadi wadah masyarakat untuk menggabungkan kekuatan ekonomi mereka.
Prinsipnya sederhana:
masyarakat berkumpul karena memiliki kebutuhan bersama, kemudian membangun kekuatan bersama untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Inilah ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya.
Petani Berdaya, Indonesia Berdaulat Pangan
Tidak mungkin berbicara tentang ketahanan pangan tanpa berbicara tentang kesejahteraan petani.
Petani adalah salah satu kelompok masyarakat yang menjaga kehidupan bangsa setiap hari.
Namun ironisnya, mereka sering menghadapi persoalan biaya produksi, harga hasil panen, akses teknologi, kepemilikan lahan, permodalan, dan pasar.
Jika petani tidak sejahtera, generasi muda akan semakin enggan menjadi petani.
Jika generasi muda meninggalkan pertanian, siapa yang akan memproduksi pangan Indonesia?
Karena itu, pemberdayaan petani harus menjadi agenda strategis pembangunan nasional.
Petani membutuhkan pengetahuan, teknologi, kelembagaan, perlindungan harga, akses pasar, dan kesempatan memperoleh nilai tambah dari hasil produksinya.
Petani tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah. Petani harus menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi yang memberikan kesejahteraan.
Masyarakat Berdaya dan Lingkungan Terjaga
Pemberdayaan masyarakat juga tidak boleh dipisahkan dari lingkungan.
Masyarakat yang hidup dari pertanian membutuhkan tanah yang subur dan air yang bersih.
Nelayan membutuhkan laut yang sehat.
Masyarakat perkotaan membutuhkan udara yang bersih dan sistem pengelolaan sampah yang baik.
Artinya, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan ekologis.
Ia juga merupakan persoalan ekonomi dan keberlanjutan kehidupan.
Masyarakat harus dilibatkan dalam menjaga sungai, hutan, tanah, sumber air, dan kawasan pesisir.
Teknologi dapat digunakan untuk memperkuat pengawasan lingkungan. Tetapi teknologi tidak akan cukup tanpa masyarakat yang memiliki kesadaran dan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Digitalisasi Harus Memperkuat Masyarakat
Di era digital, pemberdayaan juga harus memasuki ruang baru.
Petani dapat menggunakan teknologi untuk memperoleh informasi harga.
UMKM dapat memperluas pasar melalui perdagangan digital.
Komunitas desa dapat mempromosikan potensi wisata.
Anak muda dapat mengembangkan usaha berbasis teknologi.
Pengetahuan masyarakat dapat didokumentasikan dan disebarluaskan.
Namun, digitalisasi jangan sampai hanya menjadikan masyarakat sebagai konsumen teknologi.
Masyarakat harus menjadi pelaku dan pemilik manfaat dari transformasi digital.
Teknologi harus memperluas kesempatan, bukan memperlebar kesenjangan.
Kader dan Aktivis Harus Hadir Bersama Masyarakat
Dalam tradisi Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), pemberdayaan bukan sekadar konsep.
Ia adalah jalan pengabdian.
Kader tidak cukup hanya berbicara tentang masyarakat. Kader harus hadir bersama masyarakat.
Mendengarkan.
Belajar.
Bekerja.
Mendampingi.
Dan membangun bersama.
Kader pemberdayaan bukanlah orang yang datang dengan membawa semua jawaban.
Kader justru harus mampu membantu masyarakat menemukan jawaban atas persoalan mereka sendiri.
Karena masyarakat memiliki pengalaman hidup yang sangat kaya.
Di situlah prinsip pemberdayaan menemukan maknanya: membangun kekuatan dari dalam masyarakat itu sendiri.
Gotong Royong adalah Modal Sosial Bangsa
Indonesia memiliki kekuatan yang tidak selalu tercatat dalam statistik ekonomi: gotong royong.
Gotong royong merupakan modal sosial yang memungkinkan masyarakat menghadapi persoalan bersama.
Ketika jalan desa rusak, masyarakat dapat memperbaikinya bersama.
Ketika terjadi bencana, warga saling membantu.
Ketika seorang tetangga mengalami kesulitan, masyarakat hadir.
Ketika kelompok masyarakat memiliki kebutuhan ekonomi yang sama, mereka dapat membangun koperasi.
Spirit inilah yang harus terus dirawat.
Modernisasi tidak boleh menghilangkan solidaritas.
Digitalisasi tidak boleh menghapus pertemuan sosial.
Pembangunan tidak boleh membuat masyarakat kehilangan rasa kebersamaan.
Indonesia 2045 dan Masyarakat yang Berdaya
Indonesia memiliki cita-cita besar menuju 2045.
Namun Indonesia Emas tidak akan lahir hanya karena pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi.
Indonesia Emas harus dibangun oleh manusia Indonesia yang:
berilmu, mandiri, produktif, berkarakter, berkeadilan, dan memiliki kepedulian sosial.
Karena itu, pembangunan manusia harus menjadi pusat dari pembangunan nasional.
Sekolah penting.
Teknologi penting.
Infrastruktur penting.
Ekonomi penting.
Tetapi semuanya harus bermuara pada satu tujuan:
meningkatkan kemampuan manusia untuk menjalani kehidupan yang bermartabat.
Dari Peranserta Menuju Peradaban
Pemberdayaan pada akhirnya bukan sekadar program.
Ia adalah proses membangun peradaban.
Masyarakat yang berdaya tidak mudah dipermainkan.
Masyarakat yang berpengetahuan tidak mudah dibohongi.
Masyarakat yang mandiri tidak mudah diperbudak oleh ketergantungan.
Masyarakat yang bersatu tidak mudah dipecah.
Dan masyarakat yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosial akan mampu menjaga kehidupan bersama.
Inilah alasan mengapa pemberdayaan masyarakat harus ditempatkan sebagai salah satu fondasi pembangunan Indonesia.
Penutup
Indonesia besar tidak dimulai dari gedung yang tinggi.
Indonesia besar dimulai dari manusia yang memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Indonesia besar dimulai dari petani yang sejahtera.
Dari nelayan yang mandiri.
Dari UMKM yang berkembang.
Dari koperasi yang benar-benar dimiliki anggota.
Dari desa yang mampu mengelola potensinya.
Dari pemuda yang memiliki ruang untuk berkarya.
Dari perempuan yang memiliki kesempatan untuk berdaya.
Dari masyarakat yang mampu bergotong royong menyelesaikan persoalannya.
Dan dari kader-kader yang memilih jalan pengabdian daripada sekadar mengejar posisi.
PPM meyakini bahwa peranserta masyarakat bukan pelengkap pembangunan. Peranserta masyarakat adalah kekuatan pembangunan itu sendiri.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang kuat bukan bangsa yang masyarakatnya selalu menunggu bantuan.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang masyarakatnya mampu membantu dirinya sendiri, saling menguatkan, dan bersama-sama membangun masa depan.
Dari masyarakat yang berdaya, lahirlah desa yang mandiri.
Dari desa yang mandiri, tumbuh ekonomi rakyat.
Dari ekonomi rakyat yang kuat, lahirlah bangsa yang berdaulat.
Dan dari masyarakat yang berdaya itulah, Indonesia besar benar-benar dimulai. (ppmindonesia)





























