Scroll untuk baca artikel
BeritaEditorial

PPM DAN TANTANGAN MEMBANGUN PERADABAN DIGITAL

6
×

PPM DAN TANTANGAN MEMBANGUN PERADABAN DIGITAL

Share this article

Editorial PPMIndonesia.com. Editor: asyary

Editorial PPMIndonesia.com

Teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi peradaban ditentukan oleh bagaimana manusia menggunakan perubahan itu untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna.

JAKARTA.PPMIndonesia.com – Suatu pagi, seorang anak muda duduk di sudut warung kopi.

Di tangannya sebuah telepon genggam.

Jarinya bergerak cepat dari satu layar ke layar berikutnya. Ia membaca berita, menonton video, mengirim pesan, mengikuti percakapan di media sosial, memeriksa harga barang, lalu berpindah ke ruang digital lainnya.

Dalam beberapa menit, ia telah berhubungan dengan begitu banyak hal.

Dengan orang yang berada di sebelahnya.

Dengan teman yang tinggal di kota lain.

Dengan informasi dari berbagai negara.

Dengan pasar.

Dengan pengetahuan.

Dengan hiburan.

Bahkan dengan peristiwa yang sedang terjadi di belahan dunia yang jauh.

Dunia seolah berada di dalam genggaman.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih besar:

Apakah masyarakat yang semakin terhubung secara digital juga semakin terhubung secara sosial?

Apakah teknologi membuat manusia semakin berdaya?

Ataukah justru semakin bergantung?

Apakah ruang digital hanya menjadi tempat mengonsumsi informasi?

Ataukah dapat menjadi ruang baru untuk belajar, berorganisasi, membangun ekonomi, mengembangkan kebudayaan, dan menciptakan perubahan?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus mulai dibaca oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).

Sebab digitalisasi bukan sekadar perubahan teknologi.

Ia adalah perubahan kebudayaan.

Dan ketika kebudayaan berubah, cara manusia membangun peradaban pun ikut berubah.

KETIKA RUANG KEHIDUPAN BERPINDAH

Dulu masyarakat bertemu di balai desa.

Di teras rumah.

Di pasar.

Di masjid.

Di warung.

Di lapangan.

Di sanggar.

Di ruang-ruang tempat manusia berbicara secara langsung.

Dari pertemuan semacam itu lahir cerita.

Dari cerita lahir kepercayaan.

Dari kepercayaan lahir kerja sama.

Dari kerja sama lahir organisasi.

Dan dari organisasi lahir gerakan sosial.

Kini sebagian dari ruang itu berpindah ke layar.

Orang bertemu melalui grup percakapan.

Berdiskusi melalui forum digital.

Berjualan melalui platform.

Belajar melalui video.

Bekerja dari jarak jauh.

Membangun komunitas tanpa harus berada dalam satu tempat.

Perubahan tersebut membuka kemungkinan yang sangat besar.

Tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan baru.

Jika ruang sosial berubah, bagaimana cara masyarakat membangun kebersamaan?

Pertanyaan ini penting bagi gerakan yang sejak awal menjadikan masyarakat sebagai subjek perubahan.

DIGITALISASI BUKAN SEKADAR MEMINDAHKAN KEGIATAN KE INTERNET

Kesalahan yang sering terjadi dalam memahami transformasi digital adalah menganggap digitalisasi sekadar memindahkan kegiatan lama ke media baru.

Rapat yang dahulu dilakukan di ruangan dipindahkan ke konferensi video.

Pengumuman yang dahulu ditempel di papan dipindahkan ke media sosial.

Brosur dicetak menjadi poster digital.

Kegiatan tatap muka didokumentasikan lalu diunggah.

Semua itu memang bagian dari digitalisasi.

Tetapi transformasi digital seharusnya lebih jauh.

Teknologi harus mengubah cara kita belajar, bekerja, berorganisasi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan.

Karena itu, tantangan PPM bukan sekadar memiliki akun media sosial.

Bukan sekadar memiliki situs web.

Bukan sekadar membuat grup percakapan.

Yang lebih penting adalah:

bagaimana teknologi menjadi alat untuk memperkuat peranserta masyarakat.

MASYARAKAT TETAP MENJADI SUBJEK

Teknologi dapat membuat sesuatu menjadi lebih cepat.

Informasi lebih mudah diperoleh.

Komunikasi lebih murah.

Jaringan lebih luas.

Tetapi teknologi tidak otomatis membuat masyarakat menjadi lebih berdaya.

Sebuah komunitas dapat memiliki akses internet yang baik tetapi tetap tidak mampu mengorganisasi dirinya.

Sebuah kelompok usaha dapat memiliki toko daring tetapi tidak memahami pasar.

Sebuah organisasi dapat memiliki banyak pengikut di media sosial tetapi tidak memiliki gerakan nyata di lapangan.

Karena itu, ukuran keberhasilan digitalisasi tidak cukup dilihat dari jumlah pengikut, jumlah unggahan, atau banyaknya perangkat yang digunakan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apa yang menjadi lebih kuat setelah teknologi digunakan?

Apakah pengetahuan masyarakat meningkat?

Apakah akses pasar semakin terbuka?

Apakah kelembagaan semakin kuat?

Apakah kader semakin terhubung?

Apakah masyarakat semakin mampu mengambil keputusan?

Jika jawabannya tidak, maka teknologi mungkin hanya menjadi alat komunikasi.

Belum menjadi alat pemberdayaan.

DARI FOLLOWER MENJADI PARTISIPAN

Dunia digital memperkenalkan sebuah ukuran baru: jumlah pengikut.

Seseorang dapat memiliki ribuan bahkan jutaan followers.

Sebuah organisasi dapat memperoleh banyak likes.

Sebuah video dapat ditonton jutaan kali.

Namun popularitas tidak selalu sama dengan partisipasi.

Orang dapat menyukai sebuah gagasan tanpa pernah melakukan apa pun.

Orang dapat membagikan informasi tanpa memahami isinya.

Orang dapat mengikuti sebuah organisasi tanpa pernah terlibat dalam gerakannya.

Karena itu, PPM perlu membawa makna peranserta ke dalam ruang digital.

Bukan hanya membangun followers.

Tetapi membangun participants.

Bukan hanya orang yang melihat.

Tetapi orang yang berpikir.

Bukan hanya orang yang berkomentar.

Tetapi orang yang bekerja.

Bukan hanya orang yang membagikan konten.

Tetapi orang yang ikut membangun perubahan.

Di sinilah konsep peranserta memperoleh bentuk baru.

DARI MASYARAKAT DIGITAL MENJADI MASYARAKAT BELAJAR

Salah satu peluang terbesar teknologi adalah kemampuannya memperluas ruang belajar.

Dahulu pengetahuan sering terkonsentrasi di sekolah, kampus, perpustakaan, atau lembaga tertentu.

Kini pengetahuan dapat ditemukan hampir di mana saja.

Seorang petani dapat mempelajari teknik budidaya baru.

Pelaku UMKM dapat belajar pemasaran digital.

Pemuda desa dapat mempelajari desain.

Komunitas dapat belajar mengelola lingkungan.

Kader dapat mengikuti diskusi dari berbagai daerah.

Tetapi banyaknya informasi juga membawa persoalan.

Tidak semua informasi benar.

Tidak semua sumber dapat dipercaya.

Tidak semua pengetahuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, masyarakat digital membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menggunakan teknologi.

Masyarakat membutuhkan kemampuan belajar, memilah, memeriksa, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan.

Di sinilah literasi digital harus dipahami sebagai bagian dari pemberdayaan.

DUNIA DIGITAL JUGA MEMILIKI ARUS BAWAH

Jika kebudayaan merupakan arus bawah kehidupan masyarakat, maka digitalisasi juga perlahan membentuk arus bawah baru.

Cara orang memandang keberhasilan mulai berubah.

Cara orang berkomunikasi berubah.

Cara orang mencari pekerjaan berubah.

Cara orang membangun hubungan berubah.

Cara orang mendapatkan informasi berubah.

Bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri ikut dipengaruhi oleh dunia digital.

Algoritma dapat menentukan apa yang kita lihat.

Platform dapat memengaruhi bagaimana kita berinteraksi.

Tren dapat membentuk selera.

Informasi yang berulang dapat membentuk persepsi.

Karena itu, transformasi digital tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan perangkat.

Ia menyentuh wilayah yang jauh lebih dalam:

nilai, kebiasaan, cara berpikir, dan kebudayaan.

Jika tidak disadari, masyarakat bukan hanya menggunakan teknologi.

Masyarakat dapat perlahan-lahan dibentuk oleh teknologi.

TEKNOLOGI HARUS MENJADI ALAT, BUKAN TUJUAN

Di sinilah prinsip dasar gerakan pemberdayaan tetap penting.

Teknologi hanyalah alat.

Tujuan akhirnya tetap manusia.

Teknologi harus membantu petani menjadi lebih kuat.

Membantu pedagang memperluas pasar.

Membantu koperasi mengelola anggota.

Membantu masyarakat memperoleh informasi.

Membantu kader membangun jaringan.

Membantu komunitas menjaga lingkungan.

Membantu generasi muda menemukan ruang kreativitas.

Jika teknologi justru membuat manusia semakin kehilangan kendali atas hidupnya, maka kita perlu bertanya kembali tentang arah digitalisasi.

Kemajuan teknologi tidak boleh diukur hanya dari seberapa canggih perangkat yang digunakan.

Kemajuan harus dilihat dari seberapa besar teknologi memperluas kemampuan manusia.

KOPERASI DAN EKONOMI RAKYAT DI RUANG DIGITAL

Perubahan digital juga membawa tantangan besar bagi ekonomi rakyat.

Pasar tradisional bertemu dengan marketplace.

Warung bertemu dengan platform digital.

Produk lokal berhadapan dengan produk dari berbagai wilayah.

Pedagang kecil mendapatkan peluang pasar yang lebih luas.

Tetapi sekaligus menghadapi persaingan yang semakin terbuka.

Dalam situasi ini, masyarakat tidak cukup hanya diajarkan cara membuka toko daring.

Mereka perlu memahami ekosistem digital.

Bagaimana membangun merek.

Bagaimana mengelola data.

Bagaimana membaca pasar.

Bagaimana mengelola keuangan.

Bagaimana membangun jaringan distribusi.

Dan yang tidak kalah penting:

bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat posisi ekonomi rakyat, bukan sekadar menjadikan masyarakat sebagai pengguna platform.

Koperasi dapat mengambil peran penting di sini.

Koperasi bukan hanya lembaga ekonomi.

Ia dapat menjadi ruang untuk mengorganisasi pelaku ekonomi kecil agar memiliki posisi yang lebih kuat dalam ekosistem digital.

KADERISASI DI TENGAH GENERASI DIGITAL

PPM memiliki sejarah kaderisasi.

Tetapi generasi yang tumbuh hari ini berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka hidup dalam dunia yang serba cepat.

Belajar melalui video.

Berkomunikasi melalui pesan singkat.

Membangun identitas melalui media sosial.

Mengenal dunia melalui layar.

Mereka memiliki cara belajar yang berbeda.

Cara bekerja yang berbeda.

Cara membangun jaringan yang berbeda.

Karena itu, kaderisasi tidak cukup dilakukan dengan memindahkan materi lama ke platform digital.

Kaderisasi harus memahami cara generasi baru berpikir dan belajar.

Namun adaptasi tidak berarti kehilangan nilai.

Justru tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai PPM seperti peranserta, kemandirian, gotong royong, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada masyarakat dapat menemukan bahasa baru yang dipahami generasi digital.

Nilainya tetap.

Cara menyampaikannya yang berubah.

DARI KADER DIGITAL MENJADI PENGGERAK DIGITAL

Kader digital bukan sekadar orang yang pandai menggunakan media sosial.

Ia bukan hanya pembuat konten.

Bukan pula sekadar administrator grup.

Kader digital adalah orang yang mampu membawa nilai gerakan ke dalam ruang digital.

Ia mampu membaca persoalan.

Memeriksa informasi.

Membangun percakapan.

Menghubungkan komunitas.

Mengorganisasi partisipasi.

Mengembangkan pengetahuan.

Dan yang paling penting, mampu menghubungkan dunia digital dengan realitas masyarakat.

Sebab perubahan tidak terjadi hanya di layar.

Dunia digital harus kembali menghasilkan tindakan di dunia nyata.

DARI KONTEN MENUJU GERAKAN

Kita hidup dalam zaman ketika setiap orang dapat menjadi pembuat konten.

Satu foto.

Satu video.

Satu tulisan.

Satu komentar.

Semuanya dapat menyebar dalam hitungan detik.

Tetapi gerakan sosial membutuhkan lebih dari konten.

Konten dapat menarik perhatian.

Gerakan membutuhkan partisipasi.

Konten dapat membangun kesadaran.

Gerakan membutuhkan organisasi.

Konten dapat menjadi viral.

Gerakan membutuhkan ketekunan.

Karena itu, tantangan PPM adalah mengubah ruang digital dari sekadar ruang publikasi menjadi ruang pengorganisasian masyarakat.

Tulisan menjadi bahan diskusi.

Diskusi menjadi kesadaran.

Kesadaran menjadi pertemuan.

Pertemuan menjadi organisasi.

Organisasi menjadi tindakan.

Dan tindakan menjadi perubahan.

KEBUDAYAAN DIGITAL DAN GOTONG ROYONG

Apakah gotong royong dapat hidup di ruang digital?

Jawabannya bukan sekadar ya atau tidak.

Pertanyaannya adalah bagaimana.

Gotong royong mungkin tidak lagi selalu berbentuk orang berkumpul membawa cangkul.

Ia dapat berupa penggalangan pengetahuan.

Pengumpulan dana untuk kepentingan bersama.

Kolaborasi desain.

Berbagi informasi pasar.

Membantu promosi produk warga.

Mengembangkan aplikasi komunitas.

Membuka jaringan antarwilayah.

Bahkan mengorganisasi aksi lingkungan.

Teknologinya berbeda.

Tetapi semangatnya dapat tetap sama.

Dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat.

Inilah pekerjaan kebudayaan yang penting: menemukan bentuk baru dari nilai lama.

TANTANGAN ETIKA DI RUANG DIGITAL

Peradaban digital juga membawa persoalan yang tidak sederhana.

Berita palsu.

Manipulasi informasi.

Perundungan digital.

Eksploitasi data.

Kecanduan layar.

Polarisasi sosial.

Budaya pamer.

Konsumsi berlebihan.

Kecepatan informasi yang tidak selalu diikuti kedalaman pemahaman.

Semua itu menunjukkan bahwa teknologi membutuhkan etika.

Masyarakat tidak cukup hanya menjadi digital savvy.

Masyarakat juga harus memiliki digital wisdom.

Kemampuan untuk mengetahui kapan harus berbicara.

Kapan harus berhenti.

Apa yang perlu dibagikan.

Apa yang harus diperiksa.

Dan bagaimana menggunakan kebebasan digital dengan tanggung jawab sosial.

Di sinilah pembangunan peradaban digital sesungguhnya dimulai.

PPM DAN RUANG DIGITAL SEBAGAI RUANG PEMBERDAYAAN

Bagi PPM, ruang digital seharusnya tidak dipandang sebagai dunia yang terpisah dari gerakan masyarakat.

Ia adalah ruang baru tempat masyarakat hidup.

Karena itu PPM perlu hadir di sana.

Bukan sekadar untuk mempertahankan eksistensi organisasi.

Tetapi untuk membuka ruang baru bagi:

  • pendidikan,
  • kaderisasi,
  • ekonomi rakyat,
  • kebudayaan,
  • lingkungan,
  • jejaring masyarakat,
  • dan partisipasi publik.

Namun kehadiran digital harus tetap memiliki akar.

Jangan sampai PPM menjadi sangat aktif di dunia maya tetapi semakin jauh dari masyarakat nyata.

Ruang digital harus menjadi jembatan.

Bukan pengganti kehidupan masyarakat.

DARI AKAR RUMPUT KE RUANG DIGITAL

PPM memiliki pengalaman panjang bekerja dari bawah.

Dari masyarakat.

Bersama masyarakat.

Pengalaman tersebut justru menjadi modal penting memasuki era digital.

Sebab teknologi dapat berubah sangat cepat.

Platform dapat berganti.

Aplikasi dapat hilang.

Algoritma dapat berubah.

Tetapi kebutuhan dasar masyarakat tetap ada.

Masyarakat membutuhkan pendidikan.

Membutuhkan pekerjaan.

Membutuhkan keadilan.

Membutuhkan lingkungan yang sehat.

Membutuhkan ruang untuk berorganisasi.

Membutuhkan kesempatan untuk menentukan masa depan.

Karena itu, PPM tidak perlu kehilangan identitas ketika memasuki dunia digital.

Justru akar rumput itulah yang harus dibawa ke ruang digital.

Akar tetap di masyarakat. Jaringan diperluas melalui teknologi.

PENUTUP

Membangun Peradaban, Bukan Sekadar Mengikuti Teknologi

Pada akhirnya, tantangan PPM di era digital bukanlah pertanyaan:

Seberapa canggih teknologi yang kita gunakan?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Peradaban seperti apa yang ingin kita bangun dengan teknologi itu?”

Sebab teknologi dapat digunakan untuk mempercepat apa saja.

Mempercepat perdagangan.

Mempercepat komunikasi.

Mempercepat pendidikan.

Tetapi juga dapat mempercepat penyebaran kebencian, informasi palsu, konsumsi berlebihan, dan konflik sosial.

Teknologi tidak menentukan dengan sendirinya ke mana manusia akan pergi.

Manusialah yang menentukan arah penggunaannya.

Karena itu, pembangunan peradaban digital harus tetap dimulai dari manusia.

Dari nilai.

Dari kebudayaan.

Dari pendidikan.

Dari kelembagaan.

Dari etika.

Dan dari kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi.

PPM memiliki tantangan untuk menerjemahkan warisan gerakannya ke dalam bahasa zaman baru.

Peranserta harus menemukan bentuk digitalnya.

Gotong royong harus menemukan ruang digitalnya.

Kaderisasi harus menemukan metode barunya.

Koperasi harus memasuki ekosistem ekonomi digital.

Kebudayaan harus menemukan cara baru untuk hidup di tengah teknologi.

Dan masyarakat harus tetap menjadi subjek, bukan sekadar pengguna.

Sebab jika teknologi hanya membuat masyarakat menjadi konsumen informasi, maka kita baru memiliki masyarakat digital.

Tetapi jika teknologi mampu memperkuat kemampuan masyarakat untuk belajar, berorganisasi, bekerja sama, menciptakan nilai, menjaga lingkungan, dan menentukan masa depannya sendiri, maka kita mulai membangun sesuatu yang lebih besar:

peradaban digital.

Peradaban yang tidak hanya cepat, tetapi juga manusiawi.

Tidak hanya terkoneksi, tetapi juga saling terhubung.

Tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana menggunakannya.

Dan tidak hanya menghasilkan kemajuan teknologi, tetapi juga memperkuat martabat manusia.

Di situlah PPM perlu berdiri.

Bukan di belakang teknologi.
Bukan pula menjadi pengikut perubahan.
Tetapi hadir sebagai gerakan masyarakat yang ikut menentukan arah perubahan.

Dari akar rumput menuju ruang digital.

Dari peranserta menuju partisipasi digital.

Dari kaderisasi menuju generasi penggerak baru.

Dan dari kebudayaan yang hidup menuju peradaban digital yang berakar pada kekuatan masyarakat.

Teknologi boleh mengubah cara kita hidup. Tetapi masyarakat harus tetap menentukan untuk apa perubahan itu digunakan. (ppmindonesia)

PPM — Meneguhkan Peranserta, Menguatkan Kaderisasi, Membangun Peradaban.

Example 120x600