Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mengikuti Nur yang Diturunkan Bersama Rasulullah: Pesan QS Al-A’raf 157

3
×

Mengikuti Nur yang Diturunkan Bersama Rasulullah: Pesan QS Al-A’raf 157

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran, Oleh; Syahida

Al-Qur’an menghubungkan keimanan kepada Rasulullah dengan sikap memuliakan, menolong, dan mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya. Apa makna pesan tersebut bagi kehidupan umat Islam hari ini?

Bukan Sekadar Mengakui Rasul, tetapi Mengikuti Risalahnya

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Mencintai dan menghormati Rasulullah SAW merupakan bagian penting dari keimanan seorang Muslim. Berbagai bentuk penghormatan diwujudkan melalui shalawat, salam, meneladani akhlak, dan mengikuti ajaran yang beliau sampaikan.

Namun, Al-Qur’an memberikan gambaran yang lebih luas mengenai orang-orang yang memperoleh keberuntungan karena mengikuti Rasulullah. Mereka bukan hanya beriman kepada beliau, tetapi juga memuliakan, menolong, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya.

Pesan tersebut terdapat dalam Surah Al-A’raf ayat 157. Salah satu bagian penting ayat ini adalah frasa wa-ttaba‘ū an-nūra alladzī unzila ma‘ahu—dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya.

Apa yang dimaksud dengan cahaya tersebut? Bagaimana hubungannya dengan wahyu, iman, dan kehidupan manusia?

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, Kajian Syahida mencoba menelusuri pesan itu dengan membaca QS Al-A’raf ayat 157 bersama sejumlah ayat lain yang berbicara tentang wahyu dan nur.

QS Al-A’raf Ayat 157: Mengikuti Rasul dan Cahaya yang Dibawanya

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya:

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari yang mungkar, yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban serta belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-A’raf [7]: 157, terjemahan makna)

Ayat ini menggambarkan beberapa karakter orang yang mengikuti Rasulullah. Mereka beriman kepada beliau, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti an-nūr yang diturunkan bersamanya.

Ada satu hal yang menarik. Al-Qur’an tidak hanya menyebut keimanan dan penghormatan kepada Rasul, tetapi juga secara khusus menyebut tindakan mengikuti cahaya yang dibawanya.

Frasa alladzī unzila ma‘ahu berarti “yang diturunkan bersamanya”. Dalam konteks ayat, cahaya tersebut berkaitan dengan wahyu dan petunjuk yang dibawa Rasulullah.

Dengan demikian, keberuntungan yang dijanjikan Allah tidak hanya dikaitkan dengan pengakuan terhadap Rasul, tetapi juga dengan kesediaan mengikuti petunjuk risalahnya.

Apa yang Dimaksud dengan Nur?

Untuk memahami istilah nur dalam QS Al-A’raf ayat 157, kita dapat membacanya bersama QS Asy-Syura ayat 52.

Allah SWT berfirman:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing kepada jalan yang lurus.”(QS Asy-Syura [42]: 52, terjemahan makna)

Ayat ini memberikan penjelasan penting tentang hubungan wahyu dan cahaya. Allah menyebut wahyu sebagai rūhan min amrinā, kemudian menyatakan bahwa Dia menjadikannya nūr, cahaya yang digunakan untuk memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya.

Ungkapan rūhan min amrinā secara harfiah berarti “ruh dari perintah Kami”. Para mufasir memberikan beberapa penjelasan mengenai makna ungkapan tersebut, antara lain mengaitkannya dengan wahyu Al-Qur’an yang menghidupkan hati dan memberikan petunjuk.

Dalam pembacaan tematik, QS Asy-Syura ayat 52 membantu menjelaskan bahwa cahaya yang diturunkan bersama Rasul bukan sekadar simbol atau ungkapan puitis. Ia berkaitan dengan wahyu yang menjadi petunjuk Allah bagi manusia.

Namun, ruh dan nur tidak harus dianggap sebagai dua kata yang selalu identik. Yang ditekankan ayat ini ialah hubungan wahyu dengan cahaya petunjuk yang berasal dari Allah.

Jika dibaca bersama QS Al-A’raf ayat 157, hubungan tersebut semakin jelas: Rasulullah membawa risalah wahyu, dan orang-orang yang beruntung adalah mereka yang mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya.

Nur yang Terang: Petunjuk dari Allah

Al-Qur’an juga menyebut cahaya yang diturunkan Allah dalam Surah An-Nisa ayat 174.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُم بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, telah sampai kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS An-Nisa [4]: 174, terjemahan makna)

Ayat ini menyebut burhān, yaitu bukti yang nyata, serta nūran mubīnā, cahaya yang terang.

Kehadiran cahaya dalam ayat tersebut memperlihatkan bahwa Allah memberikan petunjuk kepada manusia agar mereka tidak berjalan dalam kegelapan kebingungan dan kesesatan.

Jika QS Al-A’raf ayat 157 berbicara tentang mengikuti cahaya yang diturunkan bersama Rasul, QS An-Nisa ayat 174 menegaskan bahwa cahaya petunjuk berasal dari Allah.

Dari hubungan kedua ayat ini, dapat direnungkan bahwa mengikuti Rasul berarti bersungguh-sungguh mengikuti petunjuk Allah yang disampaikan melalui risalah beliau.

Karena itu, memahami ajaran Rasul tidak semestinya dilepaskan dari sumber wahyu yang menjadi dasar risalahnya.

Nur dalam Hati: Ketika Allah Melapangkan Dada

Cahaya petunjuk tidak hanya dibicarakan sebagai sesuatu yang diturunkan, tetapi juga sebagai sesuatu yang menerangi kehidupan batin manusia.

Allah SWT berfirman:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Artinya:

“Maka apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam, lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya, sama dengan orang yang hatinya membatu? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”(QS Az-Zumar [39]: 22, terjemahan makna)

Ayat ini menghubungkan kelapangan dada untuk menerima Islam dengan cahaya dari Tuhan. Sebaliknya, hati yang membatu digambarkan sebagai keadaan yang menjauhkan manusia dari mengingat Allah.

Dalam konteks mengikuti nur yang diturunkan bersama Rasul, ayat ini mengajak manusia melihat ke dalam dirinya sendiri.

Apakah hati kita terbuka terhadap kebenaran? Apakah kita bersedia menerima nasihat dan memperbaiki kesalahan? Ataukah kita justru mempertahankan pendapat sendiri sekalipun berhadapan dengan petunjuk yang lebih kuat?

Mengikuti cahaya wahyu membutuhkan kerendahan hati. Manusia tidak cukup hanya mengaku mencintai Rasulullah, tetapi juga perlu bersedia belajar dan mengamalkan nilai-nilai risalahnya.

Kelapangan dada bukan berarti manusia tidak pernah berbeda pendapat. Justru, keterbukaan terhadap petunjuk menuntut kesediaan berdialog, mempertimbangkan bukti, dan menghindari sikap merasa paling benar.

Mengikuti Nur Berarti Menjalani Jalan yang Lurus

QS Asy-Syura ayat 52 ditutup dengan penegasan bahwa Rasulullah membimbing manusia menuju jalan yang lurus.

Pernyataan tersebut dapat dihubungkan dengan QS Al-Baqarah ayat 257:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya:

“Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Sedangkan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”(QS Al-Baqarah [2]: 257, terjemahan makna)

Ayat ini menggambarkan perjalanan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan bimbingan Allah.

Kegelapan dapat direnungkan sebagai keadaan ketika manusia kehilangan arah, terjebak dalam kebodohan, ketidakadilan, kesombongan, dan tindakan yang merusak. Sementara cahaya menunjukkan petunjuk yang mengarahkan manusia kepada kebenaran dan kebaikan.

Tentu, makna zhulumāt dan nūr dalam Al-Qur’an memiliki cakupan yang luas dan tidak boleh disederhanakan hanya menjadi satu bentuk perilaku. Namun, pesan dasarnya jelas: Allah membimbing orang beriman keluar dari kegelapan menuju cahaya.

Dalam kehidupan sehari-hari, mengikuti petunjuk tersebut dapat tercermin dalam kejujuran, amanah, kepedulian terhadap sesama, penghormatan terhadap hak orang lain, serta keberanian memperbaiki keadaan.

Mengikuti Rasul Bukan Sekadar Mengagungkan Pribadinya

QS Al-A’raf ayat 157 juga menjelaskan karakter risalah Rasulullah. Beliau mengajak manusia mengerjakan yang makruf, mencegah yang mungkar, menghalalkan yang baik, mengharamkan yang buruk, serta membebaskan manusia dari beban dan belenggu.

Pesan ini menunjukkan bahwa risalah Rasul memiliki dimensi pembebasan dan perbaikan kehidupan.

Mengikuti Rasulullah berarti berusaha menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan. Menghormati beliau tidak cukup hanya diwujudkan melalui simbol, tetapi juga melalui kesediaan membangun kehidupan yang sesuai dengan petunjuk Allah.

Dalam konteks sosial, hal itu dapat diwujudkan melalui upaya membela keadilan, membantu masyarakat yang lemah, menjaga lingkungan, memperkuat persaudaraan, dan membangun kehidupan ekonomi yang tidak menindas.

Pengamalan nilai-nilai tersebut bukan pengganti ibadah ritual. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan beragama yang saling melengkapi.

Hubungannya dengan Perintah Bershalawat

Pembahasan mengenai mengikuti nur yang diturunkan bersama Rasul juga memiliki hubungan tematik dengan perintah bershalawat dalam QS Al-Ahzab ayat 56.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab [33]: 56, terjemahan makna)

Ayat ini secara tegas memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat dan memberikan salam kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam tradisi Islam, shalawat diwujudkan melalui doa dan ungkapan penghormatan kepada Rasulullah. Praktik ini memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam dan tidak perlu dipertentangkan dengan upaya mengikuti petunjuk wahyu.

Namun, jika QS Al-Ahzab ayat 56 dibaca bersama QS Al-A’raf ayat 157, muncul sebuah refleksi penting: kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah semestinya juga mendorong umat untuk mengikuti cahaya petunjuk yang beliau bawa.

Dengan kata lain, membaca shalawat dan mengamalkan risalah Rasul bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama sebagai ekspresi cinta dan kesetiaan kepada Nabi.

Kajian ini tidak menyatakan bahwa makna leksikal shalawat sama dengan mengikuti nur. Hubungan yang dibangun adalah hubungan tematik: perintah bershalawat kepada Rasul dapat dihayati lebih mendalam melalui perintah mengikuti petunjuk yang diturunkan bersamanya.

Dari Mengikuti Nur Menuju Perubahan Kehidupan

Jika seluruh ayat tersebut dibaca secara berkesinambungan, terdapat pesan yang saling melengkapi.

QS Al-A’raf ayat 157 menjelaskan keberuntungan orang yang beriman kepada Rasul, memuliakan dan menolongnya, serta mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya.

QS Asy-Syura ayat 52 menghubungkan wahyu dengan cahaya yang menjadi petunjuk. QS An-Nisa ayat 174 menyebut cahaya yang terang dari Allah. QS Az-Zumar ayat 22 menggambarkan manusia yang memperoleh cahaya dari Tuhannya setelah dadanya dilapangkan untuk menerima Islam. Sementara QS Al-Baqarah ayat 257 menjelaskan bimbingan Allah yang mengeluarkan orang beriman dari kegelapan menuju cahaya.

Rangkaian ayat tersebut menunjukkan bahwa mengikuti nur bukan sekadar pengakuan, melainkan proses menerima petunjuk dan menjadikannya pedoman kehidupan.

Di sinilah relevansi pesan Al-Qur’an bagi kehidupan masyarakat. Umat Islam dituntut menghadirkan nilai wahyu dalam tindakan: membangun keadilan, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat solidaritas, menjaga alam, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Cahaya petunjuk seharusnya membuat kehidupan manusia semakin terang, bukan justru melahirkan permusuhan, kesombongan, dan perpecahan.

Catatan Kajian Syahida: Mengikuti Cahaya, Menghidupkan Risalah

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, QS Al-A’raf ayat 157 memberikan pesan mendalam tentang hubungan antara keimanan kepada Rasulullah dan kesediaan mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya.

Cahaya tersebut dalam konteks kajian ini dipahami sebagai petunjuk wahyu yang dibawa Rasulullah. QS Asy-Syura ayat 52 menjelaskan hubungan wahyu dengan nur, sedangkan QS Az-Zumar ayat 22 menggambarkan bagaimana cahaya dari Allah hadir dalam kehidupan orang yang dilapangkan dadanya untuk menerima Islam.

Dari hubungan antarayat tersebut, Kajian Syahida menawarkan sebuah renungan: mencintai Rasulullah bukan hanya mengagungkan pribadi beliau, tetapi juga berusaha mengikuti petunjuk yang menjadi inti risalahnya.

Penghormatan melalui shalawat tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan umat Islam. Namun, kecintaan itu akan semakin bermakna ketika disertai kesungguhan menjalankan ajaran yang beliau sampaikan.

Pada akhirnya, mengikuti nur berarti terus belajar memahami wahyu, membuka hati terhadap kebenaran, dan menjadikan petunjuk Allah sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Sebab, cahaya yang diturunkan bersama Rasulullah bukan hanya untuk dibicarakan dan dikagumi, melainkan untuk diikuti. (Syahida)

Example 120x600