Scroll untuk baca artikel
Nasional

Solidaritas Sejati: Implementasi Ayat 30:28 dalam Menyelesaikan Konflik Umat

483
×

Solidaritas Sejati: Implementasi Ayat 30:28 dalam Menyelesaikan Konflik Umat

Share this article

ppmindonesia.com, Jakarta – Al-Qur’an memberikan arahan yang jelas dalam membangun hubungan antar manusia yang penuh kedamaian dan persatuan. Salah satu panduan itu terdapat dalam QS. 30:28, yang menegaskan standar solidaritas sejati dengan ungkapan “yakhoofunahum kahifatikum anfusakum” – yakni mencemaskan orang lain sebagaimana mencemaskan diri sendiri. Konsep ini merefleksikan tingkat kepedulian yang sangat tinggi, yang jika diterapkan, dapat menjadi fondasi perdamaian dunia.

Standar solidaritas ini tidak hanya menjadi nilai moral, tetapi juga solusi praktis dalam menyelesaikan konflik dan menghapus permusuhan. Dengan mengutamakan kecemasan terhadap kesejahteraan orang lain setara dengan kepedulian terhadap diri sendiri, sumber utama perselisihan seperti keserakahan dan egoisme dapat diatasi. Penghapusan kecenderungan jahat dalam diri manusia melalui rahmat Allah menjadi langkah awal dalam membangun masyarakat yang harmonis.

Urgensi Moralitas dalam Solidaritas

Membangun moralitas yang luhur di masyarakat adalah investasi besar yang hasilnya jauh lebih bernilai dibandingkan dengan kerugian yang ditimbulkan oleh konflik dan kezaliman. Ketika manusia memprioritaskan kepentingan bersama dan menjadikan rahmat Allah sebagai inti kehidupan, potensi konflik dapat diminimalkan. Program pemberantasan hawa nafsu yang merusak dengan kekuatan rahmat Allah merupakan kunci untuk mewujudkan standar solidaritas seperti yang diajarkan Al-Qur’an.

Sayangnya, sebagaimana disebutkan dalam QS. 30:29, tidak semua orang menerima konsep luhur ini. Sebagian memilih untuk memperturutkan hawa nafsu, dan orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu tidak akan mendapat petunjuk dari Allah (QS. 25:43, QS. 43:25). Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan solidaritas sejati memerlukan kesadaran dan komitmen dari individu untuk kembali kepada nilai-nilai fitrah yang telah Allah tetapkan.

Ad-Dien Fithratallah sebagai Solusi Universal

Q.S 30:30 menegaskan pentingnya kembali kepada agama fitrah manusia, “ad-dien fithratallah allatii fatharonnasa ‘alaiha,” sebagai solusi untuk mengatasi penolakan terhadap solidaritas. Agama fitrah ini adalah jalan yang telah Allah tetapkan bagi manusia, namun sayangnya banyak yang tidak memahaminya. Al-Qur’an memberikan langkah konkret untuk menegakkan agama fitrah ini:

  1. Kembali kepada Allah (muniibiina ilaihi): Mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada Allah sebagai sumber segala solusi.
  2. Bertakwa kepada Allah (wattaquuhu): Menjaga hubungan dengan Allah melalui ketaatan dan kesadaran akan tanggung jawab moral.
  3. Menegakkan shalat (wa aqiimus shalata): Menguatkan hubungan spiritual melalui ibadah yang khusyuk.
  4. Menghindari kemusyrikan (walaa takunuu minal musyrikiin): Menjauhi segala bentuk penyekutuan terhadap Allah, termasuk perpecahan dalam agama.

Tafarruq: Hambatan dalam Membangun Solidaritas

Salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan solidaritas sejati adalah kemusyrikan dalam bentuk tafarruq fiddien, atau perpecahan dalam agama, sebagaimana disebutkan dalam QS. 30:31-32 dan QS. 6:159. Perpecahan ini melahirkan golongan-golongan yang saling berbeda, di mana masing-masing merasa bangga dengan keyakinannya sendiri (kullu hizbin bimaa ladayhim farihun). Tafarruq fiddien telah menjadi penyakit kronis yang terus berlangsung dari generasi ke generasi, sehingga sering kali tidak lagi disadari sebagai masalah serius.

Perpecahan ini tidak hanya melemahkan kekuatan umat, tetapi juga membuka peluang bagi pihak-pihak luar untuk memanfaatkan situasi demi kepentingan mereka. Umat Islam yang terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil kehilangan daya tawar, bahkan menjadi mudah diadu domba. Padahal, jika umat Islam bersatu tanpa tafarruq, potensi luar biasa dapat terwujud. Total zakat, shadaqah, dan sumber daya lainnya dapat dikelola dengan lebih efektif untuk kemaslahatan bersama, sebagaimana dijelaskan dalam QS. 9:60 dan QS. 9:103.

Refleksi dan Langkah Ke Depan

Q.S 30:28 memberikan gambaran yang ideal tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap terhadap sesamanya. Namun, realitas menunjukkan bahwa penerapan standar ini menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam bentuk perpecahan (tafarruq) yang telah berlangsung lama. Umat Islam perlu melakukan refleksi mendalam untuk menyadari dampak buruk tafarruq dan berusaha mengatasinya dengan kembali kepada nilai-nilai Al-Qur’an.

Persatuan umat tidak hanya akan memperkuat posisi mereka di dunia, tetapi juga menjadi manifestasi nyata dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan mengedepankan solidaritas sejati, sebagaimana diajarkan dalam QS. 30:28, umat Islam dapat menjadi teladan dalam membangun perdamaian dan keadilan dunia. Langkah pertama adalah kembali kepada Allah, menegakkan shalat, bertakwa, dan menjauhi perpecahan yang merusak. Hanya dengan cara inilah umat dapat benar-benar merealisasikan potensi besar yang telah Allah tetapkan bagi mereka.(husni fahro)

Example 120x600